Maaf
Tahun 2013, posting terakhir di Bulan Januari
Aduh
Kemana saja 4 bulan ini?
Maaf
Bukan bermaksud melalaikanmu
Aku siap dengan alasan seribu satu
Kubuka folder draft
aha....
ada tulisan hampir jadi
setengah jadi
seperempat jadi
belum jadi
Ayolah
jangan lalai lagi
#edisimenyemangatidirisendiri#
Senin, 13 Mei 2013
Kamis, 24 Januari 2013
Rai Gedhek
Beberapa hari
lalu, ketika aku mengunggah foto tumis rebung yang kumasak, seorang teman
mengomentari dengan gurauan “Ati-ati, jangan kebanyakan ntar jadi rai gedheg”
Rai gedhek adalah kata dalam bahasa jawa yang jika di bahasa-Indonesiakan
berarti muka tembok (jaman dulu jarang rumah berdinding tembok, yang dipakai
sebagai pembatas adalah bambu dianyam yang disebut gedhek). Artinya ya itu, muka tembok, tebal muka, muka badak, alias
gak tau malu.
Sekarang aku bisa
menanggapi candaan seperti ini dengan senyum lebar, namun jika mengingat
puluhan tahun ke belakang (ups....ternyata sudah 34 tahun umurku ini), ketika
aku masih berujud seorang bocah merah putih, candaan rai gedhek karena makan rebung sungguh menakutkanku.
Aku ingat, suatu
waktu ketika aku kelas 1 atau 2 SD, ibuku memasak rebung bambu petung yang
tumbuh berumpun di belakang rumah kami.
Namanya rebung petung, jadinya rebungnya buesaaar dan gemuk. Rebung ini tentu saja tak habis dalam periode
sekali makan, meskipun sudah dikeroyok 10 anggota keluarga kami (9 tepatnya
karena kakak sulungku sudah kuliah di luar kota waktu itu).
Selama satu pekan
lauk kami adalah rebung. Rebung tumis,
rebung bumbu kuning, risoles rebung, rebung bumbu bakmi, rebung ini dan rebung
itu. Tambahan pelengkap untuk hidangan
rebung adalah sambal (saat rebung dimasak gurih) atau kerupuk (saat rebung
dimasak pedas). Aku oke-oke saja waktu itu, karena biasa memakan apapun yang dimasak
ibu.
Suatu siang,
seorang kakak mungkin sudah sampai pada titik jenuh dengan rebung ini. Ia tak
segera beranjak ketika diajak makan siang, tapi tak mengatakan alasannya. Setelah dirayu ibu, kakakku itu makan sambil
berlinang air mata. Menu siang itu adalah nasi putih, rebung bumbu kuning dan
sambel trasi.
Aku melihat wajah
pedih ibu, aku melongo melihat kakakku makan dengan air mata berburai-burai. Belakangan aku sadar (menebak dan menyimpulkan
sendiri tepatnya) waktu itu ibu sedih tak bisa memberikan lebih dari itu karena
beliau harus cermat berhitung dan berhemat mengatur gaji ibu dan bapak untuk
segala pengeluaran mencukupi kebutuhan
keluarga. Kakakku menangis karena
mati-matian melawan rasa bosannya pada rebung, namun tak tega pula menyakiti
hati ibu jika tak mau makan.
Kasak-kusuk aku
mencari tau kenapa kakakku tidak suka makan rebung. Tak ingat informasi darimana waktu itu
katanya kalau makan rebung nanti bisa punya rai
gedhek.
Aduh....ngeri aku
mendengarnya, membayangkan kami sekeluarga dengan wajah berpola anyaman seperti
gedhek rumah tetangga.
Setelah itu aku
mulai mengamati wajah bapak, ibu dan kakak-kakakku...melihat tanda perubahan
wajah mereka. Tiap kali makan rebung aku segera bercermin, mengelus-elus pipi
dan dahiku, mencari tanda-tanda pola anyaman bambu. Aku tak sampai hati
bertanya pada ibu,entah pertimbangan apa yang kupakai waktu itu yang pasti aku
tidak menceritakan kekhawatiranku pada ibu.
