Tampilkan postingan dengan label catatan sakha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan sakha. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

LOMBA MENULIS YANG PERTAMA UNTUK SAKHA



 Sakha (si sulung) mencoba mengirimkan cerita yang dibuatnya ke sebuah lomba. Tidak berhasil menjadi pemenang, tapi Sakha mendapat banyak pelajaran tentang proses penulisan, konsistensi mengikuti aturan dan kesabaran ketika gagal.  Ayo sayang, menulis terus ya...Ibu bangga padamu.

 LIBURAN KE OWABONG
 
Namaku Fathiya, umurku 10 tahun dan sudah kelas empat. Aku mempunyai dua orang adik laki-laki bernama Akhsan dan Abbad. Saat libur akhir semester aku diajak ke Owabong, yaitu sebuah tempat wisata di daerah Purbalingga – Jawa Tengah.  Kurang lebih setahun yang lalu aku sudah pernah pergi ke sana saat acara Family Gathering kantor Ibuku, waktu itu kami tidak menginap tetapi kali ini kami akan menginap di Owabong bersama dengan keluarga besar Ibu.  Jauh-jauh hari sebelum berangkat aku sudah membayangkan betapa asyiknya nanti bermain air bersama saudara-saudara di sana. Rasanya tidak sabar ingin segera berangkat. Setiap hari aku menghitung mundur sampai hari keberangkatan.

Perjalanan dari tempat tinggalku di Jogja sampai Owabong sekitar 5 sampai 6 jam dengan mobil, tapi Bapak berencana mengajak kami mampir dulu ke Banyumas dimana Bapak menghabiskan masa kecilnya.  Kami berangkat pukul 22.00 malam, sepanjang perjalanan aku dan kedua adikku tidur. Tahu-tahu sudah pukul 02.00 pagi dan kami sampai di rumah teman Bapak yang bernama Om Agus di sebuah perumahan di pinggir Kota Banyumas. Sampai di rumah Om Agus aku melanjutkan tidurku sampai subuh. Setelah bangun dan sholat subuh,  aku nonton TV lalu Bapak mengajakku jalan-jalan.  Di ujung perumahan ada sawah yang luas sekali, pagi itu agak berkabut tetapi pemandangannya bagus dan udaranya segar.

 “ Nanti mau nggak ke pendopo tempat bapak tinggal waktu kecil dulu?” tanya Bapak
“Ya”, jawabku

Setelah jalan-jalan, kami kembali ke rumah om Agus lalu makan, mandi dan berpakaian. Kemudian kami pergi ke pendopo Kabupaten Banyumas tempat tinggal Bapak waktu kecil sampai SMA dulu. Pada waktu itu, Mbah Kakung (ayahnya Bapak) bekerja di salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas sehingga bertempat tinggal di kompleks pendopo Kabupaten Banyumas.  Pendopo dan gedung-gedung di sekitarnya merupakan bangunan tua yang tinggi, kata Bapak bangunan itu sudah ada sejak jaman Belanda. Pohon-pohon di halaman pendopo besar-besar dan tinggi-tinggi. Ada pohon duku, sawo, manggis, jambu, belimbing, mangga dan rambutan. Kata Bapak ketika kecil Bapak dan teman-temannya biasa memanjat dan makan buah di atas pohon.
Di pendopo itu ada sumur dikeramatkan banyak orang, namanya Sumur Mas, sumurnya kecil dan diberi pagar.  Ada bekas pembakaran dupa di dekat Sumur Mas, banyak orang datang yang percaya kalau air sumur itu bertuah, kalau aku sih tidak percaya. 

