Tampilkan postingan dengan label IIDN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIDN. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2016

Mood itu...



Katanya kalau menulis gak boleh tergantung mood, to? Harus konsisten dan punya target, buat sebagian orang tampaknya mudah berdisiplin menulis dan menulis.

Tapi kok gak berlaku ya buat aku, pernah sih mencoba untuk pokoke nulis.  Entah itu akhirnya jadi draft saja, judul saja, atau jadi nggladrah tak terkira.
Tapi tetap saja akhirnya jadwal pokoke nulis itu tidak bisa kupatuhi. Mungkin karena aku memang cuma penulis abal-abal, jadi tidak bisa sekerenmereka yang bisa punya karya dan terus berkarya tanpa terpengaruh cuaca hati dan suasana jiwa.

Disiplin dengan tenggat waktu hanya bisa kulakukan kalau ada ‘keterikatan’ dengan pihak lain, misalnya: tugas kantor (namanya staf ya, jelas kapan harus ngumpul tugas dari atasan), tugas kuliah  (kalau ini karena jelas konsekuensinya, kalo telat ngumpul gak dapat nilai) , tesis (lha kalo gak dikerjakan, beasiswa keburu habis), proyek nulis bareng teman-teman (gak enak dong, mengganggu jalannya proyek karena keterlambatanku).  Selebihnya kalo  nulis itu untuk mengisi blog berdebu-ku itu kok ya tergantung mood nya ampun tak terkira.

Kalau lagi pengen nulis itu, jam berapa saja ya kujabanin melek.  Tapi kalo udah yang namanya gak minat, waktu seluang apapun kok ya gak bisa tertuang ke tulisan meski cuma selembar. Dan waktu dua setengah  tahun terakhir ini bisa dihitung dengan jari tulisanku di luar yang wajib-wajib tadi yang bisa nyampir di blog.  Cuma 16 tulisan dalam waktu 30 bulan, jadi hanya satu tulisan dalam dua bulan (ih, kebangetan)
Bandingkan dengan tahun 2012 yang bisa posting 99 tulisan yang artinya dalam satu bulan bisa posting 8 tulisan, satu minggu 2 tulisan, jadi tiap tiga hari sekali posting tulisan. Padahal waktu itu kerjaan kantor buanyaaaak.

Mencari pembenaran katanya ...katanya lho ini, kegelisahan hati akan menjadi pemantik paling cihuy untuk membangkitkan mood dan menyalurkannya dalam bentuk tulisan.  Kalo dipikir-pikir, dua setengah tahun terakhir ini aku ada kesempatan sekolah yang artinya tidak bersentuhan dengan rutinitas kerja yang (faktor X di luar kerjaan) bikin banyak pikiran.  Ketika sekolah kok kegelisahan hati hilang.....ujungnya gak terpantik untuk nulis....ha ...ha...ha....mencari pembenaran.

Etapi bisa juga sih, hari ini hari pertama kerja di tahun 2016. Masih menunggu keputusan penempatan kembali di mana aku bakal ditugaskan.  Kegelisahan hati menyelimuti daaaan....munculah tulisan ini.


Rabu, 18 Juni 2014

Kopdar IIDN Jogja 15 Juni 2014 “Tambah Ilmu Lagi”




Wuih, gak ada habisnya ngomongin serunya ketemu dengan para Ibu dan calon Ibu yang keren dan penuh semangat di IIDN Jogja nih.  Setelah beberapa Kopdar Ilegal yang dilakukan secara parsial oleh beberapa anggota di berbagai kesempatan, Ahad 15 Juni 2014 lalu IIDN Jogja mengadakan Kopdar  secara legal formal. 