Ketakutan itu menghantuiku berakhir ketika di suatu
waktu, seputaran kelas 3 sepertinya aku membaca buku Bahasa Indonesia kakakku
(kelas 5 atau 6 ya...aku tak terlalu ingat) tentang istilah muka tembok. Ketika aku bertanya pada ibu apakah muka tembok dan rai gedhek punya arti yang sama, jawaban
iya dari Ibu sungguh melegakanku.
Uhm, hatiku
bertanya-tanya...pernahkah orang yang berkata ‘tidak ingat yang mulia’ atau ‘gantung
saya di....’ atau banyak 'ketidaktahumaluan' yang lainnya, makan rebung varietas unggul yang
benar-benar bisa menimbulkan efek rai
gedhek?
Jumat, 18 Januari 2013
50 TAHUN LAGI
Sekarang atau lima puluh tahun lagi
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
Itu potongan lagu yang dinyanyikan Yuni Shara (feat Rafi Ahmad)
Tentu saja aku tidak nge-fans dengan salah satu atau pun keduanya
Hanya ingin menuliskannya saja, membayangkan jika lagu itu dinyanyikan Ibu dan Bapakku. Beliau berdua merayakan 50 tahun pernikahan di bulan Agustus tahun 2012 lalu.
Bukan perayaan besar, kami sekeluarga berkumpul bersama. Kakak ke-3 menjadi pembawa acara (MC sepanjang masa). Dibuka dengan bacaan ayat suci Alqur'an oleh cucu ke-7 dengan saritilawah cucu ke-13. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh cucu ke-6. Sebenarnya aku yang membuat puisi itu, tapi aku tidak menyimpannya jadi tak bisa kutulis disini.
Yang pasti saat puisi itu dibacakan, kami menyusut air mata diam-diam. Keponakanku itu membaca dengan sungguh-sungguh penuh perasaan. Puisiku yang biasa-biasa saja jadi begitu menyentuh perasaan ketika dibacakan gadis kecil putri kakakku.
Buat aku sendiri yang baru mencicipi dunia pernikahan 9 tahun, bersama lima puluh tahun itu juara dan istimewa. Aku yakin Bapak dan Ibu pernah mengalami masa pasang dan surut, toh itu hal yang lumrah dalam rumah tangga. Melihat beliau berdua sekarang ini...rasanya, campur aduk
Aku bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga besar yang hangat
Bapak yang tegas dan disiplin, mendidik dengan mencontohkan. Bapak itu well prepared, jika akan bepergian pasti sudah menyemir sepatu malam sebelumnya, dan siap tiga puluh menit (bahkan lebih lama dari itu ) sebelum jam kesepakatan. Membuat keder kami yang masih pontang-panting belum ini-belum itu. Kalimat-kalimat keras bapak adalah nasehat hidup yang membekas dan membentuk keberadaanku saat ini. Aku ingat ketika pertama kali bekerja, mendapat teguran keras dari supervisor (aku sih tenang-tenang saja waktu itu karena merasa benar). Seorang kawan bertanya kenapa aku begitu tenang, aku jawab "Bapakku lebih keras dari dia kalo bicara"
Terimakasih Bapak, telah menguatkan mentalku menghadapi situasi semacam itu.
Satu hal yang kuingat adalah ketika aku pertama kali bekerja, di luar provinsi, di medan yang sulit berbukit, ketika pulang seorang kakak 'mengasihaniku' dan bertanya aku yakin akan meneruskan pekerjaanku. Yang Bapak katakan adalah "Kabeh ki tergantung sing nglakoni, sing nyawang abot nanging sing nglakoni entheng yo rapapa"
(Berat atau tidaknya suatu pekerjaan tergantung yang menjalani, bukan orang lain yang memandang)
Dan aku selalu belajar terus menanamkan dalam hatiku bahwa semua yang kuhadapi pasti akan sanggup kupikul, bukankah Allah memberikan beban pada hambanya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ibuku, adalah perempuan yang sangat istimewa. Ibu pintar, mengajariku banyak hal. Dari pengetahuan sampai ketrampilan perempuan. Ibu sangat sabaaaaaar....sangat menghargai pilihan hidup anak-anaknya. Ibu begitu mengenal aku dan semua kakakku, ibu memahami kami...