Kami bersilaturahmi dengan bekas tetangga Bapak dan berkunjung ke tiga rumah, di salah satu rumah kami singgah cukup lama dan diberi suguhan yang cukup banyak. Setelah itu kami melanjutkan berkunjung ke rumah ibunya Om Agus. Di sana ada tokonya, Aku dan adik-adikku diberi mainan balon yang bisa dibentuk. Setelah bercerita cukup lama, kami pulang ke rumah  Om Agus. Di sana ternyata semua sudah siap untuk bersama-sama pergi ke Owabong.
Perjalanan dari Banyumas ke Owabong cukup lama, sekitar 40 menit. Kami beberapa kali harus bertanya kepada orang-orang di daerah itu.  Katanya kami disuruh mengikuti jalur angkot. Perjalanan pun berlanjut, tulisan Owabong sudah banyak di kiri jalan.  Sesampainya di Owabong kami langsung menuju Hotel Owabong. Tempat kami dan saudara yang lain akan bertemu.. Saat kami masuk ditanya apakah sudah pesan kamar, dan karena Bapak menjawab sudah, lalu kami diperbolehkan masuk.

Kami mencari di mana kamar kami akan menginap. Karena akhir tahun, kamar dan homestay yang disewakan penuh, sehingga hanya dapat dipesan empat kamar besar yang tiap kamar ditempati dua keluarga.  Ketika keluargaku sampai di kamar yang disewa, dua keluarga Budhe ku dari Semarang dan Pekalongan sudah datang, kami bersalaman dengan pakdhe, budhe dan kakak sepupu. Tanpa membuang waktu kami langsung bersiap berenang, langsung lewat jalan pintas sebagai fasilitas gratis bagi tamu yang menginap di Owabong kecuali kolam air hangat dan terapi ikan.  Aku berenang bersama Pakdhe Taufik dan Mbak Isna, Akhsan dan Abbad pergi dengan Bapak. Mula-mula aku renang di kolam dengan permainan bola besar berisi udara yang di dalamnya dikendarai orang.  Aku renang disana, kadang-kadang lari kalau ada bola besar berisi orang yang mendekat.  Setelah bosan bermain di sana, kami ke kolam permainan. Ada banyak prosotan di sana, aku awalnya takut tapi akhirnya aku meluncur diikuti Akhsan. Ketika aku akan ke kolam lain, ada Mas Ojan sepupuku dari Magelang yang rupanya baru saja tiba dan langsung menyusul ke kolam renang.  Aku memberitahu Akhsan kalau mas Ojan sudah datang. Akhsan senang sekali.  Kami langsung main cukup lama lalu kembali ke penginapan, di sana sudah ada Eyang uti, Eyang kung, Pakdhe, Budhe dan sepupu-sepupu dari Magelang dan Surabaya.  Aku langsung makan karena sangat lapar setelah berenang.  Kami makan bekal yang dibawa Eyang dan Budhe, masakan nya enak sekali.

Setelah makan dan istirahat sebentar, aku mengajak ibu ke kolam air hangat dan terapi ikan. Kami berangkat ke sana ber-6. Ibu, Aku, Akhsan, Abbad, Mbak Isna dan Mas Ojan. Tiket untuk masuk tempat itu Rp 15.000,- per orang. Saat masuk kami langsung menuju kolam terapi ikan. Yang ingin merasakan diterapi ikan duduk berjejer di tepi kolam atau berendam di kolam dan duduk diam menunggu ikan-ikan kecil yang datang untuk menggigiti kulit yang sudah mati sel nya. Awalnya kayak dicubitin, tapi lama-lama enak juga. Di kolam terapi ikan cuma sebentar lalu kami bermain di kolam terapi air hangat. Di kolam itu ada banyak pancuran air untuk terapi dan ada gambar besar di tembok menunjukkan titi-titik tubuh mana yang harus kena air mancur agar khasiat terapinya mujarab. Aku dan saudara-saudaraku tidak terapi air hangat tapi membuat permainan sendiri. Kami petak umpet di dalam kolam, yang jadi tutup mata dan yang lain ngumpet tetap di dalam kolam. Ada yang menyelam, ada yang bersembunyi di belakang badan orang, pokoknya diusahakan jangan sampai terlihat dan tertangkap yang jadi, asyik sekali kami main sampai hampir ashar. Ibu lalu mengajak kami kembali ke penginapan, tapi ketika kami keluar dan melewati kolam permainan, kami bertemu mas Hanif, sepupu lain yang baru datang dari Semarang. Akhirnya hanya Ibu yang kembali ke penginapan sedangkan anak-anak melanjutkan bermain bersama Pakdhe dan Budhe di kolam permainan.