Acara kali ini diselenggarakan di rumah Mak Enggar, yang mengaku setulegi (setengah tuwo lemu ginuk-ginuk) di rumah beliau yang asyik di Jalan Kaliurang Km 6,5. Tempatnya asyik, hanya berbelok beberapa ratus meter dari Jakal yang ramenya mulai runyam, masih ketemu rumah yang begitu buka pintu panoramanya adalah sawah, hmmmmm.....asyik. Kalo di rumah saya yang jelas di ujung timur mBantul, rumah dekat sawah sih biasa, tapi ini di Jakal Bro and Sist...Jakal !
Photo: when i miss u
Foto diambil dari sini
Inilah penampakan pemandangan sawah depan rumah Mak Enggar dengan model spesial Mbakyu Marul Prihastuti salah satu anggota IIDN Jogja yang huebooooh.


Haish sudahlah, kembali ke persoalan.  Undangan jam 9 dan Mbak Nopid selaku PJ Kopdar kali ini membuka acara pukul 09.05 WIB, molor 5 menit saja dari rencana semula, keren ya !


Bu Ketua Astuti Aja memulai acara dengan sambutan dan menyampaikan beberapa hal berikut:
  • Menyemangati untuk aktif di IIDN dan mengharapkan masing-masing anggota semakin aktif menghasilkan karya dan menemukan jodoh penerbit buku masing-masing.
  • Membahas Humas IIDN Jogja mbak Liya Swandari yang akan mengikuti suami di tempat tugas, kemudian meminta 4 kandidat anggota untuk berembug menjadi tim Humas IIDN Jogja
  • Pembagian Kartu Anggota IIDN tahap I, kartu anggota tahap II sedang dalam proses pembuatan dan akan segera dikirimkan ke Jogja. Anggota IIDN Jogja yang belum



Acara selanjutnya adalah share pengalaman pertama oleh Mbak Agoestina Soebachman dengan tema MENUJU SATUS TELULIKUR BUKU
Mbak Titin menceritakan sejarah menulisnya berawal dari SD dengan menyukai membaca. segala buku dibacanya, dengan punya banyak bahan dalam kepala, bisa menjadi referensi untuk menulis.  Pak Soebachman sang ayah merupakan penyemangat terbesar buat mbak Titin untuk terus membaca dan mulai menuangkannya dalam bentuk tulisan.  Kumpulan puisi adalah karya pertama Mbak Titin, belum dipublikasikan hanya untuk kalangan sendiri.  Merambah ke Majalah dinding sekolah, lalu berlanjut mengirim cerpen ke majalah serta puisi dan opini ke koran daerah. 

 Prinsip "MEMBACA ADALAH MODAL UNTUK MENULIS" Mbak Titin pegang betul, karenanya di waktu luang beliau selalu menyempatkan waktu untuk membaca apapun, meskipun topik yang dibaca terasa berat dan rasanya sulit dipahami tetapi ketika terus berusaha membacanya, pemahaman itu akan datang nantinya.

Dalam menulis bukunya, Mbak Titin menggunakan berbagai nama pena disesuaikan dengan genre tulisan. Biasanya nama asli digunakan untuk buku bertema serius, nama Oktavia Pramono dipakai untuk tulisan yang lebih ringan, nama Tina Fajarina untuk buku anak dan Adiba A Soebachman untuk buku agama.  Empat nama itu adalah nama utama, masih banyak nama lain yang dipakai Mbak Titin sebagai nama pena.

Beberapa poin penting yang menjadi pegangan mbak Titin dalam menulis antara lain:
  • Terus menulis dan menulis
  • Berdoa sebelum mulai menulis
  • Menuliskan hal-hal yang dapat memberikan manfaat untuk orang lain
  • Setelah ide matang di kepala baru buka laptop/PC untuk menuliskannya agar tidak terlalu lama membuang waktu di depan layar kosong dan memboroskan listrik
  • Temukan motivasi untuk menulis 
  •  Bertanggungjawab terhadap apapun yang telah ditulis 
  • Rajin mencatat ide dan membuat tabungan tulisan
Setelah share dari mbak Titin Bejo, dilanjutkan dengan tanya jawab asyik dengan anggota lain.  Ketika ditanya bagaimana jika ada pro dan kontra terhadap tulisan kita. Menurut Mbak Titin, pro dan kontra itu sangat wajar terjadi dan cukup disikapi sesuai dengan prinsip dan hati nurani penulis.  
Pertanyaan tentang bagaimana menentukan tarif naskah, dijawab Mbak Titin yang penting seorang penulis itu teguh hati  dan percaya diri.  Berani tawar-menawar secara wajar dan menghargai diri sendiri.

