Kamis, 25 Juni 2020

Rapor the Raans


.
Semester ini ibuk tidak bisa ambil rapor the Raans.
.
Sudah ijin ustad/ustadzah, rapor diambil jika kondisi ibuk sudah memungkinkan.
.
Semester ini jika ibuk adalah bu guru di rumah dan diminta bikin rapor untuk the Raans.
.
Isinya semua dapat nilai istimewa. .
Istimewa untuk perhatian buat ibuk.
.
Istimewa untuk kesabaran menerima kondisi ibuk.
.
Istimewa untuk mau berbagi, baik berbagi yang enak-enak maupun berbagi tugas yang bisa jadi (saat ini) rasanya berat.
.
Istimewa untuk berproses menjadi semakin saling mengerti.
.
Meski ada kala dengan rasa berat hati.
.
Meski ada kala dengan air mata ndlewer di pipi.
.
Kalian istimewa.

Bukan gombal.


.
Kalimat indah memang menyenangkan.
.
Membuat hati berbunga dan tersanjung melayang.
.
Tapi cinta tidak sekedar kata-kata.
.
Tindakan, perbuatan, adalah bukti nyata tak terelak-kan.
.
Ada haru ketika Raan1 mengganti dan membersihkan pampers, tanpa masker, tanpa perubahan ekspresi apapun di wajahnya, tak tampak jijik. Lempeng saja. .
.
Bergetar tiap kali Raan2 yang pulang ke rumah menunggui ibuk 3 hari, sebentar-sebentar menengok, menanyakan ibuk perlu apa, ibuk mana yang sakit, atau sekedar menyentuh tangan ibuk.
.
Senyum simpul tiap kali Raan3 memanggil para kucing, menggantikan tugas memberi makan Bong-Bong dan Brownies. Geli melihatnya masuk kamar dengan mimik muka campur-campur, takut, khawatir, sedih, pengen lihat, begidik ngeri. Tapi tetep ndempel-ndempel sambil bilang "pinjam hape" dengan mata bulat dan prengesan mautnya.
.
Lega tiap kali Raan4 mendekat, memeluk, mencium, lalu setelahnya memandang lekat wajahku sambil pasang senyum terbaik memamerkan lesung pipi. Meyakinkan ibuknya baik-baik saja, dirinya juga baik-baik saja.
.
Dan kamu @kiswiradat1 setia menyiapkan yang kubutuhkan, sambil ngopeni anak-anak, menenangkan kala nyeri luar biasa melanda, mendampingi waktu kontrol luka yang aduhai rasanya, sigap menggendong saat saat aku sungguh tak mampu menggerakkan badan.
.
Semua cinta itu, semua sayang itu, sungguh jadi semangat dan kekuatan. .
Terimakasih untuk semua sanak, saudara, kerabat dan teman atas doa, kunjungan, tanda cinta dan segala perhatian. .
Sungguh, itu yang menambah lekas sembuh.
.
Alhamdulillah ya Allah, maturnuwun.

Terus bergerak.


.
Tangan kananku selama ini lebih dominan kupakai dibanding tangan kiri. Setelah melahirkan Raan3 Di tahun 2009 dulu, tangan kiriku berkurang drastis kekuatan nya. Belum pernah kucari tahu sebabnya, Karena masih bisa beraktivitas ringan dan normal. Untuk urusan angkat junjung misal angkat galon ke dispenser, aku andalkan tangan kanan didukung pijakan kaki kiri sebagai tumpuan.
.
Qodarullah, saat jatuh pekan lalu yang terdampak paling banyak adalah kaki kiri yang jadi tumpuan terkuat selama ini, juga tangan kanan yang masih kebas telapaknya dan semutan jari-jarinya.
.
Rupanya aku diberi kesempatan untuk mengoptimalkan kaki kanan dan tangan kiri yang selama ini bukan jadi tumpuan dominan. .
Karena kaki kiri belum bisa dipakai napak, kaki kanan yang hanya dapat 4 jahitan di lutut yang jadi tumpuan belajar jalan.
.
Meski nyeri, tetap harus belajar digunakan, agar lekas bisa berjalan normal kembali.
.
Tangan kanan meski kebas dan nyeri tetap harus rajin digerakkan, buka dan kepal, buka dan kepalkan. .
Jadi....mari terus bergerak. Lima langkah selonjor....lima langkah selonjor. Tarik napas panjang, lanjut bobokan. Enak Kan....
.
Semangat sehat, semangat pulih. Meski tetap harus di rem, latihan gak boleh over dosis, kebanyakan aktivitas bikin kaki bengkak ternyata. Jadi, semangat tapi tetap.sakmadya...
.
Jalani, nikmati, syukuri.
.
Oiya, sepekan di kasur ada banyak pengalaman seru, salah satunya pake pampers sepanjang hari. .
Jadi yang butuh rekomendasi pampers yang nyaman untuk orangtua atau saudara, ntar japri ya, aku rekomendasikan merk adult pampers yang nyaman .