Di kolam permainan, ada sebuah bantal udara raksasa yang mengapung di atas kolam. Mula-mula satu orang melompat ke bantal itu lalu berusaha mencapai ujungnya tanpa jatuh lalu ada orang lain yang meloncat dengan keras ke atas bantal. Yang akan terjadi adalah orang pertama akan terpantul ke udara sebelum kemudian tercebur ke air.  Permainan lebih seru kalau orang pertama itu bertubuh kecil dan orang kedua bertubuh besar, pasti akan memantul dengan sangaaat tinggi. 

Puas bermain kami kembali ke kamar untuk mandi dan makan lagi. Sambil menunggu maghrib kami main telpon-telponan antar kamar, saling mengganggu dan menggoda.  Mula-mula permainannya asyik, tapi lama-kelamaan kami dimarahi Budhe-Budhe karena suara telpon menjadi berisik dan bersahut-sahutan he he he. 

Setelah sholat maghrib dan makan lagi, kami semua berkumpul di halaman penginapan.  Pakdhe Taufik salah satu Pakdhe ku mau mengadakan permainan. Permainan pertama adalah lomba makan kerupuk. Pertama yang lomba adalah antara  cucu laki-laki yang masih kecil, lalu antar cucu perempuan yang masih kecil, lalu antar cucu laki-laki yang sudah besar dan terakhir antar cucu perempuan yang sudah besar-besar. Semua bersemangat lomba, tidak ada hadiahnya sih tapi seru sekali berteriak-teriak memberi semangat untuk saling mengalahkan. 

Permainan kedua kami berdiri melingkar lalu berhitung 1-2-3 berulang-ulang. Yang mendapat nomor satu dan tiga menjadi pohon dan yang mendapat nomor dua menjadi tupai.  Lalu dua pohon saling bergandengan dan yang jadi tupai berjongkok di tengah kedua pohon.  Lucu sekali ketika yang jadi pohon sepupu yang kecil-kecil dan yang jadi tupai Pakdhe Aik yang badannya paling besar di antara semua saudara.  Lalu Pakdhe Taufik berdiri di tengah lingkaran dan bercerita, kalau Pakdhe Taufik berkata “pemburu”, yang jadi tupai harus berpindah mencari pohon yang lain. Kalau Pakdhe Taufik berkata  “penebang”, yang jadi pohon harus berpindah tempat dan berganti pasangan. Kalau Pakdhe Taufik berkata “kebakaran hutan”, maka semua harus lari dan berganti posisi.  Permainan itu sangat seru karena adik-adik kecil kadang masih kebingungan saat ada aba-aba dan berteriak sambil lari terbirit-birit mencari tempat.

Permainan ketiga adalah lomba yel-yel. Sebelumnya kami diacak menjadi kelompok dengan anggota lima orang lalu disuruh berembug satu menit membuat yel-yel.  Ada kelompok yang yel-yel nya cuma bilang “Aaaaaaaa.....” sambil mengepalkan tinju. Kelompok Akhsan yel-yelnya meletakkan jari di dahi lalu geleng-geleng kepala sambil bilang “Oye-oye-oye-oye-oye”. Kelompokku pura-pura jadi cheerleader, anggota kelompokku aku, Mbak Isna, Budhe Raras, Budhe Ilak dan Budhe Rum. Kami bergantian maju satu-satu sambil bergaya dan berkata “Give me R”, “Give me A” , “Give me K”, Give me I”, Give me M”   lalu kami berteriak bersama dengan kompak “RAAAAAKIIIIIM” semua tertawa karena Rakim adalah nama Eyang Kakungku.    Setelah semua menampilkan yel-yelnya lalu kami main suit kelompok seperti batu gunting kertas tapi memakai gaya yang berbeda. Gaya Samson, Delilah dan Harimau. Samson menang lawan Harimau tapi kalah lawan Delilah. Harimau menang lawan Delilah tapi kalah lawan Samson dan Delialah menang lawan Samson tapi kalah lawan Harimau.  Seru sekali permainannya karena ada kelompok yang tidak kompak dan lucu sekali gaya Pakdhe dan Mas-Mas ketika bergaya perempuan ketika suit menjadi Delilah. Permainan berakhir ketika akhirnya kelompok Abbad berhasil mengalahkan seluruh kelompok.