Setelah sesi tanya jawab dilanjutkan dengan pembagian hadiah untuk dua kuis di grup IIDN yaitu kuis selfie yang dimenangkan oleh Mbak Liya, Mbak Zukhruf, Mbak Sulis dan Mbak Titin gak pake Bejo

Selanjutnya adalah share  Mbak Ratih dari Penerbit Galang Press.  Mbak Ratih menyampaikan beberapa hal antara lain :

Mbak Ratih, gambar dari sini
  • Naskah apa saja yang saat ini sedang dibutuhkan di Galang Press.  
  • Pasar menuntut penulis buku menuliskan sesuai dengan latar belakang pendidikannya
  • Display di toko buku besar sekarang mulai per group sehingga banyak penerbit yang mulai membeli rak display sendiri, untuk saat ini Galang belum mempunyai space tersebut
  • Penulis buku sebaiknya juga melakukan active sellingtidak sekedar mengandalkan toko buku dan rajin mengecek di toko buku serta tidak segan menanyakan kepada penjaga toko dimana bukunya diletakkan, apabila di cek di stok masih banyak tetapi buku tak nampak di display
  • Saat ini buku inspirasi belum banyak sehingga tema-tema tertentu dapat dikemas dalam bentuk buku inspirasi yang tidak terlalu banyak saingan
  • Nama penulis dipertaruhkan saat pemasaran buku, meski isi buku bagus namun ketika jeblok di pasaran kadangkala mempengaruhi penerbitan buku penulis berikutnya
  • Dijelaskan kelebihan dan kekurangan sistem penerbitan dengan beli putus dan royalti, Mbak Ratih lebih menganjurkan sistem royalti karena naskah akan kembali ke penulis setelah dua tahun perjanjian dan naskah royalti "lebih dihargai" dibanding naskah beli putus.  Naskah beli putus akan menjadi hak penuh penerbit dan bisa "dioplos" dengan tulisan apapun tanpa mencantumkan lagi nama penulis
Setelah Mbak Ratih, selanjutnya giliran Mbak Fika Faila Sufa yang share tentang pengalaman menulisnya. Mbak Fika mulai menulis tahun 2012 namun saat ini sudah 9 buku yang terbit, dua antologi dan 7 buku solo.  Tujuh buku solo ini adalah buku resep masakan.  Mbak Fika bercerita bagaimana ia mengalahkan diri sendiri dengan selalu bertekad bekerja lebih keras saat berproses memasak dan mendokumentasikan step by step masakannya.  Awalnya Mbak Fika hanya mampu menyelesaikan dua menu dalam satu hari kemudian meningkat menjadi 40 menu dalam 10 hari dan terakhir rekor kecepatannya adalah 54 menu dalam 8 hari. Wow....sungguh suatu kerja keras dan tekad yang luar biasa!
 
Menurut Mbak Fika, beliau berproses menjadi lebih baik dalam setiap tahap menulisnya, utamanya dalam teknis pemotretan masakan.  Tips dari Mbak Fika adalah terus menggali kreatifitas, punya ciri khas sendiri dan membuat semuanya sendiri.  Selain ciri penulis yang akan dikenali pasar, akan ada kepuasan tersendiri ketika melewati seluruh proses kreatif ini.

