Selasa, 11 Februari 2014

KOSAKATA BARU



Pagi ini mengantar Abbad ke sekolah, dapat cerita seru dari Ustadzah TK.

“Bu, kemarin itu lucu waktu makan siang. “ Ustadzah mulai bercerita dengan penuh ekspresi, maklum ya pengajar TK selalu ekspresif dan menyenangkan ketika berbincang.

Setelah anak-anak selesai makan siang salah satu ustadzah mengatakan, “Wah...kuahnya habis” ini sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak yang antusias makan sayur 

Tak diduga Abbad menjawab dengan ekspresi sedih namun tetap dengan mata binar lucunya sambil mengangkat bahu, menekuk siku dan menengadahkan kedua telapak tangannya (kebayang nggak pose tubuhnya) sambil berkata “ Waduh, maaf... barangkali kami mengambilnya terlalu banyak”

Ustadzah langsung menenangkan dengan kalimat “ Ah, tidak masalah. Ustadzah bisa mengambil di TK B atau di belakang”. Jawaban itu menghilangkan ekspresi sedih Abbad seketika.

Anak-anak seringkali mengucapkan kalimat yang tidak terduga. Kosakata yang diucapkan sebenarnya biasa saja, tapi penggunaannya dalam kalimat dan situasi tak terduga seringkali membuat para orang tua terkikik geli, terpana dan bahkan terpesona

Hal yang sama aku ingat pernah terjadi juga kepada Akhsan (anak ke-2) saat ia berusia 4-5 tahunan dan sekolah TK A...sama dengan Abbad sekarang. Akhsan sangat suka dengan kata ‘mula-mula’. Kosakata ini dia dapat dari ustadzahnya ketika mengajarkan sebuah proses, aku tidak tahu persis proses pembuatan apa.

Sampai di rumah dia ‘mengajarkan’ kosa kata itu padaku. 
“Ibu, sini aku bisa membuat pesawat dari kertas lipat”, katanya memulai .
“Aku direkam ya” pintanya.
Kuambil kamera digital, dan duduk menggelesot di lantai tepat di depannya untuk memulai proses perekaman.
Sambil melipat-lipat kertasnya Akhsan mengiringi dengan narasi yang menarik.
“Baiklah, kita akan membuat pesawat dari kertas lipat. Mula-mula kita ambil kertas lipat, lalu kita lipat seperti ini. Mula-mula kertasnya dibalik, lalu dibalik lagi mula-mula. Lalu mula-mula dibuat seperti ini dan dilipat ke sini mula-mula...nah jadi deh mula-mula pesawatnya”

Aku berusaha menahan kamera tidak bergoyang karena tubuhku terguncang menahan tawa, Akhsan jatuh cinta pada kata mula-mula. Saat itu aku tak menyalahkan atau membenarkan kata mula-mulanya, kubiarkan saja. Hari-hari berikutnya aku kadang menggunakan kata ‘mula-mula’ itu sesuai kaidah yang sebenarnya.  Lambat laun Akhsan mengerti dan sekarang ini kalau kugoda dengan kata ‘mula-mula’ dia akan tertawa-tawa mengingat masa lalunya. Sayang sekali aku kehilangan file rekaman ‘mula-mula’ itu, jadi tak bisa ditayangkan di sini.

Ketika seorang anak mengenal kosa kata baru yang menurutnya menarik, dia akan mencoba menirunya. Kata baru yang menarik bagi anak bisa  karena diksinya yang berbeda dengan kosakata yang sudah dia kenal sebelumnya, atau menarik karena diucapkan oleh orang yang disukainya atau menarik karena ekspresi orang lain yang mendengar ketika kosakata itu dilontarkan. Seiring bertambahnya umur anak, dia akan semakin banyak mendapatkan kata baru yang tidak semuanya baik. Ketika kata baru yang dikenalnya itu masuk dalam  kategori biasa- biasa saja tidak akan menjadi persoalan buat kita para orang tua. Jika kata itu masuk dalam kategori harus dijelaskan, orang tua harus berusaha menjelaskan sebisa mungkin dengan bahasa anak misalnya yang pernah kualami ketika menjelaskan kata ‘selingkuh’ dan ‘kondom’ kepada Sakha.  Yang harus kita hindari adalah salah memberikan ekspresi yang justru akan mengundang keinginan anak untuk mengulang kata yang ‘tidak baik’ . 

