Kamis, 20 Februari 2014

J*NA*DI G*MBL*NG

Aku ingat betul tulisan itu (tanpa sensor tentu saja) yang membuat aku dihukum untuk pertama kalinya di sekolah.

Aku, anak kecil cemerlang kebanggaan sekolah (halah)...jatuh martabat karena dua kata itu. He he tentu saja aku tidak berpikir tentang martabat atau kehormatan apapun pada waktu itu, murni keisengan anak kecil yang menemukan sepotong kapur merah dan membutuhkan pelampiasan emosi sesaat.

Kata pertama adalah nama salah seorang temanku di kelas 2 SD, kata kedua  adalah kata dalam bahasa jawa yang berarti ngaco, sableng alias tidak normal pikirannya. Sekarang aku tidak habis pikir, kok bisa-bisanya aku menggabungkan kedua kata itu.

Seingatku teman yang namanya kutulis itu bukan termasuk dalam kategori anak yang usil, bandel dan suka bikin onar dalam kelas. Dia itu anak yang anteng, pendiam dan tidak neko-neko. Bisa jadi pikiran anak kecilku menerjemahkan bahwa anak yang ‘manis menurut kacamata orang tua’ adalah anak kecil yang aneh dan gemblung (#eh gak disensor).

Dua hari setelah membubuhkan tulisan di tembok belakang kantor  guru (nah kan, kenapa pula waktu itu aku pilih tulis di tembok belakang kantor...tidak di WC yang lumayan di luar jangkauan), aku dipanggil wali kelasku Bu Tri.  Rupanya para guru sudah menyelidiki siapa seniman di balik tulisan aneh itu dan dari laporan sana-sini, mengerucutlah tersangkanya kepadaku.

Mungkin Bu Tri kaget juga dengan ke-gemblungan-ku menulis di tembok, dan menyiapkan sebuah hukuman yang cukup intelek buat aku, murid imut kebanggaannya (halah...lagi).

Aku disuruh menulis di selembar kertas dengan kalimat “Aku tidak akan nakal lagi” sebanyak sepuluh baris.  Ah, gampang pikirku, sejak TK aku sudah piawai menulis, jadi hukuman semacam ini tidak akan membuatku jera (h hi hi, keluar tanduk di kepala).

Yang membuat aku bingung adalah ketika Bu Tri menyuruhku meminta tanda tangan Ibu ku di akhir tulisan hukuman itu. What, this is the end of my life!  Ibu ku juga guru SD, tapi tidak sama dengan SD tempat aku bersekolah, itu sengaja dilakukan ibu agar aku (dan kakak-kakakku) lebih mandiri dan tidak berada di bawah bayang-bayang ibu. 

Rupanya ini cara Bu Tri memberitahukan secara tidak langsung kepada Ibuku “Ini lho Bu, anaknya...tolong dididik ya, masak anak guru kok gak bisa kasih contoh yang baik”

Memutar otak, bagaimana aku bisa menjalankan hukuman dengan lancar tanpa tambahan nasehat panjang dari Ibu jika beliau tahu ‘kenakalanku’. Waktu tiga hari yang diberikan Bu Tri untuk menyelesaikan tulisanku tinggal sehari lagi, membawa selembar kertas kosong dan sebatang pulpen aku mendekati ibu.

“Bu, minta tanda tangan” ujarku dengan usaha keras mengatur nada suaraku senormal mungkin
“Buat apa?” Ibu menerima kertas dan pulpen yang kuangsurkan
“Anjas mau koleksi tanda tangan, Ibu tanda tangan di sini ya.” Aku menunjuk titik di kertas itu yang sudah kuhitung akan tepat berada di bawah 10 baris tulisan hukumanku nanti (asli aku gemetar waktu itu, berbohong pada Ibu)

Ibu membubuhkan tanda tangan dan bertanya “Mau minta tanda tangan Bapak nggak? Kan untuk koleksi? Semakin banyak semakin baik” Imbuh Ibu siap memanggil Bapak
Mboten Bu, ini koleksi khusus ibu-ibu” Ujarku sambil berlalu (nah lo, menutup kebohongan dengan kebohongan)

Terbirit-birit aku ke kamar menyelipkan kertas itu di bukuku dan mulai menuliskan 10 baris ‘aku tidak akan nakal lagi’. Karena kamar itu adalah kamar bersama, aku sangat hati-hati dan waspada melihat situasi, jangan sampai kakak-kakaku (yang 7 orang itu) ada yang tahu kalau aku mendapat hukuman.  Selesai menulis, aku lega memandang lembar kertas yang siap kuserahkan ke Bu Tri esok pagi.

Seminggu lebih berlalu dengan aman sentosa sodara, sampai suatu hari  sepulang dari pertemuan guru-guru SD Ibuku bertanya perihal insiden ‘J*na*di gemblung’ itu. Rupanya, Ibu dan Bu Tri bertemu dan mereka membahas tentang aku....Huwaaaaa.  

Tidak ada ekspresi marah dari Ibu, tidak karena aku mempermalukan Ibu, tidak karena aku sudah membohongi beliau.  Justru itu yang membuatku merasa sangat menyesal melakukan hal konyol, aneh dan nggak penting seperti itu yang membuat aku harus berbohong kepada Ibu. 


Jika mengingat kejadian  itu dan  melihat coretan anak-anakku sekarang di tembok rumah, aku bersyukur karena ‘konten’ yang di tulis anak-anak  jauuuuh lebih baik dari ibunya dulu.