Sebagai penulis, Mbak Fika menyarankan agar berani memberikan tawaran kepada penerbit. Komunikasikan sejak awal dan perjelas perjanjian di awal proses sehingga tidak akan mengganggu atau ada ganjalan dalam perjalanan penerbitan buku nantinya.  Setelah menemukan  keasyikan dalam menulis buku resep, Mbak Fika mulai merambah ke naskah fiksi yang kabarnya sudah acc juga dari penerbit. Wow lagi deh, sukses dan lancar ya Mbak Fika.....

Sesi Mbak Fika berakhir tepat pukul 12.00, jadi sudah waktunya untuk Ishoma menikmati hidangan yang disiapkan.  Sebenarnya sepanjang acara juga semua sudah menikmati camilan yang disediakan tuan rumah dan potluck bawaan dari anggota IIDN yang hadir.

Foto dari sini


Setelah makan nasi merah plus sayur bayam, trancam, bestik, sate keong, krupuk dan sambel lalu sholat. Acara dimulai lagi pukul 13.00.  Kali ini yang sharing adalah Mbak Tini. Anggota IIDN yang muda, energik dan prospektif ini menceritakan pengalamannya dalam membuat konsep buku. Ini berdasarkan pengalaman Mbak Tini saat bekerja di sebuah penerbitan kemudian beralih ke agensi naskah.

Ketika akan menentukan tema sebuah buku yang akan ditulis,sebaiknya penulis mempunyai konsep sendiri dengan cara :
  • Melihat trend pasar buku, yang dapat dilakukan dengan cek di internet maupun toko buku. Ada banyak ide yang dapat diadaptasi kemudian dikembangkan menjadi outline baru yang menaik.
  • Cari tema yang tidak mainstream. Hal ini dengan memperhatikan target pembaca serta tulisan yang disajikan dapat memberikan solusi bagi pembaca bukan sekedar informasi biasa-biasa saja
  • Tambahkan sesuatu yang unik dan baru
Mbak Tini, foto dari sini
Menurut Mbak Tini, penulis berhak memberikan masukan kepada penerbit untuk tampilan bukunya agar lebih 'menjual', misalkan dengan:
  • Tampilan lay out dan ilustrasi yang spesifik
  • Menambahkan hal unik seperti tips di tiap halaman
  • Usulan kemasan yang bagus  agar lebih menarik calon pembaca

 Penulis juga harus menghargai naskah dan diri sendiri, karena tulisan seorang penulis adalah tanggungjawab pribadinya secara penuh. Selain itu, penulis berhak meminta harga yang lebih untuk tulisannya jika :
  • Waktu pengerjaan singkat
  • Jumlah halaman yang banyak
  • Memerlukan ketrampilan khusus untuk mengerjakannya

Naaaah, jadi seharian itu banyak sekali ilmu yang dibagikan saat kopdar IIDN Jogja. Waktu sudah semakin siang, waktunya untuk membereskan potluck untuk dibagikan saat pulang dan tentu saja foto narsis bersama.

Terimakasih untuk mak Enggar atas segala kerepotannya menyediakan tempat dan makan siang.  Teman-teman hebat para narasumber yang berkenan membagikan ilmunya, anggota IIDN Jogja yang keren bin narsis dan AADN, anak-anak yang dengan sabar mengikuti kopdar dari awal sampai akhir.  

Sampai ketemu di kopdar IIDN Jogja yang pastinya seru dan penuh ilmu.  I love you all.....