Permainan terakhir adalah menyusun puzzle, kelompok diacak lagi menjadi kelompok laki-laki dan perempuan. Yang menang adalah kelompok laki-laki karena tidak mau berbagi puzzle jadi bisa menyelesaikan menyusun terlebih dahulu. Malam itu seru sekali, lalu kami semua tidur agar esok bisa bangun pagi untuk main lagi.

Pagi harinya setelah sholat subuh kami jalan-jalan di Owabong. Kolam-kolam sedang dibersihkan, jadi kami melihat-lihat saja mainan yang ada disitu yang semuanya belum buka karena masih pagi. Ada Misteri Tam Tua atau Rumah Hantu, ada kolam Arapaima Gigas yang ikannya besar-besar dan pesawat terbang betulan tapi tak bisa terbang. Puas jalan-jalan kami kembali ke penginapan untuk sarapan.  Setelah sarapan semua berganti baju renang dan siap untuk bermain air lagi. 

Pagi sampai siang aku dan saudara-saudara berganti-ganti permainan. Mula-mula main di kolam air dera, lalu main bola raksasa yang kita masuk ke dalamnya lalu bola digelindingkan di atas kolam. Permainan bola itu seru sekali, tapi lama-kelamaan rasanya sesak nafas dan kehabisan udara, ketika aku melambaikan tangan petugas jaga wahana bola raksasa itu langsung menarik bola dan mengeluarkan kami dari sana. Setelah itu aku main prosotan yang tinggiiiii sekali. Bosan bermain di kolam permainan aku dan saudara yang lain pergi lagi ke kolam terapi ikan dan air hangat, menjelang siang kami diajak kembali ke penginapan karena itu hari Jumat jadi yang laki-laki akan sholat Jumat.  Sambil menunggu yang sholat jumat, kami di kamar beres-beres barang karena sudah akan meninggalkan penginapan.  Karena capek aku tertidur sampai Ibu membangunanku untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Eyang di Magelang.  Liburan di Owabong sungguh mengesankan.

 
Biodata Penulis
Namaku Fathiya Raan Sakha, biasa dipanggil Sakha, umurku 10 tahun. Aku bersekolah di kelas 4 SD SIBI BIAS Giwangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku punya dua orang adik laki-laki dan sebentar lagi akan punya adik baru karena ibuku sedang hamil 2 bulan, pengennya adikku nanti perempuan.  Hobbyku membaca dan menggambar, aku juga suka menulis puisi dan cerita serta membuat komik.  Selain itu aku juga suka memanjat pohon, kalau memanjat pohon tingiiiii sampai ibuku ngeri melihatnya.
Aku belum punya FB karena kata ibu umurku belum cukup untuk memiliki FB, dulu ibuku pernah bikin FB untukku sih, tapi tak pernah dibuka. Ingin berkenalan lebih lanjut, silahkan email aku di raan.sakha@gmail.com


Selasa, 17 Desember 2013

(Masih tentang) Kondom

Tidak bermaksud latah ikut bicara soal simpang-siur berita dan silang pendapat soal pekan kondom nasional, ini cerita tentang bagaimana kami (aku dan suami) harus selalu siap siaga menjawab pertanyaan anak-anak tentang segala info dan hal yang didengar dan dibaca anak-anak.

Sakha, yang tiap hari update berita dari koran tentu saja membaca berita tentang kondom, lha gimana enggak semua koran membahas dengan judul beraneka rupa.

Setelah maghrib senja itu Sakha bertanya :
Sakha : "Ibu, kondom itu apa?"