Cinta pertama


Dapat kiriman foto Yangungnya the Raans dari kakak ke-5. Rutinitas  di tiap awal bulan, antri uang bulanan pensiunan.
.
Mengkilap sepatu beliau, mengingatkan puluhan tahun lalu saat beliau selalu menjadi yang pertama selesai bersiap jika akan bepergian bersama.
.
Menyemir sepatu, membraso kepala ikat pinggang biasa beliau lakukan sehari sebelum perjalanan. .
Jadi, saat hari H sudah rapi jali beberapa jam sebelum waktu janjian ditetapkan.
.
Dulu, itu bikin grogi. Terutama untuk anak-anak yang terlambat bersiap.
.
Bagaimana tidak, beliau sudah tampan berdiri necis lengkap, sambil mengawasi kami lintang pukang bersiap.
.
Dulu, itu kadang bikin aku tak enak hati, harus terburu melakukan sesuatu yang waktunya masih jauh dari kata terlambat.
.
Tapi kemudian, itu menjadi sangat berguna di suatu masa, ketika kecepatan dan ketepatan persiapan memang dibutuhkan.
.
Bisa jadi, cinta pertamaku pada kecepatan persiapan, jatuh pada Bapak Ku.
.

Jengkol dan Pete


.
Yang belum kenal dua makanan ini, sini kuberitahu. Jengkol dan Pete ini makanan yang kontroversial dan debatable.
.
Kontroversial karena tampilan dan aromanya bertolak belakang. .
Kalo misal duren ya, kan kulitnya berduri, cocok dengan aromanya yang tajam.
.
Tapi duo panganan ini kulitnya halus, mulus, menthes dan menggemaskan. Sedangkan aromanya, uwouwouwo.....
.
Debatable karena tak semua orang menyukainya. Beda pendapat soal jengkol dan pete, beda menyikapi dengan alasan kesehatan maupun kepercayaan.
Keluarga besarku penyuka keduanya.
Sejak menikah, karena bapake Raans gak suka keduanya, aku mengikuti seleranya. Berhenti mengkonsumsi keduanya.
.
Ibuk-ku jaman dulu kala kalo masak jengkol uenak poll. Digeprek lalu digoreng kemudian dimasak dalam baluran sambal yang endess...ndess...ndess...sampai serpih terakhir.
.
Kalau pete, digoreng plung lap sebentar di minyak panas, dimakan cocol sambel trasi pake nasi hangat....yummy.
.
Naaah, beberapa sore lalu aku dan suami berkunjung ke dokter keluarga, nunggu antrian periksa sambil nonton TV dengan acara makan-makan. Menunya adalah jengkoooool.
.
Mungkin suamiku mengamati reaksiku nonton acara itu, bisa jadi aku nampak sangat berminat.
.
Mungkin mataku nampak segitunya berbinar-binar sampai suamiku bertanya "Ibu pengen?"
.
Biasanya kalo si bapak sudah nanya pengen atau tidak, artinya mau membelikan.
.
"Enggak" jawabku sambil senyum. .
Cukup buatku menikmati kenangan makan jengkol dan pete masakan ibukku. .
Memelihara kenangan manis itu menyenangkan.
.
Mempertahankan rasa rindu itu romantis.
.
-📷foto jengkol hasil masakan Kakak ke4 dan pete yang dijual pedagang dalam perjalananku pagi ini, dishare di grup keluarga besar. Tentu disusul dengan komentar heboh para penikmatnya

Selasa, 17 Desember 2019

My Working Mom

Suatu waktu Raan4 pernah bertanya kenapa ada ibu yang pergi bekerja dan ada ibu yang bisa menunggui anaknya di rumah.

Waktu itu kujawab, pergi bekerja atau di rumah adalah pilihan masing-masing orang. 
Sebab memilihnya bisa macam-macam.

Raan4 menyambung kenapa ibu memilih pergi bekerja keluar? 

Kujawab waktu itu ada lowongan pendaftaran untuk pekerjaan ibu sekarang dan yanguti (ibunya ibu) meminta ibu mencoba mendaftar, setelah melewati tes seleksi ibu lolos dan bekerja keluar sampai sekarang. 

Kutanya Raan4, apakah dia ingin ibu di rumah seperti beberapa ibu temannya? .

Dia jawab, mau punya ibuk seperti ibuk yang sekarang saja, bekerja keluar, asal pas di rumah tetap menemani main atau membacakan buku.

Tempo hari membacakan buku ini untuk Raan4, cekikikan dengan beberapa scene yang mirip-mirip kondisi ibuknya Raans. .

Dari terpaksa membawa pulang pekerjaan, pergi keluar kota, ibuk badmood sampai keluar tanduk istilah anak-anak, atau ibuk masak makanan yang agak kurang membangkitkan selera.

. "Event though I don't always like having working mom, I just can't picture mine any other way" .


Jadi...jalani, nikmati, syukuri ya, nDhuk...