Ketika anak mendapatkan kata yang buruk, orang tua tidak perlu langsung tampang wajah menyeramkan. Meski sulit coba pasang ekspresi datar,belajar pasang ‘poker face’ sambil meneruskan obrolan untuk mencari tahu dari siapa atau dari mana anak mendapatkan kata baru itu. Misalkan anak kita  mendengar kata ‘bajingan’ yang diucapkan dengan nada mengumpat, kemudian dia menirukan atau bahkan mengulang-ulangnya.  Orang tua bisa menjelaskan asal kata bajingan.  Sejarah bajingan ini  kudapat dari cerita suamiku. Awalnya bajingan adalah sebutan untuk supir/orang yang mengendarai pedati (Nah....pembicaraan bisa berkembang dengan browsing gambar pedati bersama anak kalau memang dia tiadak pernah melihat bentuk nyata pedati).  Pedati yang merupakan kendaraan jaman dulu berjalan sangat lambat, ketika orang jengkel karena tak kunjung tiba di tempat tujuan sehingga ada yang mengeluh “Bajingan, suwe banget!” – (Jawa: Supir pedati kok lama sekali ). Dalam perkembangannya kemudian dipotong dengan hanya mengeluh “bajingan” yang pada akhirnya dipakai untuk mengumpat sampai saat ini. Dengan penjelasan seperti itu, anak akan paham dan tahu bagaimana menggunakan kata pada situasi dan intonasi yang tepat. Yakin juga bahwa anak adalah agen penyebar informasi yang hebat, dia akan menyebarkan info sejarah itu dengan sangat cepat kepada teman-temannya.

Jadi, berbahagialah jika mempunyai anak yang punya banyak teman, gemar membaca buku atau banyak melakukan aktivitas yang memungkinkan dia menemukan  kosakata  baru. Sebagai orang tua, kita imbangi dengan selalu berusaha menjadi fasilitator yang baik untuk mereka.

LOMBA MENULIS YANG PERTAMA UNTUK SAKHA



 Sakha (si sulung) mencoba mengirimkan cerita yang dibuatnya ke sebuah lomba. Tidak berhasil menjadi pemenang, tapi Sakha mendapat banyak pelajaran tentang proses penulisan, konsistensi mengikuti aturan dan kesabaran ketika gagal.  Ayo sayang, menulis terus ya...Ibu bangga padamu.

 LIBURAN KE OWABONG
 
Namaku Fathiya, umurku 10 tahun dan sudah kelas empat. Aku mempunyai dua orang adik laki-laki bernama Akhsan dan Abbad. Saat libur akhir semester aku diajak ke Owabong, yaitu sebuah tempat wisata di daerah Purbalingga – Jawa Tengah.  Kurang lebih setahun yang lalu aku sudah pernah pergi ke sana saat acara Family Gathering kantor Ibuku, waktu itu kami tidak menginap tetapi kali ini kami akan menginap di Owabong bersama dengan keluarga besar Ibu.  Jauh-jauh hari sebelum berangkat aku sudah membayangkan betapa asyiknya nanti bermain air bersama saudara-saudara di sana. Rasanya tidak sabar ingin segera berangkat. Setiap hari aku menghitung mundur sampai hari keberangkatan.

Perjalanan dari tempat tinggalku di Jogja sampai Owabong sekitar 5 sampai 6 jam dengan mobil, tapi Bapak berencana mengajak kami mampir dulu ke Banyumas dimana Bapak menghabiskan masa kecilnya.  Kami berangkat pukul 22.00 malam, sepanjang perjalanan aku dan kedua adikku tidur. Tahu-tahu sudah pukul 02.00 pagi dan kami sampai di rumah teman Bapak yang bernama Om Agus di sebuah perumahan di pinggir Kota Banyumas. Sampai di rumah Om Agus aku melanjutkan tidurku sampai subuh. Setelah bangun dan sholat subuh,  aku nonton TV lalu Bapak mengajakku jalan-jalan.  Di ujung perumahan ada sawah yang luas sekali, pagi itu agak berkabut tetapi pemandangannya bagus dan udaranya segar.