Kamis, 06 Februari 2014

Kopdar IIDN Jogja 4 Februari 2014 Seru, Semangat, dan Manfaat



Buat saya, tiga kata itu yang bisa menggambarkan suasana Kopdar Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja yang berlangsung di basecamp IIDN Jogja Sanggrahan RT 1 RW 15 Tlogodadi, Mlati, Sleman.  Meski lokasinya berada di hampir ujung utara Jogja dan agak nylempit, tidak menyurutkan semangat peserta untuk hadir pada hari itu. 
Masing-masing pasti punya cerita spesial waktu pertama kali mencari lokasi, ada yang langsung nyampe, ada yang nyasar sampe tiga kali, ada yang berkali-kali bertanya dan tetap kesasar juga, dan yang paling heroik ada yang sehari sebelum acara udah survey lokasi duluan agar pas hari-H bisa lancar jaya, ck...ck..ck... betul-betul wellprepared ibu satu ini (yang ngerasa boleh ngacung sambil senyum malu-malu). 
Kalau saya masuk golongan pertama yang beruntung, selain karena ancer-ancer yang diberikan teman panitia sangat detil, kebetulan  kakak saya domisili di seputaran lokasi kopdar, jadi sudah ada gambaran lah letaknya di mana. 
Ini adalah salah satu petunjuk yang menandakan kita sudah mendekati lokasi Kopdar. Foto diambil dari hasil jepretan mbak Meta Nuci

Acara yang dilaksanakan di hari Selasa yang bukan merupakan hari libur, membuat sebagian peserta menjadi sangat kreatif mengatur strategi untuk tetap bisa ikutan. Ada yang mengajak anaknya ikut serta, ada yang ijin sebentar di sela acara untuk urusan jemput anak, ada pula yang mendelegasikan tugas jemput-menjemput ini ke suami, asisten, adik, ponakan, tetangga...pokoknya segala daya dan upaya deh dikerahkan. 
Tidak kalah seru strategi ibu bekerja yang hadir, ada teman yang sehari sebelumnya bertukar jadwal dengan sejawat agar selasa bisa bebas ikut acara dari awal sampai akhir, ada yang menutup kliniknya, ada yang sengaja datang pagi-pagi ke kantor untuk piket dan bermanis-manis dengan atasan agar mudah mendapat ijin keluar, dan tentu saja ada yang ‘kabur’ begitu saja.  Pokoknya semangat membara ini bisa mengubah Ibu-Ibu Doyan Nulis jadi Ibu-Ibu Doyan Nekat.

Acara seru dipandu MC kondang bersuara lantang Mbak Marul Prihastuti, diawali dengan sambutan korwil IIDN Jogja Mbak Astuti Aja dan doa pembuka dilanjutkan perkenalan seluruh hadirin yang terdiri dari tiga narasumber, dua wartawan, tiga rekan dari penerbitan (dua diantaranya datang di tengah acara berlangsung) dan 30 anggota IIDN dan IIDB Jogja. Sesi perkenalan ini penuh gelak tawa, karena ternyata hampir semua berbakat jadi Ibu-Ibu Doyan Ngomong dan Ibu-Ibu Doyan Ngebanyol.

Sesi pertama, Teh Indari Mastuti menyampaikan tentang Serba-Serbi IIDN, Menulis dari Nol dan Menjadi Penulis Biografi.  Mendengarkan founder IIDN ini bercerita, jadi ngeh dengan filosofi (halah sok filosofis) menulis dan tersemangati untuk :
  1. Membuat to do list agar bisa me-manage waktu lebih optimal
  2. Menulis, menulis, menulis sebagai tabungan (ide atau sinopsis)
  3. Mendokumentasikan setiap pencapaian sebagai penyemangat di saat  ‘kelelahan’
  4. Membuat matriks target pribadi (untuk direalisasikan, bukan sekedar jadi pajangan atau target semu)
  5. Komitmen waktu untuk menulis
Bagaimana tidak bersemangat, melihat si Teteh yang kayaknya fully charged dari awal sampe akhir acara, padahal kita tahu kalau Sabtu beliau berangkat ke Semarang terkendala macet Kereta Api karena banjir di Comal-Pekalongan, Minggu siang acara di Semarang dan Minggu malam sudah sampai Jogja. Hari Senin dari pagi sampai sore keliling Jogja menyambangi penerbit-penerbit di Jogja dan malamnya berlanjut bertemu dengan rekan.  Eh...Selasa pagi udah dengan ceria menyapa kami semua yang datang dan tidak nampak lelah sedikitpun. Bagi yang sudah membaca “Puzzle Mimpi” pasti ingat bahwa yang membuat energi Teh Indari selalu berlimpah adalah ‘semangat’.