Senin, 16 Desember 2019

Menghadirkan Buku, Satu Langkah Freeport Membangun Hal Luar Biasa dengan Cara Sederhana

Salah satu kenangan masa kecilku yang mengasyikkan adalah tiap kali kakak tertuaku yang bekerja di luar kota pulang membawa oleh-oleh buku.  Iya, buku.  Bukan coklat atau kue-kue yang kutunggu-tunggu, melainkan buku bacaan yang biasanya langsung diserbu aku dan kakak-kakakku yang ada di rumah.  Mengambil buku pilihan, kemudian saling tukar setelah selesai membacanya.

Tentu saja di jaman dulu yang tak semudah sekarang mendapatkan buku, kesempatan diberi oleh-oleh buku tidak datang setiap waktu, Setahun sekali atau  dua kali mendapat oleh-oleh buku sudah menjadi sesuatu yang membahagiakan buatku. Syukurlah ada perpustakaan sekolah di SD inpres dulu, yang tiap kali jam istirahat bisa didatangi untuk membaca.  Judul yang masih kuingat sampai sekarang adalah cerita tentang masa kecil Adam Malik salah satu wakil presiden RI dan  Petualangan di Hutan Rahasia yang membuatku ingin pergi bertualang. 

Saat semua koleksi di perpustakaan sekolah sudah kubaca habis kutanyakan kepada guru apakah akan datang buku baru untuk perpustakaan yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.  Sampai aku lulus kelas enam, koleksi buku tidak bertambah dan hanya itu saja. 

Jadi, sekarang ini jika aku pergi keluar kota, oleh-oleh yang kubawa pulang untuk anak-anakku juga buku.  Sesuatu yang pasti akan mereka terima dengan mata berbinar, kecupan terimakasih, lalu sunyi karena kemudian mereka akan asyik dengan bukunya masing-masing. 

Tapi tak semua anak seberuntung aku bisa mendapatkan akses membaca buku, bukan hanya dahulu, sampai sekarang pun buku masih menjadi barang mewah untuk anak-anak di banyak wilayah. 

Menurut penelitian yang dilakukan UNESCO pada tahun 2016 terhadap kebiasaan membaca pada 61 negara di dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-60, hampir nomor buncit.


Salah satu penyebab rendahnya minat baca dan kebiasaan membaca adalah kurangnya akses. Bagaimana mau membiasakan membaca jika buku untuk dibaca saja tak terjangkau.

Makanya, selalu salut dengan orang atau lembaga yang peduli dengan upaya mendekatkan buku kepada anak-anak.

Ketika aku membaca berita tentang distribusi buku bacaan untuk anak-anak di desa Tangma, Distrik Tangma, Kabupaten Yahukimo, Papua yang dilakukan PT. Freeport Indonesia, ada rasa haru dan harap.
Gambar diambil dari sini


Haru, tentu karena masih terbawa melankoli masa kecil dulu.  Membayangkan binar bahagia di mata anak-anak yang membuka bungkusan buku, memilih judul, membuka lembaran demi lembaran, memuaskan dahaga keingintahuan dengan membaca dan membaca.

Harapan besar agar sulitnya medan yang dilalui untuk mengantar buku untuk anak-anak, lunas terbayar dengan antusiasnya anak-anak membuka cakrawala mereka, memantik keingintahuan mereka untuk membaca lebih banyak lagi.   Memberikan mimpi kepada mereka dan menantang anak-anak untuk meraih mimpi itu asal mereka mau berusaha lagi dan lagi

Gambar diambil dari sini

Berharap agar kontribusi Freeport untuk masyarakat ini akan kita petik hasilnya nanti. Tentu dengan banyak kontribusi  lain yang dilakukan PT. Freeport bisa menjadi bentuk sumbangsih bagi negeri, selengkapnya bisa dibaca di  https://ptfi.co.id/.

Apalagi ketika membaca lebih lanjut kalau upaya mendekatkan buku bacaan untuk anak-anak akan dilanjutkan ke wilayah-wilayah lain di Papua. Akan semakin banyak anak yang akan merasakan asyiknya membaca, serunya berpetualang dan mendapatkan hal-hal baru yang sebelumnya mereka tidak tahu. Akan semakin banyak tunas-tunas bangsa yang bersemi dengan banyak pengetahuan di benak mereka, pengetahuan yang akan memotivasi mereka melakukan yang terbaik untuk diri dan sekitarnya.

Banyak orang besar yang ketika ditanya, bagaimana mereka bisa menjadi sebesar saat ini, menjawab jika mereka mendapatkan inspirasi dari buku yang pernah mereka baca di waktu kecil, kemudian menjadikan membaca menjadi kebiasaan positif yang terus dilakukan sampai menjadi orang yang berhasil.

Iya, kita tak kan pernah tahu, dari lembaran buku mana yang dibaca akan ada suatu hal  yang bisa membuka pikiran untuk melakukan hal-hal luar biasa dan mengubah hidup anak-anak, orang di sekitarnya, lingkungannya, juga untuk bangsa dan negara.



Jangan Asem