Ibu  : " Kondom itu, alat kontrasepsi"
Melirik Bapak mencari bantuan kekuata, agak nyesel juga sih ngomong kontrasepsi, khawatir harus menjelaskan soal konsepsi ke Sakha di umur semuda sekarang


Sakha : "Apa itu?"
Bapak : " Itu alat untuk mencegah menularnya penyakit "

Aku dan suami berpandangan menunggu pertanyaan Sakha selanjutnya

Sakha : " Oh, biar nggak nular penyakitnya...berarti kan bagus itu, kenapa banyak orang yang menolak?"
Ibu : " Iya, memang bagus. Kondom seharusnya dipakai untuk orang yang sudah menikah saja, tapi yang jadi berita itu, orang menolak kondom yang dibagi anak sekolah dan mahasiswa yang belum menikah."

Kuharap jawabanku tidak mengundang pertanyaan lain, meski aku sudah siapkan amunisi tambahan.
Sakha : " Oooo, gitu ya"

Sebenarnya aku sudah siapkan jawaban lanjut untuk Sakha jika dia tidak puas. Akan kucoba sampaikan analogi kondom dengan pistol. Pistol itu dipegang dan digunakan oleh yang punya surat ijin untuk memakainya, misalnya polisi. Kalau pistol dibagi ke sembarang orang,nanti berantem dikit-dikit pake pistol bisa bahaya dong....


Senin, 14 Januari 2013

KALUNG UNTUK IBU



Ini cerita sudah lamaaaa banget pengen kutulis dan kubagi, tapi ada saja yang membuat tidak kesampaian.
Cerita tiga bulan lalu saat  Sakha PKL ke Bringharjo dan Lottemart, ini adalah PKL untuk anak-anak agar bisa membandingkan antara pasar tradisional dan modern. 

Seperti biasa, Sakha selalu antusias mengikuti kegiatan di luar. 
“Ibu mau kubelikan apa?” tanyanya beberapa hari sebelum berangkat.
 Anak-anak memang diperkenankan membawa bekal dengan jumlah nominal maksimal 50 ribu rupiah.
“ Mhm….apa ya, bawang merah aja ya” jawabku tiba-tiba teringat persediaan bawang merah yang menipis.

***
Selasa, Hari PKL Sakha
Sepulang sekolah Sakha berbagi hasil belanja.  
Akhsan, Abbad dan Sakha masing-masing mendapat satu set penggaris (yang terdiri dari satu penggaris lurus 15cm, dua penggaris segitiga dan satu busur derajat). 
Warna biru untuk Akhsan, warna coklat untuk Abbad dan warna pink untuk Sakha. 
 Selain itu Sakha juga membeli satu lusin pensil yang dibagi untuk adik-adiknya masing-masing tiga buah dan sisanya disimpan untuk Sakha sendiri.  

“Beli apa lagi?” tanyaku berharap mendapat sekantong bawang merah

“Aku belie s krim dan coklat sudah kumakan disana, dan aku beli ini untuk Ibu” Sakha mengangsurkan benda kecil dalam genggamannya.

Ketika genggaman kecil itu terbuka, ada sebuah kalung dengan liontin  huruf A

“ A, untuk Anjas” Katanya menirukan sepotong dialog dalam ‘Hafalan Shalat Delisa’

Tiba-tiba saja, ada gelombang kecil di mataku yang susah ditahan dan rasanya hampir tumpah keluar.

“Terimakasih, Kak” Kuterima kalung itu sambil kupeluk dan kucium kedua pipi Sakha menyembunyikan keharuanku.

Ah, oleh-oleh dari sulungku ini membuatku tersenyum di sepanjang sisa hari itu.  

Kalung dari Sakha tidak kukenakan di leher, kusulap menjadi gelang dengan melingkarkannya tiga kali di pergelangan tangan kiriku.

“Kenapa tidak dipakai di leher, Bu?” Tanya Sakha

“Ibu lebih suka di pakai  jadi gelang, Ibu pengen bisa lihat terus pemberian Kakak…kalau dipakai di leher, ibu cuma bisa lihat di rumah sambil ngaca…tapi kalau dipakai di tangan kan bisa dipandang sewaktu-waktu” Jawabanku menyenangkan Sakha dan dia memberikan hadiah tambahan berupa peluk dan cium untukku.