 “ Nanti mau nggak ke pendopo tempat bapak tinggal waktu kecil dulu?” tanya Bapak
“Ya”, jawabku

Setelah jalan-jalan, kami kembali ke rumah om Agus lalu makan, mandi dan berpakaian. Kemudian kami pergi ke pendopo Kabupaten Banyumas tempat tinggal Bapak waktu kecil sampai SMA dulu. Pada waktu itu, Mbah Kakung (ayahnya Bapak) bekerja di salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas sehingga bertempat tinggal di kompleks pendopo Kabupaten Banyumas.  Pendopo dan gedung-gedung di sekitarnya merupakan bangunan tua yang tinggi, kata Bapak bangunan itu sudah ada sejak jaman Belanda. Pohon-pohon di halaman pendopo besar-besar dan tinggi-tinggi. Ada pohon duku, sawo, manggis, jambu, belimbing, mangga dan rambutan. Kata Bapak ketika kecil Bapak dan teman-temannya biasa memanjat dan makan buah di atas pohon.
Di pendopo itu ada sumur dikeramatkan banyak orang, namanya Sumur Mas, sumurnya kecil dan diberi pagar.  Ada bekas pembakaran dupa di dekat Sumur Mas, banyak orang datang yang percaya kalau air sumur itu bertuah, kalau aku sih tidak percaya. 

Kami bersilaturahmi dengan bekas tetangga Bapak dan berkunjung ke tiga rumah, di salah satu rumah kami singgah cukup lama dan diberi suguhan yang cukup banyak. Setelah itu kami melanjutkan berkunjung ke rumah ibunya Om Agus. Di sana ada tokonya, Aku dan adik-adikku diberi mainan balon yang bisa dibentuk. Setelah bercerita cukup lama, kami pulang ke rumah  Om Agus. Di sana ternyata semua sudah siap untuk bersama-sama pergi ke Owabong.
Perjalanan dari Banyumas ke Owabong cukup lama, sekitar 40 menit. Kami beberapa kali harus bertanya kepada orang-orang di daerah itu.  Katanya kami disuruh mengikuti jalur angkot. Perjalanan pun berlanjut, tulisan Owabong sudah banyak di kiri jalan.  Sesampainya di Owabong kami langsung menuju Hotel Owabong. Tempat kami dan saudara yang lain akan bertemu.. Saat kami masuk ditanya apakah sudah pesan kamar, dan karena Bapak menjawab sudah, lalu kami diperbolehkan masuk.

Kami mencari di mana kamar kami akan menginap. Karena akhir tahun, kamar dan homestay yang disewakan penuh, sehingga hanya dapat dipesan empat kamar besar yang tiap kamar ditempati dua keluarga.  Ketika keluargaku sampai di kamar yang disewa, dua keluarga Budhe ku dari Semarang dan Pekalongan sudah datang, kami bersalaman dengan pakdhe, budhe dan kakak sepupu. Tanpa membuang waktu kami langsung bersiap berenang, langsung lewat jalan pintas sebagai fasilitas gratis bagi tamu yang menginap di Owabong kecuali kolam air hangat dan terapi ikan.  Aku berenang bersama Pakdhe Taufik dan Mbak Isna, Akhsan dan Abbad pergi dengan Bapak. Mula-mula aku renang di kolam dengan permainan bola besar berisi udara yang di dalamnya dikendarai orang.  Aku renang disana, kadang-kadang lari kalau ada bola besar berisi orang yang mendekat.  Setelah bosan bermain di sana, kami ke kolam permainan. Ada banyak prosotan di sana, aku awalnya takut tapi akhirnya aku meluncur diikuti Akhsan. Ketika aku akan ke kolam lain, ada Mas Ojan sepupuku dari Magelang yang rupanya baru saja tiba dan langsung menyusul ke kolam renang.  Aku memberitahu Akhsan kalau mas Ojan sudah datang. Akhsan senang sekali.  Kami langsung main cukup lama lalu kembali ke penginapan, di sana sudah ada Eyang uti, Eyang kung, Pakdhe, Budhe dan sepupu-sepupu dari Magelang dan Surabaya.  Aku langsung makan karena sangat lapar setelah berenang.  Kami makan bekal yang dibawa Eyang dan Budhe, masakan nya enak sekali.