Sharing tentang menjadi penulis biografi tidak kalah dahsyat. Menulis biografi merupakan tingkatan ‘cukup tinggi’ dalam proses penulisannya, karena seorang penulis biografi tidak sekedar dituntut untuk  memiliki kemampuan teknis menulis semata namun harus memiliki kecerdasan emosi.  Pada prinsipnya siapapun bisa ditulis biografinya asal bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Teh Indari memaparkan langkah-langkah penulisan biografi, konsep penulisan, riset, materi interview, serta menceritakan beberapa kasus penulisan biografi yang gagal karena berbagai sebab.
Satu hal yang ditekankan dalam menulis biografi bahwa sejatinya proses penulisan yang panjang itulah yang akan memberikan pengalaman, pengayaan dan inspirasi bagi si penulis sendiri.  Ketika dia dapat menyampaikan pesan itu kepada pembaca, adalah buah dari sebuah proses panjang yang penuh makna.  Tentu saja itu di luar perhitungan fee yang merupakan kompensasi logis dari sebuah profesi. Nah, kalau menyangkut soal imbalan langsung berubah menjadi Ibu-Ibu Doyan Nduit.

Sesi satu berakhir setelah hampir dua jam (yang rasanya sebentaaaaar banget) berlalu, acaranya berikutnya Ishoma. Eh, sebelum Ishoma ada pembagian doorprize, macam-macam doorprize disiapkan untuk peserta, dari pembatas buku sampai bibit pohon dan saya beruntung mendapat jilbab Zoya warna oranye yang manis, Alhamdulillah. 
Menu makan siang  yang disediakan tentu saja makanan khas Jogja yaitu gudeg. Buat saya yang tidak asli Jogja (tapi cinta Jogja) dan tidak suka makanan yang terlalu manis, gudeg yang dihidangkan kali ini pas banget. Tidak terlalu manis, tidak terlalu kering, dan bukan jangan gori (Jawa: sayur berbahan nangka muda) yang kelebihan kuah...tapi nyemek-nyemek pas gitu. 
Untuk gudeg nikmat ini tak lupa terimakasih buat Mbak Irfa HudayaEkawati alias Mak Pinky yang ikhlas bakti bina bangsa berbudi bawa gudegnya dari Muntilan sana. Waktu jam makan ini ketahuan deh kalau kita semua masuk dalam golongan Ibu-Ibu Doyan Ngisi perut.

Setelah sholat dan makan siang yang nikmat, sesi kedua yaitu sesi parenting dari Mbak Noor Ruly Abyz Wigati yang menggawangi kelas parenting IIDN setiap hari Kamis pukul 15.00-16.00 (Hayooo....udah pernah ikutan belum?). Menurut Mbak Abyz, Ilmu pengasuhan anak akan terus berkembang dan tidak akan habis. Saling berbagi tentang pengasuhan anak akan memicu para ibu untuk menuliskan pengalaman pengasuhan anak yang bisa jadi menginspirasi ibu atau para calon ibu.
Salah satu hal menarik yang disampaikan mbak Abyz tentang pengalamannya melakukan ‘reframe’ untuk anak pertamanya.  Saya pernah membaca sekilas tentang teori ini, namun belum pernah mendengar sharing pengalaman orang tua yang melakukannya. Langsung teringat anak saya yang nomor dua yang sejak play group sampai kelas dua SD masukan dari pengajarnya selalu tertulis agar dia lebih sabar, bisa jadi kami sudah membingkainya menjadi anak yang tidak sabaran. Sampai rumah saya diskusi dengan suami dan berniat mencoba ilmu baru yang didapat tadi (eh, kok ngelantur curhat nih...maaf ya).

