Tampilkan postingan dengan label passion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label passion. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2019

Sendiri di Sudut Ruang




.
Sendiri di sudut ruang, menikmati sepi, mendengarkan perbincangan hati dan pikiran.

Lantai gilap memantulkan cahaya surya yang menyilaukan. Mata memicing hampir tak tahan dengan kilau yang nyaris menyakitkan, yang Indah tampak glamor dan cemerlang seringkali membuat pedih tak kepalang.

Pantulan biru langit yang cantik dan mempesona namun terkadang menimbulkan rindu pada mendung kelabu yang syahdu, yang cantik tampak indah dan lentik kadangkala membuat para hati tercabik.

Awan putih dihiasi bayangan ranting gersang menjulang seperti bingkai foto yang seolah ingin bercerita panjang tentang cinta tentang rindu tentang pilu tentang bahagia tentang kamu, tentang kehidupan.

Kilatan pintu kaca yang bergerak menyadarkanku akan hadirmu dengan senyum dan tatap teduhmu. .
Menghentikan perbincangan hati dan pikiran.
.
Sendiri di sudut ruang, menikmati sepi, mendengarkan perbincangan hati dan pikiran.

Lantai gilap memantulkan cahaya surya yang menyilaukan. Mata memicing hampir tak tahan dengan kilau yang nyaris menyakitkan, yang Indah tampak glamor dan cemerlang seringkali membuat pedih tak kepalang.

Pantulan biru langit yang cantik dan mempesona namun terkadang menimbulkan rindu pada mendung kelabu yang syahdu, yang cantik tampak indah dan lentik kadangkala membuat para hati tercabik.

Awan putih dihiasi bayangan ranting gersang menjulang seperti bingkai foto yang seolah ingin bercerita panjang tentang cinta tentang rindu tentang pilu tentang bahagia tentang kamu, tentang kehidupan.

Kilatan pintu kaca yang bergerak menyadarkanku akan hadirmu dengan senyum dan tatap teduhmu. .
Menghentikan perbincangan hati dan pikiran.

Kali ke-2



Sering ada kali kedua bertemu dengan hal yang sama persoalan yang serupa kepedihan yang tak jauh berbeda kebahagiaan kecil maupun kebahagiaan sempurna.

Tapi kesan yang ditimbulkan dalam hati dan pikiran tak selalu serupa dengan kali pertama. .
Soalan yang sama kan lebih ringan dirasa pabila dilakoni dengan upaya sekuat daya dan penerimaan yang sebenar penerimaan.

Kepedihan yang tak sama takkan menorehkan luka sedalam tadinya, tubuh dan hati semakin kuat dan tabah melakoninya, melaluinya.

Hai jiwa-jiwa yang pernah terluka. Kalian punya hak untuk kembali bangkit dan bahagia. Pedih perih kan melembutkanmu. Tak hanya melembutkan namun juga menguatkan. Menjadikanmu semakin tangguh dan tegar. .
Kalian berhak merasakan kesempatan ke-2, yang Sama indahnya dan tak kalah manisnya

Jumat, 19 Mei 2017

Penakluk ketinggian


Jadi, sejak kecil Raan 1 punya hobby dan ketrampilan memanjat yang menonjol.
Saat  belum bisa jalan, Sakha kecil sangat suka memanjat apa saja benda tinggi yang dilihatnya.  Satu yang melekat dalam ingatan adalah ketika umur 8 bulan Sakha berhasil memanjat  teralis jendela rumah Eyang Uti-nyadi Magelang  sampai ujung atas jendela. Meninggalkan ibuknya di bawah menengadahkan kepala, menjulur-njulurkan tangan berjaga dengan harap-harap cemas.
Perasaan ibuk?
Jangan ditanya, tentu saja deg-deg an.

Kesukaannya memanjat disalurkan di mana saja, daerah jelajahnya semakin meluas seiring bertambahnya umur.   Tantangan memanjat pohon di sekitar rumah,  poho-pohon di  halaman sekolah, pagar dan tembok, genteng, menara penampungan air…hmmmmm

Pernah suatu ketika, Ibuk jemput Raan 1 saat kelas 3 SD.
Biasanya, begitu ibuknya nampak  dia akan langsung memanggil..."Ibuuuk".
 Kali itu berbeda, Ibuk celingukan mencari  di kelas, menyisir halaman, menengok area ayunan dan prosotan.

Setelah cari dan tanya sana-sini, ternyata anaknya sedang bertengger santai di dahan pohon talok  paling tinggi di halaman sekolah.