***
Seorang teman bertanya ketika melihat gelang baruku “Wah, gelang baru, emas putih ya Mbak?”
Senyumku mengembang dan menjawab...”Ini lebih berharga dari sekedar emas permata...ini gelang cinta”
Sakha, anakku, perhatianmu….sungguh meluberkan kebahagiaanku

Senin, 10 Desember 2012

MASA INKUBASI



Hari Sabtu 16 hari yang lalu, pukul empat sore aku menjemput Sakha di rumah teman-nya, yang berjarak sekitar 5 Km dari rumah.  Waktu  hendak naik ke atas motor, kulihat seekor nyamuk gendut menempel di lengan kirinya tepat di sebelah siku.  Tampak jelas semburat merah di tubuh belang-belang si nyamuk yang tampak terus asyik menghisap darah meski Sakha mengayun-ayunkan tangannya. 

Gemas, kutepuk makhluk penghisap darah itu yang tak sanggup lagi menghindar karena kegendutan. Plak ! dan bau anyir darah tercium saat kudekatkan tanganku ke wajah untuk memeriksa hasil buruanku.
Sepanjang perjalanan pulang, bayang-bayang nyamuk loreng bertubuh penuh darah hasil hisapan dari tubuh Sakha menghantuiku.  Aku berusaha mengenyahkan pikiran bahwa itu adalah nyamuk Aides aigepty, tapi sungguh jelas di benakku nyamuk yang tadi kutepuk berujud seperti ini.
Gambar diambil dari sini

 Ampun, ini musim hujan, anakku digigit nyamuk loreng di jam operasi Aedes aegypti (8-9 pagi atau 15-16 sore).  Aku khawatir, nyamuk penggigit anakku membawa serta virus DHF dan memaksakannya masuk ke dalam tubuh kecil putri  kesayanganku. Teringat aku saat kecil saat pernah dua kali kena DBD di usia 5 dan 11 tahun.  Saat TK aku sampai mimisan dan harus opname di Rumah Sakit Tentara beberapa hari, kali kedua kena aku bahkan sampai mimisan, muntah darah dan menginap lagi di Rumah Sakit Umum selama 5 hari.  Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang pernah kurasakan.
Tapi bagaimana…anakku sudah digigit vektornya.  Menyegarkan ingatan aku browsing lagi tentang DHF/DBD pada anak, berupaya mencari jalan untuk mencegah jangan sampai anakku kena DBD.

Ah, nasi sudah menjadi bubur…yang bisa kulakukan di hari-hari berikutnya adalah menunggu masa inkubasi berakhir sambil terus mengamati perubahan sekecil apapun pada Sakha yang mengarah ke gejala DBD.  

Kubujuk Sakha untuk meminum air lebih banyak dari biasa, makan dalam porsi yang kulebihkan dari porsinya semula, memintanya istirahat lebih lama dari biasanya, dan (tiap ada kesempatan) memegang dahi dan badannya memastikan tak ada peningkatan suhu badan.  Pagi hari sebelum berangkat sekolah, sore hari sepulang sekolah, tengah malam saat Sakha tidur, kupantau terus suhu badannya.
Sepanjang masa inkubasi ini aku hanya bisa memasrahkan pada Allah SWT, sang maha yang mengusai segala kejadian yang hanya dengan ijin-Nya segala sesuatu akan terjadi.  Setetes air pun akan membeku ketika Allah tak menghendaki si air menetes.  Jadi kulupakan segala ilmu etiologi, epidemiologi penyakit dan tetek bengeknya. 
Di luar doa rutin (dan standar yang kuminta dalam sujudku), aku  berbisik-bisik dengan permintaan khusus, memohon agar Allah menjauhkan Sakha dari penyakit yang bisa jadi dibawa nyamuk yang menggigitnya sabtu itu.  
Enam belas  hari telah berlalu, Alhamdulillah... Allah mengabulkan doa spesialku.
Terus sehat ya, Nak….Ibu mencintaimu.


Jumat, 19 Oktober 2012

SISA DEMAM EROPA

Ini cerita sudah lama kubuat draft-nya, tapi belum berani ku upload sampai aku yakin pada simpulan alias ending cerita nanti.  Setelah kusimpan tiga bulan, kuputuskan untuk menceritakannya di sini.