Pokoknya Ibu luar biasa....
Aku dan saudara-saudaraku, menjadi saksi perjuangan cinta beliau berdua. Kami bersaudara yang semua pernah mengalami fase keras kepala, sok tau, dan semaunya sendiri...aku yakin menyimpan kekaguman yang sama untuk Bapak dan Ibu.
Bapak-Ibu....50 tahun !
Sepertinya lirik :
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
Tidak terlalu tepat untuk Bapak dan Ibu
Karena aku yakin rasa cinta itu telah berkembang menjadi luar biasa saat ini.
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
Itu potongan lagu yang dinyanyikan Yuni Shara (feat Rafi Ahmad)
Tentu saja aku tidak nge-fans dengan salah satu atau pun keduanya
Hanya ingin menuliskannya saja, membayangkan jika lagu itu dinyanyikan Ibu dan Bapakku. Beliau berdua merayakan 50 tahun pernikahan di bulan Agustus tahun 2012 lalu.
Bukan perayaan besar, kami sekeluarga berkumpul bersama. Kakak ke-3 menjadi pembawa acara (MC sepanjang masa). Dibuka dengan bacaan ayat suci Alqur'an oleh cucu ke-7 dengan saritilawah cucu ke-13. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh cucu ke-6. Sebenarnya aku yang membuat puisi itu, tapi aku tidak menyimpannya jadi tak bisa kutulis disini.
Yang pasti saat puisi itu dibacakan, kami menyusut air mata diam-diam. Keponakanku itu membaca dengan sungguh-sungguh penuh perasaan. Puisiku yang biasa-biasa saja jadi begitu menyentuh perasaan ketika dibacakan gadis kecil putri kakakku.
Buat aku sendiri yang baru mencicipi dunia pernikahan 9 tahun, bersama lima puluh tahun itu juara dan istimewa. Aku yakin Bapak dan Ibu pernah mengalami masa pasang dan surut, toh itu hal yang lumrah dalam rumah tangga. Melihat beliau berdua sekarang ini...rasanya, campur aduk
Aku bersyukur dilahirkan dalam sebuah keluarga besar yang hangat
Bapak yang tegas dan disiplin, mendidik dengan mencontohkan. Bapak itu well prepared, jika akan bepergian pasti sudah menyemir sepatu malam sebelumnya, dan siap tiga puluh menit (bahkan lebih lama dari itu ) sebelum jam kesepakatan. Membuat keder kami yang masih pontang-panting belum ini-belum itu. Kalimat-kalimat keras bapak adalah nasehat hidup yang membekas dan membentuk keberadaanku saat ini. Aku ingat ketika pertama kali bekerja, mendapat teguran keras dari supervisor (aku sih tenang-tenang saja waktu itu karena merasa benar). Seorang kawan bertanya kenapa aku begitu tenang, aku jawab "Bapakku lebih keras dari dia kalo bicara"
Terimakasih Bapak, telah menguatkan mentalku menghadapi situasi semacam itu.
Satu hal yang kuingat adalah ketika aku pertama kali bekerja, di luar provinsi, di medan yang sulit berbukit, ketika pulang seorang kakak 'mengasihaniku' dan bertanya aku yakin akan meneruskan pekerjaanku. Yang Bapak katakan adalah "Kabeh ki tergantung sing nglakoni, sing nyawang abot nanging sing nglakoni entheng yo rapapa"
(Berat atau tidaknya suatu pekerjaan tergantung yang menjalani, bukan orang lain yang memandang)
Dan aku selalu belajar terus menanamkan dalam hatiku bahwa semua yang kuhadapi pasti akan sanggup kupikul, bukankah Allah memberikan beban pada hambanya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ibuku, adalah perempuan yang sangat istimewa. Ibu pintar, mengajariku banyak hal. Dari pengetahuan sampai ketrampilan perempuan. Ibu sangat sabaaaaaar....sangat menghargai pilihan hidup anak-anaknya. Ibu begitu mengenal aku dan semua kakakku, ibu memahami kami...