Waktu itu Ibuk menjaga suara tetap tenang memberi instruksi.

"Yuk, Kak turun. Sudah waktunya pulang"

Setelahnya Ibuk memalingkan muka, gak tega lihat proses turun-nya...cuma bisa 'ndremimil' berdoa.

Pernah gagal memanjat?
Iya, pernah, waktu TK bibirnya sobek berdarah-darah.

Waktu itu naik pohon pake rok yang jumbai-jumbai, saat turun meloncat dari dahan terendah, ujung rok nyangkut di dahan dan Raan 1 kehilangan keseimbangan.

Jera?
Sepertinya tidak...
Panjatan adalah tantangan yang mengasyikkan.
Mengasah keberanian sekaligus kekuatan.

Hobby itu berlanjut sampai menjelang remaja sekarang.

Beberapa waktu yang lalu dapat kiriman foto Raan 1 outbond di pondok nya.
Daaan....ibuk di rumah 'ndremilil' berdoa.

Nduk, semangat ya.
Hadapi tantangan, taklukan persoalan.
Dengan keberanian, dengan keyakinan, dengan kesabaran.

Ibuk dan Bapak akan selalu mendoakan.

Kamis, 21 Juli 2016

REUNI dan MOS



Ada dua hal yang anget dibicarakan setelah lebaran ini, rame tentang reuni  dan sekolah baru.  

Bersliweran di beranda tuh foto-foto reuni SD, SMP, SMA, Kuliah dll. Setelah itu disusul foto-foto ngantar anak sekolah di hari pertamanya, bersautan dengan berita soal tidak ada MOS di sekolah baru.

Pas  reuni kemarin aku ketemu teman SMA,  yang cerita tentang dia saat MOS SMA waktu itu jadi salah satu cerita seru yang kudongengkan pada anak-anakku.

Dulu ya, pas masuk SMA 1 Magelang ada semacam Ospek dari pramuka yang disebut  MAPTA ( klo gak salah ingat, singkatan dari Masa Penerimaan Tamu Ambalan).

Nah, saat MAPTA itu sama para bantara kita-kita nih anak baru disuruh membuat papan nama dengan nama yang sudah di modifikasi.  Modifikasinya tuh gabungan dari suku kata terakhir dan suku kata terdepan nama kita.   

Misalnya nih, namaku ANjas wulansaRI, saat MAPTA namaku jadi RIAN. Masih keren kan ya…dan para senior bias memanggilku dengan lantang saat nyuruh-nyuruh “Adik RIIAAAN…nomor 4, Adik RIIAAAN”

Etapi ada temanku yang galau dengan nama aliasnya. Namanya Olivia Elizabeth pandeirOT (nama terakhir itu nama keluarga kayaknya)….Nah lo, galau kan ya Dianya, nama aliasnya jadi OTOL. 

Sempat saat itu Oliv berniat gak mencantumkan nama keluarga, tapi hasilnya sama aja….jadi ETHOL.

Ternyata yang dibikin galau bukan Oliv seorang, para bantara senior itu juga gak pada berani panggil-panggil nama Oliv keras-keras (takut kepleset)….

Paling pol mereka panggil “Adik nomor 34…..adik nomor 34 !” 

Bisa jadi saat itu Oliv agak-agak terselamatkan dari gangguan para senior karena mereka sungkan juga panggil nama he he he

Itu cerita soal MOS yang masih keinget sampe sekarang, kalo cerita kamu apa? iyaaa...kamuuu

Ini si Otol dan suami lagi actol....eh...action

Selasa, 14 Juni 2016

Empil Nostalgia

Tahu kan makanan yang namanya empal daging? iya, itu daging yang dipotong agak pipih lalu direbus dan dibumbui dan biasanya digoreng sebelum disajikan.

Salah satu masakan Ibu yang masuk kategori favoritku saat kecil ya empal daging ini.  Kenapa favorit? karena masaknya jarang dan jika Ibu masak empal, porsi yang kami dapatkan masing-masing itu sedikit.  Potongan empalnya kecil-kecil dan bukan agak pipih melainkan sangat pipih (kategori sangat pipih itu aku simpulkan setelah dewasa dan melihat porsi asli empal yang dijual di luaran).

Etapi ya, pada saat itu yang namanya empal bikinan ibu itu paling top lah ya, dengan nasi anget kemebul, sambel tolenjeng (ulekan cabe rawit, bawang putih dan garam yang disiram sedikit jlantah bekas nggoreng empal), dan si empal mungil yang disuwir-suwir sporadis di atas sepiring nasi.
Jika beruntung masih dapat bagian remahan bumbu bawang putih dan tumbar yang gurihnya alamak jan.
Sepotong empal itu cukup sangat menjadi kawan sepiring atau satu setengah piring nasi masuk ke perut kami.