Demam piala Eropa sudah reda, digantikan dengan demam piala yang lain.  Piala Eropa tahun ini menorehkan cerita tersendiri bagi keluarga kami.

Ini soal televisi, TV yang sejak aku menikah dengan suami 'sengaja' tidak kami beli....lebih jelas di sini.
Sekarang ceritanya berbeda, di rumah kami ada sebuah LCD monitor yang semula tak difungsikan, saat ini  dilengkapi dengan antena bundar dan perangkatnya yang dikenal dengan istilah TV tuner

Gambar diambil dari sini  dan sini

Ya, di rumah ada TV. Kami akhirnya membeli atas permintaan Akhsan anak keduaku.  Berawal dari saat anak-anak dititipkan ke rumah Budhe di Magelang karena aku dan suami harus pergi ke luar kota pada waktu yang bersamaan, cerita lengkapnya ada di sini.  

Nah, ketika aku mengajak anak-anak pulang ke rumah tidak ada yang keberatan kecuali Akhsan.  Dia tidak mau pulang kalau di rumah tidak ada TV. Hal ini terjadi karena selama di Magelang, Akhsan berpartner dengan Pakdhe-nya nonton Piala Eropa, dan tak mau ketinggalan berita serta melewatkan pertandingan tim favoritnya.

Berunding dengan Bapak dan Kakak Sakha, kami memutuskan untuk membeli TV Tuner dengan beberapa persyaratan :
  1. Digunakan untuk nonton pertandingan sepakbola saja
  2.  Nonton sepakbola malam hari hanya jika pagi harinya adalah hari libur (Sabtu, Ahad atau hari libur lainnya)
  3. Di hari aktif masuk sekolah, jika ada pertandingan sepakbola di malam harinya boleh pagi-pagi cari berita hasil pertandingan di TV yang ada running text-nya
Akhsan menerima syarat itu dan Alhamdulillah sampai saat ini ketiga aturan dituruti anak-anak (khususnya Akhsan) dengan sangat baik.

Sakha justru mewanti-wanti aku dengan kalimat "Ibu, TV tuner ini bukan 'TV' lho Bu... aku pengen tetap pegang rekor di sekolah jadi anak yang tidak punya TV"

Tidak punya TV adalah kebanggan tersendiri untuk Sakha, di sekolah gurunya memberikan pujian untuknya karena tidak punya TV, teman-temannya juga menganggapnya 'hebat' karena bisa hidup tanpa TV.

Jadi teringat potongan lagu yang syairnya di-pleset-kan Sakha

Lagu yang seharusnya berbunyi
Aku punya televisi,  Alhamdulillah
Aku pilih-pilih
Acara yang baik
yang tidak syirik

Diganti menjadi
Aku nggak punya televisi,  Alhamdulillah
Nggak usah pilih-pilih
Acara-acara
Jadi tidak syirik



Kamis, 02 Agustus 2012

CENDERUNG

Sakha: "Ibu, 'cenderung' itu apa sih?"
Ibu : " Kalimat lengkapnya gimana?"
Sakha : " Orang dengan langit-langit sempit cenderung mendengkur "
Ibu : "Kakak baca buku apa?"
Sakha : "&%>>>" (menyebutkan salah satu nama majalah ensiklopedi anak)
Ibu : "Cenderung itu...- biasanya"

Sakha : "Oooh....jadi Bapak langit-langitnya sempit"


Rabu, 18 Juli 2012

PERGI KE GUNUNG



Selasa, 14 Februari 2012
Aku hari Sabtu kemarin naik gunung.  Pertamanya aku senang, tapi setelah tahu banyak nyamuknya aku jadi pengen pulang. 
Aku ketawa gara-gara Akhsan, soalnya kata Akhsan di sana banyak singanya. 
 Trus Akhsan bilang singa kan ada di Afrika, akhirnya Akhsan berani deh ! smiley! 
Nama gunungnya Gunung Lanang.

Ini catatan Sakha setelah naik bukit kecil di belakang rumah simbahnya

Jangan Asem