Pokoknya Ibu luar biasa....
Aku dan saudara-saudaraku, menjadi saksi perjuangan cinta beliau berdua. Kami bersaudara yang semua pernah mengalami fase keras kepala, sok tau, dan semaunya sendiri...aku yakin menyimpan kekaguman yang sama untuk Bapak dan Ibu.
Bapak-Ibu....50 tahun !
Sepertinya lirik :
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
Tidak terlalu tepat untuk Bapak dan Ibu
Karena aku yakin rasa cinta itu telah berkembang menjadi luar biasa saat ini.
Senin, 14 Januari 2013
KALUNG UNTUK IBU
Ini cerita sudah lamaaaa
banget pengen kutulis dan kubagi, tapi ada saja yang membuat tidak kesampaian.
Cerita tiga bulan lalu saat Sakha PKL ke Bringharjo dan Lottemart, ini
adalah PKL untuk anak-anak agar bisa membandingkan antara pasar tradisional dan
modern.
Seperti biasa, Sakha selalu antusias
mengikuti kegiatan di luar.
“Ibu mau kubelikan apa?” tanyanya beberapa
hari sebelum berangkat.
Anak-anak memang diperkenankan membawa bekal dengan jumlah
nominal maksimal 50 ribu rupiah.
“ Mhm….apa ya, bawang merah aja ya” jawabku
tiba-tiba teringat persediaan bawang merah yang menipis.
***
Selasa, Hari PKL Sakha
Sepulang sekolah Sakha berbagi hasil
belanja.
Akhsan, Abbad dan Sakha
masing-masing mendapat satu set penggaris (yang terdiri dari satu penggaris
lurus 15cm, dua penggaris segitiga dan satu busur derajat).
Warna biru untuk
Akhsan, warna coklat untuk Abbad dan warna pink untuk Sakha.
Selain itu Sakha juga membeli satu lusin
pensil yang dibagi untuk adik-adiknya masing-masing tiga buah dan sisanya
disimpan untuk Sakha sendiri.
“Beli apa lagi?” tanyaku berharap mendapat
sekantong bawang merah
“Aku belie s krim dan coklat sudah kumakan
disana, dan aku beli ini untuk Ibu” Sakha mengangsurkan benda kecil dalam
genggamannya.
Ketika genggaman kecil itu terbuka, ada
sebuah kalung dengan liontin huruf A
“ A, untuk Anjas” Katanya menirukan
sepotong dialog dalam ‘Hafalan Shalat Delisa’
Tiba-tiba saja, ada gelombang kecil di
mataku yang susah ditahan dan rasanya hampir tumpah keluar.
“Terimakasih, Kak” Kuterima kalung itu
sambil kupeluk dan kucium kedua pipi Sakha menyembunyikan keharuanku.
Ah, oleh-oleh dari sulungku ini membuatku
tersenyum di sepanjang sisa hari itu.
Kalung dari Sakha tidak kukenakan di leher,
kusulap menjadi gelang dengan melingkarkannya tiga kali di pergelangan tangan
kiriku.
“Kenapa tidak dipakai di leher, Bu?” Tanya
Sakha
“Ibu lebih suka di pakai jadi gelang, Ibu pengen bisa lihat terus
pemberian Kakak…kalau dipakai di leher, ibu cuma bisa lihat di rumah sambil
ngaca…tapi kalau dipakai di tangan kan bisa dipandang sewaktu-waktu” Jawabanku
menyenangkan Sakha dan dia memberikan hadiah tambahan berupa peluk dan cium
untukku.
***
Seorang teman bertanya
ketika melihat gelang baruku “Wah, gelang baru, emas putih ya Mbak?”