Ah, memang...sebenarnya yang membuat enak adalah rasa lapar dan cinta yang tersematkan dalam gorengan empal di setiap suwirnya.

Bagaimana ibu merebus  seperempat kilo daging sapi untuk diambil kaldunya untuk masak sop senerek yang segar, kemudian menyisihkan dagingnya untuk membuat menu empal di hari berikutnya.

Bagaimana kemudian dengan telaten ibu mengiris tipis daging sapi itu dan memastikan jumlah potongan cukup untuk seluruh anggota keluarga.

Bagaimana ibu mengulek bumbu-bumbu di cobek berukuran besar, kemudian menggepuk satu demi satu potongan daging agar bumbunya meresap sampai ke dalam.

Suatu waktu aku kangen Ibu, kangen dengan empal goreng istimewanya.  Ingin mereplikasi masakan Ibu, mengenalkan kepada anak-anakku lengkap dengan cerita melankoli masakan Eyang Utinya.
Jadi...kucoba lah membuat yang ibu buat, tapi kusampaikan kepada anak-anak kalau nama masakan kali ini adalah empil bukan empal. Untuk membedakan dengan empal pada umumnya.

Lengkap dengan sambel tolenjeng dan bening bayem bumbu brambang salam, kusajikan empil nostalgia.  Selamat menikmati.






Jumat, 11 Maret 2016

Gelang Flanel Hias Crochet



Sisa potongan botol bekas pembuatan tempat alat tulis masih bisa dimanfaatkan untuk membuat gelang, dengan sedikit kreasi akan menjadi gelang lucu untuk mempercantik penampilan si kecil.

Siapkan bahan-bahan yang terdiri dari :
 













  • Irisan botol plastik bekas, potong dengan lebar 1,5 cm
  • Kain flanel persegi panjang dengan lebar 3 cm dan panjang sesuai keliling botol
  • Flanel  dua warna dipotong lingkaran diameter 3 cm dan 1,5 cm masing-masing lima buah
  • Rantai crochet panjang untuk hiasan
 
Langkah pembuatan gelang sebagai berikut:

a.      Lapisi irisan botol bekas dengan kain flanel.







b.      Lilit gelang dengan rantai crochet







c.  Siapkan hiasan bunga dari kain flanel dengan menyatukan dua lingkaran flanel besar dan kecil dengan menjahit salah satu ujungnya.





 
d.      Satukan kelima kelopak bunga dengan menjahitnya lalu tambahkan lingkaran di tengah bunga untuk menutup jahitan





e.      Satukan ujung-ujung gelang dan tempelkan bunga untuk menutup sambungan






f.        Gelang cantik siap dipakai si kecil




Satu lagi tips bagi yang pengen berkarya bersama ananda :
"Mulailah dengan karya-karya yang sederhana
Dengan memulai membuat karya yang sederhana dan anak dapat menyelesaikannya akan membuatnya percaya diri dan merangsangnya untuk mencoba membuat karya lain yang lebih rumit dan menantang"
 



Senin, 07 Maret 2016

Tempat Alat Tulis

Meja belajar anak kadang terlihat berantakan karena alat tulis yang berceceran, untuk menyiasatinya kita bisa ajak anak membuat tempat alat tulis sesuai kreasi dan keinginannya.  Manfaatkan bahan bekas sederhana yang ada di rumah dan biarkan anak berkreasi untuk menghiasnya.

Siapkan bahan-bahan yang terdiri dari :
-    Botol plastik bekas, potong dengan tinggi 10 cm
-    Kain flanel persegi panjang dengan lebar 10 cm dan panjang sesuai keliling botol
-    Flanel warna-warni, gunting sesuai selera menghias
-    Rantai crochet warna-warni untuk hiasan
 

Cara membuat tempat alat tulis dengan langkah sebagai berikut :


    Tempelkan hiasan sesuai selera pada kain flanel dasar yang sudah disiapkan



      Tempelkan kain flanel yang sudah dihias pada potongan botol
 

      Tempat alat tulis siap digunakan dan meja belajar anak akan lebih rapi sehingga mereka akan bersemangat belajar.
 


Tips of the day 
"Bersiaplah dengan ruangan yang berantakan ketika membuat karya bersama anak, namun jangan lupa untuk selalu mengajaknya membereskan dan merapikan kembali ruangan ketika selesai membuat karya"
 



Jangan Asem