Setelah makan dan istirahat sebentar, aku mengajak ibu ke kolam air hangat dan terapi ikan. Kami berangkat ke sana ber-6. Ibu, Aku, Akhsan, Abbad, Mbak Isna dan Mas Ojan. Tiket untuk masuk tempat itu Rp 15.000,- per orang. Saat masuk kami langsung menuju kolam terapi ikan. Yang ingin merasakan diterapi ikan duduk berjejer di tepi kolam atau berendam di kolam dan duduk diam menunggu ikan-ikan kecil yang datang untuk menggigiti kulit yang sudah mati sel nya. Awalnya kayak dicubitin, tapi lama-lama enak juga. Di kolam terapi ikan cuma sebentar lalu kami bermain di kolam terapi air hangat. Di kolam itu ada banyak pancuran air untuk terapi dan ada gambar besar di tembok menunjukkan titi-titik tubuh mana yang harus kena air mancur agar khasiat terapinya mujarab. Aku dan saudara-saudaraku tidak terapi air hangat tapi membuat permainan sendiri. Kami petak umpet di dalam kolam, yang jadi tutup mata dan yang lain ngumpet tetap di dalam kolam. Ada yang menyelam, ada yang bersembunyi di belakang badan orang, pokoknya diusahakan jangan sampai terlihat dan tertangkap yang jadi, asyik sekali kami main sampai hampir ashar. Ibu lalu mengajak kami kembali ke penginapan, tapi ketika kami keluar dan melewati kolam permainan, kami bertemu mas Hanif, sepupu lain yang baru datang dari Semarang. Akhirnya hanya Ibu yang kembali ke penginapan sedangkan anak-anak melanjutkan bermain bersama Pakdhe dan Budhe di kolam permainan.

Di kolam permainan, ada sebuah bantal udara raksasa yang mengapung di atas kolam. Mula-mula satu orang melompat ke bantal itu lalu berusaha mencapai ujungnya tanpa jatuh lalu ada orang lain yang meloncat dengan keras ke atas bantal. Yang akan terjadi adalah orang pertama akan terpantul ke udara sebelum kemudian tercebur ke air.  Permainan lebih seru kalau orang pertama itu bertubuh kecil dan orang kedua bertubuh besar, pasti akan memantul dengan sangaaat tinggi. 

Puas bermain kami kembali ke kamar untuk mandi dan makan lagi. Sambil menunggu maghrib kami main telpon-telponan antar kamar, saling mengganggu dan menggoda.  Mula-mula permainannya asyik, tapi lama-kelamaan kami dimarahi Budhe-Budhe karena suara telpon menjadi berisik dan bersahut-sahutan he he he. 

Setelah sholat maghrib dan makan lagi, kami semua berkumpul di halaman penginapan.  Pakdhe Taufik salah satu Pakdhe ku mau mengadakan permainan. Permainan pertama adalah lomba makan kerupuk. Pertama yang lomba adalah antara  cucu laki-laki yang masih kecil, lalu antar cucu perempuan yang masih kecil, lalu antar cucu laki-laki yang sudah besar dan terakhir antar cucu perempuan yang sudah besar-besar. Semua bersemangat lomba, tidak ada hadiahnya sih tapi seru sekali berteriak-teriak memberi semangat untuk saling mengalahkan. 

Permainan kedua kami berdiri melingkar lalu berhitung 1-2-3 berulang-ulang. Yang mendapat nomor satu dan tiga menjadi pohon dan yang mendapat nomor dua menjadi tupai.  Lalu dua pohon saling bergandengan dan yang jadi tupai berjongkok di tengah kedua pohon.  Lucu sekali ketika yang jadi pohon sepupu yang kecil-kecil dan yang jadi tupai Pakdhe Aik yang badannya paling besar di antara semua saudara.  Lalu Pakdhe Taufik berdiri di tengah lingkaran dan bercerita, kalau Pakdhe Taufik berkata “pemburu”, yang jadi tupai harus berpindah mencari pohon yang lain. Kalau Pakdhe Taufik berkata  “penebang”, yang jadi pohon harus berpindah tempat dan berganti pasangan. Kalau Pakdhe Taufik berkata “kebakaran hutan”, maka semua harus lari dan berganti posisi.  Permainan itu sangat seru karena adik-adik kecil kadang masih kebingungan saat ada aba-aba dan berteriak sambil lari terbirit-birit mencari tempat.