Senyumku mengembang dan
menjawab...”Ini lebih berharga dari sekedar emas permata...ini gelang cinta”
Sakha, anakku, perhatianmu….sungguh meluberkan
kebahagiaanku
Senin, 10 Desember 2012
MASA INKUBASI
Hari Sabtu 16 hari yang lalu, pukul
empat sore aku menjemput Sakha di rumah teman-nya, yang berjarak sekitar 5 Km
dari rumah. Waktu hendak naik ke atas motor, kulihat seekor
nyamuk gendut menempel di lengan kirinya tepat di sebelah siku. Tampak jelas semburat merah di tubuh
belang-belang si nyamuk yang tampak terus asyik menghisap darah meski
Sakha mengayun-ayunkan tangannya.
Gemas, kutepuk makhluk penghisap darah itu yang tak sanggup lagi menghindar karena kegendutan. Plak ! dan bau anyir darah tercium saat kudekatkan tanganku ke wajah untuk memeriksa hasil buruanku.
Gemas, kutepuk makhluk penghisap darah itu yang tak sanggup lagi menghindar karena kegendutan. Plak ! dan bau anyir darah tercium saat kudekatkan tanganku ke wajah untuk memeriksa hasil buruanku.
Sepanjang perjalanan pulang,
bayang-bayang nyamuk loreng bertubuh penuh darah hasil hisapan dari tubuh Sakha
menghantuiku. Aku berusaha mengenyahkan
pikiran bahwa itu adalah nyamuk Aides aigepty, tapi sungguh jelas di benakku
nyamuk yang tadi kutepuk berujud seperti ini.
| Gambar diambil dari sini |
Ampun, ini musim hujan, anakku digigit nyamuk loreng di jam operasi Aedes aegypti (8-9 pagi atau 15-16 sore). Aku khawatir, nyamuk penggigit anakku membawa serta virus DHF dan memaksakannya masuk ke dalam tubuh kecil putri kesayanganku. Teringat aku saat kecil saat pernah dua kali kena DBD di usia 5 dan 11 tahun. Saat TK aku sampai mimisan dan harus opname di Rumah Sakit Tentara beberapa hari, kali kedua kena aku bahkan sampai mimisan, muntah darah dan menginap lagi di Rumah Sakit Umum selama 5 hari. Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang pernah kurasakan.
Tapi bagaimana…anakku sudah digigit
vektornya. Menyegarkan ingatan aku
browsing lagi tentang DHF/DBD pada anak, berupaya mencari jalan untuk mencegah
jangan sampai anakku kena DBD.
Ah, nasi sudah menjadi bubur…yang
bisa kulakukan di hari-hari berikutnya adalah menunggu masa inkubasi berakhir
sambil terus mengamati perubahan sekecil apapun pada Sakha yang mengarah ke
gejala DBD.
Kubujuk Sakha untuk meminum air lebih banyak dari biasa, makan dalam porsi yang kulebihkan dari porsinya semula, memintanya istirahat lebih lama dari biasanya, dan (tiap ada kesempatan) memegang dahi dan badannya memastikan tak ada peningkatan suhu badan. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, sore hari sepulang sekolah, tengah malam saat Sakha tidur, kupantau terus suhu badannya.
Kubujuk Sakha untuk meminum air lebih banyak dari biasa, makan dalam porsi yang kulebihkan dari porsinya semula, memintanya istirahat lebih lama dari biasanya, dan (tiap ada kesempatan) memegang dahi dan badannya memastikan tak ada peningkatan suhu badan. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, sore hari sepulang sekolah, tengah malam saat Sakha tidur, kupantau terus suhu badannya.
Sepanjang masa inkubasi ini aku hanya
bisa memasrahkan pada Allah SWT, sang maha yang mengusai segala kejadian yang
hanya dengan ijin-Nya segala sesuatu akan terjadi. Setetes air pun akan membeku ketika Allah tak
menghendaki si air menetes. Jadi
kulupakan segala ilmu etiologi, epidemiologi penyakit dan tetek bengeknya.
Di luar doa rutin (dan standar yang kuminta dalam sujudku), aku berbisik-bisik dengan permintaan khusus, memohon agar Allah menjauhkan Sakha dari penyakit yang bisa jadi dibawa nyamuk yang menggigitnya sabtu itu.
Di luar doa rutin (dan standar yang kuminta dalam sujudku), aku berbisik-bisik dengan permintaan khusus, memohon agar Allah menjauhkan Sakha dari penyakit yang bisa jadi dibawa nyamuk yang menggigitnya sabtu itu.