Sebelum sesi ketiga dimulai, wakil dari penerbit Galang Press menyampaikan tentang jenis tulisan prosedur penerimaan tulisan. Pada prinsipnya penerbit ini membuka pintu lebar-lebar untuk para Ibu menyampaikan karyanya...Ayo, sekarang waktunya Ibu-Ibu Doyan Nulis Beraksi.  Satu lagi penerbit yang hadir yaitu dari Indonesia Tera juga menyampaikan hal senada di awal pertemuan ketika sesi perkenalan berlangsung.

Sesi ketiga yaitu membuat boneka bulu oleh Teh Enno Ariestha dari IIDB Bandung.  Tidak semua ibu bisa mengikuti sesi ini, maklum hari sudah sore dan mulai terdengar segala rupa dering hape. Ada yang sms, “Mah, malam ini kita makan apa?”, ada yang bilang “Maunya ditemani Bunda” dan yang lainnya.  Bagaimanapun ibu adalah poros rumah tangga, rasanya gimanaaaa....gitu ya kalau sudah sore dan tidak ada ibu di rumah. 

before
Lanjut cerita tentang sesi tiga, peserta yang masih bertahan mulai memilih boneka bulu yang akan dibuat. Ada boneka gurita dan boneka angsa, saya ambil saja satu kantong paket boneka gurita berwarna kuning.  Teh Enno dengan telaten melayani ibu-ibu dari mulai menggambar pola, menggunting, menyambung pola. Hari semakin sore dan tidak semuanya mempunyai tingkat ketelatenan yang sama dalam hal gunting, tusuk dan jahit. Maaf ya Teh Enno kalo ada oknum peserta mengerjakan sambil komentar celamitan, maklum lagi jadi Ibu-Ibu Doyan Ngelantur.

after
Karena waktu tidak memungkinkan, sebagian besar membawa pulang hasil setengah jadi dan setengah tanggung boneka bulu-nya. Saya pun demikian, ini adalah penampakan saat dibawa pulang dari basecamp dan hasil jadinya (dikerjakan seharian di rumah).  Hal yang paling sulit buat saya adalah menjahit bagian wajah si gurining (gurita kuning), setelah saya bandingkan dengan foto hasil boneka gurita di fb Teh Enno, rasanya gurining saya butuh setrika wajah atau minimal suntik botox untuk mengencangkan wajahnya.




Namanya Ibu-Ibu ya, tetep narsis dimanapun berada, ini adalah sebagian jejak narsis yang sempat diabadikan mbak fotografer 
Gaya Bebaaaas....

Akhirnyaaaaa......semua sesi sudah dilalui, secara resmi MC sudah menutup acara, tapi masih ada acara tidak resmi lainnya yaitu meneruskan menjahit boneka bulu, sharing dengan para narasumber yang belum pulang, makan siomay bareng-bareng. Sebagian masih menunggu jemputan, sebagian lagi menunggu hujan reda. Saya harus pulang menembus rinai hujan karena masih harus berkendara 25 kilometer jauhnya untuk bertemu suami dan tiga anak tersayang.

Adzan maghrib terdengar ketika saya sampai di rumah, rasa senang mendapat sambutan empat wajah penuh senyum dan mereka semua sudah selesai makan sore....Oh, sungguh beruntung saya dapat suami yang pengertian bangeeet. 

Malam itu, badan capek namun mata tak kunjung terpejam. Energi yang terpompa seharian tadi tak kunjung suruuut (semoga energi ini bertahan terus...terus...dan terus). Terimakasih untuk semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu, mohon maaf jika ada salah tulis salah ketik.
Sampai ketemu di kopdar berikutnya dan SEMANGAT !


Jangan Asem