Permainan ketiga adalah lomba yel-yel. Sebelumnya kami diacak menjadi kelompok dengan anggota lima orang lalu disuruh berembug satu menit membuat yel-yel.  Ada kelompok yang yel-yel nya cuma bilang “Aaaaaaaa.....” sambil mengepalkan tinju. Kelompok Akhsan yel-yelnya meletakkan jari di dahi lalu geleng-geleng kepala sambil bilang “Oye-oye-oye-oye-oye”. Kelompokku pura-pura jadi cheerleader, anggota kelompokku aku, Mbak Isna, Budhe Raras, Budhe Ilak dan Budhe Rum. Kami bergantian maju satu-satu sambil bergaya dan berkata “Give me R”, “Give me A” , “Give me K”, Give me I”, Give me M”   lalu kami berteriak bersama dengan kompak “RAAAAAKIIIIIM” semua tertawa karena Rakim adalah nama Eyang Kakungku.    Setelah semua menampilkan yel-yelnya lalu kami main suit kelompok seperti batu gunting kertas tapi memakai gaya yang berbeda. Gaya Samson, Delilah dan Harimau. Samson menang lawan Harimau tapi kalah lawan Delilah. Harimau menang lawan Delilah tapi kalah lawan Samson dan Delialah menang lawan Samson tapi kalah lawan Harimau.  Seru sekali permainannya karena ada kelompok yang tidak kompak dan lucu sekali gaya Pakdhe dan Mas-Mas ketika bergaya perempuan ketika suit menjadi Delilah. Permainan berakhir ketika akhirnya kelompok Abbad berhasil mengalahkan seluruh kelompok.

Permainan terakhir adalah menyusun puzzle, kelompok diacak lagi menjadi kelompok laki-laki dan perempuan. Yang menang adalah kelompok laki-laki karena tidak mau berbagi puzzle jadi bisa menyelesaikan menyusun terlebih dahulu. Malam itu seru sekali, lalu kami semua tidur agar esok bisa bangun pagi untuk main lagi.

Pagi harinya setelah sholat subuh kami jalan-jalan di Owabong. Kolam-kolam sedang dibersihkan, jadi kami melihat-lihat saja mainan yang ada disitu yang semuanya belum buka karena masih pagi. Ada Misteri Tam Tua atau Rumah Hantu, ada kolam Arapaima Gigas yang ikannya besar-besar dan pesawat terbang betulan tapi tak bisa terbang. Puas jalan-jalan kami kembali ke penginapan untuk sarapan.  Setelah sarapan semua berganti baju renang dan siap untuk bermain air lagi. 

Pagi sampai siang aku dan saudara-saudara berganti-ganti permainan. Mula-mula main di kolam air dera, lalu main bola raksasa yang kita masuk ke dalamnya lalu bola digelindingkan di atas kolam. Permainan bola itu seru sekali, tapi lama-kelamaan rasanya sesak nafas dan kehabisan udara, ketika aku melambaikan tangan petugas jaga wahana bola raksasa itu langsung menarik bola dan mengeluarkan kami dari sana. Setelah itu aku main prosotan yang tinggiiiii sekali. Bosan bermain di kolam permainan aku dan saudara yang lain pergi lagi ke kolam terapi ikan dan air hangat, menjelang siang kami diajak kembali ke penginapan karena itu hari Jumat jadi yang laki-laki akan sholat Jumat.  Sambil menunggu yang sholat jumat, kami di kamar beres-beres barang karena sudah akan meninggalkan penginapan.  Karena capek aku tertidur sampai Ibu membangunanku untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Eyang di Magelang.  Liburan di Owabong sungguh mengesankan.

 
Biodata Penulis
Namaku Fathiya Raan Sakha, biasa dipanggil Sakha, umurku 10 tahun. Aku bersekolah di kelas 4 SD SIBI BIAS Giwangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku punya dua orang adik laki-laki dan sebentar lagi akan punya adik baru karena ibuku sedang hamil 2 bulan, pengennya adikku nanti perempuan.  Hobbyku membaca dan menggambar, aku juga suka menulis puisi dan cerita serta membuat komik.  Selain itu aku juga suka memanjat pohon, kalau memanjat pohon tingiiiii sampai ibuku ngeri melihatnya.
Aku belum punya FB karena kata ibu umurku belum cukup untuk memiliki FB, dulu ibuku pernah bikin FB untukku sih, tapi tak pernah dibuka. Ingin berkenalan lebih lanjut, silahkan email aku di raan.sakha@gmail.com