Enam belas hari telah berlalu, Alhamdulillah... Allah
mengabulkan doa spesialku.
Terus sehat ya, Nak….Ibu
mencintaimu.
Rabu, 05 Desember 2012
POSTER ALA AKHSAN
Ini masih cerita soal bola, tentu saja masih berkaitan erat dengan Akhsan, si penggemar bola.
Berbeda dengan Sakha yang getol dan lancar membaca sejak berumur 4 tahun, Akhsan menyukai buku tapi lebih memilih dibacakan ibu, bapak atau kakaknya. Sebenarnya Akhsan sudah mengenal huruf dan bisa membaca, tapi mungkin minat bakatnya di bidang menghitung lebih menonjol dan ketika ibu atau bapak tidak bisa (baca=tidak mau lagi) membacakan buku, masih ada Kak sakha yang siap bergaya bak pendongeng mambacakan buku untuk Akhsan.
Untuk memancing minat Akhsan membaca, aku dan suami mencoba rumus baru (ini ide dari suami). Akhsan dimotivasi membaca lewat kesukaannya "BOLA".
Kami belikan majalah tentang bola dan selalu menyediakan koran harian yang tiap hari ada berita khusus tentang bola, bapaknya juga membelikan tabloid bola (ini sih sekalian buat bapaknya ya...)
Lumayan juga, Akhsan 'terpaksa' membaca karena ingin tahu tentang berita bola. Tapi...kok ya tetap ada tapinya. Kemudian Akhsan lebih tertarik pada foto pemain bola, gaya selebrasi gol, skema pertandingan dan skema gol dalam setiap pertandingan yang dimuat full color dalam koran.
Berita hanya dibaca judulnya saja, skor, jadwal dan gambar sudah cukup mewakili buat Akhsan untuk mendapatkan info yang diamauinya.
Kemudian, ada hal lain yang muncul, Akhsan menunjukkan sifatnya yang sebenarnya sudah terindikasi sejak masih sangat kecil yaitu ketelatenan, ke-konsisten-an dan kerapihan dan tentu saja kesetiaan yang kebetulan saat ini tertuju untuk satu hal "BOLA"
Berawal dari melihat poster pemain bola, Akhsan mengutarakan keinginan membuat poster sendiri ala dia. Aku perbolehkan dengan syarat, dia upayakan dan rawat sendiri. Dan Akhsan membuktikannya.
Mulanya dari selembar kertas kosong yang ditempel gambar kepala pemain bola, lalu disusul dengan menyambung lebih banyak kertas, ditempel dengan lebih banyak gambar. Semakin lama semakin jelas polanya. Di tiap pertandingan (yang disukai Akhsan) dia akan menempel hasil (skor) pertandingan, disusul skema gol dan terakhir selebrasi gol dari pemain. Dengan telaten Akhsan menyambung kertas-kertas putih itu, menggunting gambar yang diinginkan lalu menempelkan di poster buatannya.
Kertas paling ujung yang dipegang Akhsan adalah cikal bakal posternya. Semakin lama semakin panjang poster ala Akhsan ini.
Semakin panjang poster ini dibuat. Akhsan juga dengan telaten memisahkan bagian koran yang memuat berita bola, disimpan di 'sarang'nya dan ketika punya waktu luang dia akan kembali melanjutkan menggunting dan menempel menambah panjang posternya.
Dan hebatnya lagi, setiap kali selesai menambah koleksinya atau sekedar menggelar kembali hasil karya untuk dikagumi sendiri atau 'menyuruh' orang lain mengaguminya...Akhsan akan menggulung kembali posternya (kadang minta batuanku karena semakin panjang) kemudian menyimpannya kembali bersama koran bola yang belum digarapnya.
Baiklah, Nak...salut untuk konsistensi dan ketelatenanmu. Ibu tunggu ketelatenanmu di bidang yang lain. Ibu bangga dan sayang padamu !