Kamis, 06 Februari 2014

Kopdar IIDN Jogja 4 Februari 2014 Seru, Semangat, dan Manfaat



Buat saya, tiga kata itu yang bisa menggambarkan suasana Kopdar Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jogja yang berlangsung di basecamp IIDN Jogja Sanggrahan RT 1 RW 15 Tlogodadi, Mlati, Sleman.  Meski lokasinya berada di hampir ujung utara Jogja dan agak nylempit, tidak menyurutkan semangat peserta untuk hadir pada hari itu. 
Masing-masing pasti punya cerita spesial waktu pertama kali mencari lokasi, ada yang langsung nyampe, ada yang nyasar sampe tiga kali, ada yang berkali-kali bertanya dan tetap kesasar juga, dan yang paling heroik ada yang sehari sebelum acara udah survey lokasi duluan agar pas hari-H bisa lancar jaya, ck...ck..ck... betul-betul wellprepared ibu satu ini (yang ngerasa boleh ngacung sambil senyum malu-malu). 
Kalau saya masuk golongan pertama yang beruntung, selain karena ancer-ancer yang diberikan teman panitia sangat detil, kebetulan  kakak saya domisili di seputaran lokasi kopdar, jadi sudah ada gambaran lah letaknya di mana. 
Ini adalah salah satu petunjuk yang menandakan kita sudah mendekati lokasi Kopdar. Foto diambil dari hasil jepretan mbak Meta Nuci

Acara yang dilaksanakan di hari Selasa yang bukan merupakan hari libur, membuat sebagian peserta menjadi sangat kreatif mengatur strategi untuk tetap bisa ikutan. Ada yang mengajak anaknya ikut serta, ada yang ijin sebentar di sela acara untuk urusan jemput anak, ada pula yang mendelegasikan tugas jemput-menjemput ini ke suami, asisten, adik, ponakan, tetangga...pokoknya segala daya dan upaya deh dikerahkan. 
Tidak kalah seru strategi ibu bekerja yang hadir, ada teman yang sehari sebelumnya bertukar jadwal dengan sejawat agar selasa bisa bebas ikut acara dari awal sampai akhir, ada yang menutup kliniknya, ada yang sengaja datang pagi-pagi ke kantor untuk piket dan bermanis-manis dengan atasan agar mudah mendapat ijin keluar, dan tentu saja ada yang ‘kabur’ begitu saja.  Pokoknya semangat membara ini bisa mengubah Ibu-Ibu Doyan Nulis jadi Ibu-Ibu Doyan Nekat.

Acara seru dipandu MC kondang bersuara lantang Mbak Marul Prihastuti, diawali dengan sambutan korwil IIDN Jogja Mbak Astuti Aja dan doa pembuka dilanjutkan perkenalan seluruh hadirin yang terdiri dari tiga narasumber, dua wartawan, tiga rekan dari penerbitan (dua diantaranya datang di tengah acara berlangsung) dan 30 anggota IIDN dan IIDB Jogja. Sesi perkenalan ini penuh gelak tawa, karena ternyata hampir semua berbakat jadi Ibu-Ibu Doyan Ngomong dan Ibu-Ibu Doyan Ngebanyol.

Sesi pertama, Teh Indari Mastuti menyampaikan tentang Serba-Serbi IIDN, Menulis dari Nol dan Menjadi Penulis Biografi.  Mendengarkan founder IIDN ini bercerita, jadi ngeh dengan filosofi (halah sok filosofis) menulis dan tersemangati untuk :
  1. Membuat to do list agar bisa me-manage waktu lebih optimal
  2. Menulis, menulis, menulis sebagai tabungan (ide atau sinopsis)
  3. Mendokumentasikan setiap pencapaian sebagai penyemangat di saat  ‘kelelahan’
  4. Membuat matriks target pribadi (untuk direalisasikan, bukan sekedar jadi pajangan atau target semu)
  5. Komitmen waktu untuk menulis
Bagaimana tidak bersemangat, melihat si Teteh yang kayaknya fully charged dari awal sampe akhir acara, padahal kita tahu kalau Sabtu beliau berangkat ke Semarang terkendala macet Kereta Api karena banjir di Comal-Pekalongan, Minggu siang acara di Semarang dan Minggu malam sudah sampai Jogja. Hari Senin dari pagi sampai sore keliling Jogja menyambangi penerbit-penerbit di Jogja dan malamnya berlanjut bertemu dengan rekan.  Eh...Selasa pagi udah dengan ceria menyapa kami semua yang datang dan tidak nampak lelah sedikitpun. Bagi yang sudah membaca “Puzzle Mimpi” pasti ingat bahwa yang membuat energi Teh Indari selalu berlimpah adalah ‘semangat’.

Sharing tentang menjadi penulis biografi tidak kalah dahsyat. Menulis biografi merupakan tingkatan ‘cukup tinggi’ dalam proses penulisannya, karena seorang penulis biografi tidak sekedar dituntut untuk  memiliki kemampuan teknis menulis semata namun harus memiliki kecerdasan emosi.  Pada prinsipnya siapapun bisa ditulis biografinya asal bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Teh Indari memaparkan langkah-langkah penulisan biografi, konsep penulisan, riset, materi interview, serta menceritakan beberapa kasus penulisan biografi yang gagal karena berbagai sebab.
Satu hal yang ditekankan dalam menulis biografi bahwa sejatinya proses penulisan yang panjang itulah yang akan memberikan pengalaman, pengayaan dan inspirasi bagi si penulis sendiri.  Ketika dia dapat menyampaikan pesan itu kepada pembaca, adalah buah dari sebuah proses panjang yang penuh makna.  Tentu saja itu di luar perhitungan fee yang merupakan kompensasi logis dari sebuah profesi. Nah, kalau menyangkut soal imbalan langsung berubah menjadi Ibu-Ibu Doyan Nduit.

Sesi satu berakhir setelah hampir dua jam (yang rasanya sebentaaaaar banget) berlalu, acaranya berikutnya Ishoma. Eh, sebelum Ishoma ada pembagian doorprize, macam-macam doorprize disiapkan untuk peserta, dari pembatas buku sampai bibit pohon dan saya beruntung mendapat jilbab Zoya warna oranye yang manis, Alhamdulillah. 
Menu makan siang  yang disediakan tentu saja makanan khas Jogja yaitu gudeg. Buat saya yang tidak asli Jogja (tapi cinta Jogja) dan tidak suka makanan yang terlalu manis, gudeg yang dihidangkan kali ini pas banget. Tidak terlalu manis, tidak terlalu kering, dan bukan jangan gori (Jawa: sayur berbahan nangka muda) yang kelebihan kuah...tapi nyemek-nyemek pas gitu. 
Untuk gudeg nikmat ini tak lupa terimakasih buat Mbak Irfa HudayaEkawati alias Mak Pinky yang ikhlas bakti bina bangsa berbudi bawa gudegnya dari Muntilan sana. Waktu jam makan ini ketahuan deh kalau kita semua masuk dalam golongan Ibu-Ibu Doyan Ngisi perut.

Setelah sholat dan makan siang yang nikmat, sesi kedua yaitu sesi parenting dari Mbak Noor Ruly Abyz Wigati yang menggawangi kelas parenting IIDN setiap hari Kamis pukul 15.00-16.00 (Hayooo....udah pernah ikutan belum?). Menurut Mbak Abyz, Ilmu pengasuhan anak akan terus berkembang dan tidak akan habis. Saling berbagi tentang pengasuhan anak akan memicu para ibu untuk menuliskan pengalaman pengasuhan anak yang bisa jadi menginspirasi ibu atau para calon ibu.
Salah satu hal menarik yang disampaikan mbak Abyz tentang pengalamannya melakukan ‘reframe’ untuk anak pertamanya.  Saya pernah membaca sekilas tentang teori ini, namun belum pernah mendengar sharing pengalaman orang tua yang melakukannya. Langsung teringat anak saya yang nomor dua yang sejak play group sampai kelas dua SD masukan dari pengajarnya selalu tertulis agar dia lebih sabar, bisa jadi kami sudah membingkainya menjadi anak yang tidak sabaran. Sampai rumah saya diskusi dengan suami dan berniat mencoba ilmu baru yang didapat tadi (eh, kok ngelantur curhat nih...maaf ya).

Sebelum sesi ketiga dimulai, wakil dari penerbit Galang Press menyampaikan tentang jenis tulisan prosedur penerimaan tulisan. Pada prinsipnya penerbit ini membuka pintu lebar-lebar untuk para Ibu menyampaikan karyanya...Ayo, sekarang waktunya Ibu-Ibu Doyan Nulis Beraksi.  Satu lagi penerbit yang hadir yaitu dari Indonesia Tera juga menyampaikan hal senada di awal pertemuan ketika sesi perkenalan berlangsung.

Sesi ketiga yaitu membuat boneka bulu oleh Teh Enno Ariestha dari IIDB Bandung.  Tidak semua ibu bisa mengikuti sesi ini, maklum hari sudah sore dan mulai terdengar segala rupa dering hape. Ada yang sms, “Mah, malam ini kita makan apa?”, ada yang bilang “Maunya ditemani Bunda” dan yang lainnya.  Bagaimanapun ibu adalah poros rumah tangga, rasanya gimanaaaa....gitu ya kalau sudah sore dan tidak ada ibu di rumah. 