Berbeda dengan Sakha yang getol dan lancar membaca sejak berumur 4 tahun, Akhsan menyukai buku tapi lebih memilih dibacakan ibu, bapak atau kakaknya. Sebenarnya Akhsan sudah mengenal huruf dan bisa membaca, tapi mungkin minat bakatnya di bidang menghitung lebih menonjol dan ketika ibu atau bapak tidak bisa (baca=tidak mau lagi) membacakan buku, masih ada Kak sakha yang siap bergaya bak pendongeng mambacakan buku untuk Akhsan.
Untuk memancing minat Akhsan membaca, aku dan suami mencoba rumus baru (ini ide dari suami). Akhsan dimotivasi membaca lewat kesukaannya "BOLA".
Kami belikan majalah tentang bola dan selalu menyediakan koran harian yang tiap hari ada berita khusus tentang bola, bapaknya juga membelikan tabloid bola (ini sih sekalian buat bapaknya ya...)
Lumayan juga, Akhsan 'terpaksa' membaca karena ingin tahu tentang berita bola. Tapi...kok ya tetap ada tapinya. Kemudian Akhsan lebih tertarik pada foto pemain bola, gaya selebrasi gol, skema pertandingan dan skema gol dalam setiap pertandingan yang dimuat full color dalam koran.
Berita hanya dibaca judulnya saja, skor, jadwal dan gambar sudah cukup mewakili buat Akhsan untuk mendapatkan info yang diamauinya.
Kemudian, ada hal lain yang muncul, Akhsan menunjukkan sifatnya yang sebenarnya sudah terindikasi sejak masih sangat kecil yaitu ketelatenan, ke-konsisten-an dan kerapihan dan tentu saja kesetiaan yang kebetulan saat ini tertuju untuk satu hal "BOLA"
Berawal dari melihat poster pemain bola, Akhsan mengutarakan keinginan membuat poster sendiri ala dia. Aku perbolehkan dengan syarat, dia upayakan dan rawat sendiri. Dan Akhsan membuktikannya.
Mulanya dari selembar kertas kosong yang ditempel gambar kepala pemain bola, lalu disusul dengan menyambung lebih banyak kertas, ditempel dengan lebih banyak gambar. Semakin lama semakin jelas polanya. Di tiap pertandingan (yang disukai Akhsan) dia akan menempel hasil (skor) pertandingan, disusul skema gol dan terakhir selebrasi gol dari pemain. Dengan telaten Akhsan menyambung kertas-kertas putih itu, menggunting gambar yang diinginkan lalu menempelkan di poster buatannya.
![]() |
| Edisi awal poster |
Semakin panjang poster ini dibuat. Akhsan juga dengan telaten memisahkan bagian koran yang memuat berita bola, disimpan di 'sarang'nya dan ketika punya waktu luang dia akan kembali melanjutkan menggunting dan menempel menambah panjang posternya.
Dan hebatnya lagi, setiap kali selesai menambah koleksinya atau sekedar menggelar kembali hasil karya untuk dikagumi sendiri atau 'menyuruh' orang lain mengaguminya...Akhsan akan menggulung kembali posternya (kadang minta batuanku karena semakin panjang) kemudian menyimpannya kembali bersama koran bola yang belum digarapnya.
![]() |
| Setelah digelar, siap disimpan kembali |
Jumat, 23 November 2012
Ternyata sudah lebih dari satu bulan dari posting terakhir di blog ini, maafkan aku blog sayang. Bukan maksud hati tuk mengabaikanmu...
Kehabisan ide untuk ditulis? tidak. Sebenarnya ide-ide itu berloncatan dan bertebaran. Tiba-tiba muncul saat membalik telur dadar, tring...menyala seperti bola lampu di sela-sela menyetrika baju atau tiba-tiba muncul saat membaca cerita sebelum tidur untuk si bungsu.
Tapi, kok belum ditulis juga? Gak ada waktu? Ehm...tidak berani mengatakan iya, karena waktu itu ada, di sela pekerjaan perencanaan 2013 yang harus dipoles lagi-dipoles lagi, di antara revisi anggaran 2012 yang terbit dua kali, di antara laporan-laporan yang musti dilewati, di antara deadline artikel sampai akhir tahun nanti. Toh aku masih sempat memanjakan diri dengan menemani Sakha membuat cerita dan puisi, membuat soal-soal untuk Akhsan, menemani anak-anak mengaji, membacakan buku untuk Abbad, membaca novel Karl May dan Remysilado, membaca calon novel seorang teman, merajut selimut untuk Akhsan (yang udah jalan 30%) dan tentu saja diskusi asyik dengan suami.
Di antara semua itu sebenarnya masih ada waktu juga buatku untuk melamun sedikit-sedikit, atau memejamkan mata tapi tak tertidur-tidur juga, tapi toh waktu luang itu tak terwujud menjadi satu tulisan saja untuk blog ini.
Apakah malas jadi kendalanya? bisa jadi. Banyak ide, ada waktu, namun tidak segera ditindaklanjuti dengan menuliskannya. Alhasil ide yang tampak cemerlang ketika baru saja terpikirkan, terbengkalai tidak menjadi sebuah cerita yang mengasyikkan. Ujung-ujungnya menyesal karena tak mencatat ide indah itu, pun dalam sebaris-dua baris kalimat sekedar sebagai pengingat.
Beberapa yang kuingat sebagai 'sesuatu' yang ingin kubagikan adalah:
Jadi, lawan malas menulis dengan menuliskan kemalasan !
Kehabisan ide untuk ditulis? tidak. Sebenarnya ide-ide itu berloncatan dan bertebaran. Tiba-tiba muncul saat membalik telur dadar, tring...menyala seperti bola lampu di sela-sela menyetrika baju atau tiba-tiba muncul saat membaca cerita sebelum tidur untuk si bungsu.
Tapi, kok belum ditulis juga? Gak ada waktu? Ehm...tidak berani mengatakan iya, karena waktu itu ada, di sela pekerjaan perencanaan 2013 yang harus dipoles lagi-dipoles lagi, di antara revisi anggaran 2012 yang terbit dua kali, di antara laporan-laporan yang musti dilewati, di antara deadline artikel sampai akhir tahun nanti. Toh aku masih sempat memanjakan diri dengan menemani Sakha membuat cerita dan puisi, membuat soal-soal untuk Akhsan, menemani anak-anak mengaji, membacakan buku untuk Abbad, membaca novel Karl May dan Remysilado, membaca calon novel seorang teman, merajut selimut untuk Akhsan (yang udah jalan 30%) dan tentu saja diskusi asyik dengan suami.
Di antara semua itu sebenarnya masih ada waktu juga buatku untuk melamun sedikit-sedikit, atau memejamkan mata tapi tak tertidur-tidur juga, tapi toh waktu luang itu tak terwujud menjadi satu tulisan saja untuk blog ini.
Apakah malas jadi kendalanya? bisa jadi. Banyak ide, ada waktu, namun tidak segera ditindaklanjuti dengan menuliskannya. Alhasil ide yang tampak cemerlang ketika baru saja terpikirkan, terbengkalai tidak menjadi sebuah cerita yang mengasyikkan. Ujung-ujungnya menyesal karena tak mencatat ide indah itu, pun dalam sebaris-dua baris kalimat sekedar sebagai pengingat.
Beberapa yang kuingat sebagai 'sesuatu' yang ingin kubagikan adalah:
- Kalung dari Sakha
- Wajah Ibu seperti kena meteor
- Jalan hidup Abbad
- Puisi Sakha
- Poster bola Akhsan
- Pinjam rahim (cerpen)
Jadi, lawan malas menulis dengan menuliskan kemalasan !
Langganan:
Postingan (Atom)
-
'Bunda sudah di bandara, sebentar lagi sampai rumah' SMS yang dikirim Risma semenit lalu ke ponsel Bima, suaminya. Segera s...
-
Sejak dulu aku tidak suka sepak bola, tidak suka main sepak bola maupun menonton pertandingan sepakbola. Sewaktu kecil aku dan keluar...
-
Selain oseng-oseng dan sop senerek, sayur masakan ibuk jaman kecil yang melekat di ingatan adalah jangan asem. . Mungkin biasa buat orang ...