before
Lanjut cerita tentang sesi tiga, peserta yang masih bertahan mulai memilih boneka bulu yang akan dibuat. Ada boneka gurita dan boneka angsa, saya ambil saja satu kantong paket boneka gurita berwarna kuning.  Teh Enno dengan telaten melayani ibu-ibu dari mulai menggambar pola, menggunting, menyambung pola. Hari semakin sore dan tidak semuanya mempunyai tingkat ketelatenan yang sama dalam hal gunting, tusuk dan jahit. Maaf ya Teh Enno kalo ada oknum peserta mengerjakan sambil komentar celamitan, maklum lagi jadi Ibu-Ibu Doyan Ngelantur.

after
Karena waktu tidak memungkinkan, sebagian besar membawa pulang hasil setengah jadi dan setengah tanggung boneka bulu-nya. Saya pun demikian, ini adalah penampakan saat dibawa pulang dari basecamp dan hasil jadinya (dikerjakan seharian di rumah).  Hal yang paling sulit buat saya adalah menjahit bagian wajah si gurining (gurita kuning), setelah saya bandingkan dengan foto hasil boneka gurita di fb Teh Enno, rasanya gurining saya butuh setrika wajah atau minimal suntik botox untuk mengencangkan wajahnya.




Namanya Ibu-Ibu ya, tetep narsis dimanapun berada, ini adalah sebagian jejak narsis yang sempat diabadikan mbak fotografer 
Gaya Bebaaaas....

Akhirnyaaaaa......semua sesi sudah dilalui, secara resmi MC sudah menutup acara, tapi masih ada acara tidak resmi lainnya yaitu meneruskan menjahit boneka bulu, sharing dengan para narasumber yang belum pulang, makan siomay bareng-bareng. Sebagian masih menunggu jemputan, sebagian lagi menunggu hujan reda. Saya harus pulang menembus rinai hujan karena masih harus berkendara 25 kilometer jauhnya untuk bertemu suami dan tiga anak tersayang.

Adzan maghrib terdengar ketika saya sampai di rumah, rasa senang mendapat sambutan empat wajah penuh senyum dan mereka semua sudah selesai makan sore....Oh, sungguh beruntung saya dapat suami yang pengertian bangeeet. 

Malam itu, badan capek namun mata tak kunjung terpejam. Energi yang terpompa seharian tadi tak kunjung suruuut (semoga energi ini bertahan terus...terus...dan terus). Terimakasih untuk semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu, mohon maaf jika ada salah tulis salah ketik.
Sampai ketemu di kopdar berikutnya dan SEMANGAT !


Selasa, 17 Desember 2013

(Masih tentang) Kondom

Tidak bermaksud latah ikut bicara soal simpang-siur berita dan silang pendapat soal pekan kondom nasional, ini cerita tentang bagaimana kami (aku dan suami) harus selalu siap siaga menjawab pertanyaan anak-anak tentang segala info dan hal yang didengar dan dibaca anak-anak.

Sakha, yang tiap hari update berita dari koran tentu saja membaca berita tentang kondom, lha gimana enggak semua koran membahas dengan judul beraneka rupa.

Setelah maghrib senja itu Sakha bertanya :
Sakha : "Ibu, kondom itu apa?"

Ibu  : " Kondom itu, alat kontrasepsi"
Melirik Bapak mencari bantuan kekuata, agak nyesel juga sih ngomong kontrasepsi, khawatir harus menjelaskan soal konsepsi ke Sakha di umur semuda sekarang


Sakha : "Apa itu?"
Bapak : " Itu alat untuk mencegah menularnya penyakit "

Aku dan suami berpandangan menunggu pertanyaan Sakha selanjutnya

Sakha : " Oh, biar nggak nular penyakitnya...berarti kan bagus itu, kenapa banyak orang yang menolak?"
Ibu : " Iya, memang bagus. Kondom seharusnya dipakai untuk orang yang sudah menikah saja, tapi yang jadi berita itu, orang menolak kondom yang dibagi anak sekolah dan mahasiswa yang belum menikah."

Kuharap jawabanku tidak mengundang pertanyaan lain, meski aku sudah siapkan amunisi tambahan.
Sakha : " Oooo, gitu ya"

Sebenarnya aku sudah siapkan jawaban lanjut untuk Sakha jika dia tidak puas. Akan kucoba sampaikan analogi kondom dengan pistol. Pistol itu dipegang dan digunakan oleh yang punya surat ijin untuk memakainya, misalnya polisi. Kalau pistol dibagi ke sembarang orang,nanti berantem dikit-dikit pake pistol bisa bahaya dong....


Jangan Asem