Pila ampullacea


Namanya rumah dekat sawah alias mepet sawah, membuat anak-anakku terbiasa bermain dan mengenal segala jenis hewan di sawah.  Belalang, capung, kadal, ulat, kodok, jangkrik, bibis, cethul, kepik, keong dan ular. Selain ular, hewan yang lain tidak membuat mereka (dan aku) ketakutan. 

Satu jenis hewan yang menjadi favorit anak-anak adalah keong sawah alias Pila ampullacea, bukan untuk mainan tapi sebagai santapan. Sila baca tentang kehalalan mengkonsumsi hewan lunak ini di sini atau di sini.

Mulanya ibuku, ketika beliau berkunjung ke rumah kami, ibu  mengambil keong di sepanjang sawah dekat rumah lalu memasaknya melalui proses yang lumayan panjang sampai jadi hidangan yang mhmmmm.....Anak-anak yang semula ragu, kemudian mencoba dan ternyata enak, kemudian menjadi doyan dan terkadang di saat libur sekolah mereka akan menenteng kantong plastik kecil, menyusuri selokan dan sawah dekat rumah untuk mengumpulkan keong dan meminta aku memasaknya.  

Aku, akhirnya menjadi ahli mengolah keong dengan memodifikasi resep dari ibu mengikuti selera anak-anakku.

Serunya berburu dan meramu keong ini, diceritakan Sakha dan Akhsan ke teman-teman di sekolahnya. Sebagian besar teman mereka tidak pernah menyentuh sawah, kalaupun ada yang rumahnya dekat sawah, mereka tidak kenal dengan kuliner berprotein tinggi ini.

Ini penampakan keong sawah, gambar dari sini

Rumahku, menjadi tempat bermain seru untuk teman anak-anak. Bukan karena rumahnya besar dengan mainan yang lengkap...bukan, dari sekian banyak rumah teman Sakha dan Akhsan yang pernah kukunjungi, rumah kami adalah rumah yang paling mungil. 

Sawah, loteng, ayunan dan tangga kayu rupanya menjadi daya tarik buat anak-anak untuk berkumpul, selain (katanya) ibunya Mbak Sakha yang lucu dan wisata kuliner langka untuk mereka, Pila ampullacea ala chef Anjas.

Meskipun tidak setiap kali ada yang main ke rumah anak-anak menyantap keong, tergantung apakah mereka mau berkelana mencari bahan dasarnya, musim yang mempengaruhi ketersediaan bahan baku dan tentu saja tingkat kerepotan chef-nya di rumah.

Bisa jadi anak-anak itu makan keong sawah buatanku sambil  membayangkan menyantap escargot mahal dari Perancis sana ha ha ha.....

Sakha mengendus peluang usaha dalam urusan keong-mengeong ini, memanfaatkan promosi gratis dari mulut ke mulut oleh teman-temannya sendiri tentang lezatnya menyantap keong membuat Sakha berinisaiatif membeli sate keong yang di jual di pasar dekat rumah seharga Rp 1.000,- per tusuk, dan dijual kepada teman-temannya Rp 1.500,- per tusuk.  Ongkos transport kata Sakha. 

Sate keong ini umumnya terkenal di daerah Jawa Barat dan Bali. Namun ...
Sate....sate....gambar dari sini
 

Sakha biasanya membeli keong di hari Senin atau Rabu saat ada jadwal ekstra sampai pukul 17.00 WIB.  Tak mau ambil resiko, Sakha hanya membeli sebanyak jumlah pesanan, jika melebihkan jumlah ia hanya melebihkan satu atau dua tusuk saja untuk dimakan sendiri dan berbagi dengan Akhsan. Sakha jadi tahu ternyata berbisnis di jalur distribusi lebih menguntungkan daripada jalur produksi, enak banget tinggal nenteng keong matang udah dapat Rp 500,- per tusuk tanpa harus capek berjalan menyusuri pematang, mencuci keong, merebus, mencukil, mengiris, merebus lagi, membuat bumbu, menumis.....ah ribet, apalagi ditambah urusan cuci piringnya.

Tapi Sakha pernah bilang, teman-teman yang sudah pernah merasakan sensasi berburu dan masak keong di rumah lebih menyukai makan keong di rumah Sakha daripada membeli jadi. Ya iyalah lebih seru (dan gratis pula ha ha ha). Kalau seperti ini, aku jadi terpikir berbisnis paket wisata main ke sawah dan bersantap keong....mhmmmmm, prospektif kayaknya.

Selasa, 11 Februari 2014

KOSAKATA BARU



Pagi ini mengantar Abbad ke sekolah, dapat cerita seru dari Ustadzah TK.

“Bu, kemarin itu lucu waktu makan siang. “ Ustadzah mulai bercerita dengan penuh ekspresi, maklum ya pengajar TK selalu ekspresif dan menyenangkan ketika berbincang.

Setelah anak-anak selesai makan siang salah satu ustadzah mengatakan, “Wah...kuahnya habis” ini sebagai bentuk penghargaan kepada anak-anak yang antusias makan sayur 

Tak diduga Abbad menjawab dengan ekspresi sedih namun tetap dengan mata binar lucunya sambil mengangkat bahu, menekuk siku dan menengadahkan kedua telapak tangannya (kebayang nggak pose tubuhnya) sambil berkata “ Waduh, maaf... barangkali kami mengambilnya terlalu banyak”

Ustadzah langsung menenangkan dengan kalimat “ Ah, tidak masalah. Ustadzah bisa mengambil di TK B atau di belakang”. Jawaban itu menghilangkan ekspresi sedih Abbad seketika.

Anak-anak seringkali mengucapkan kalimat yang tidak terduga. Kosakata yang diucapkan sebenarnya biasa saja, tapi penggunaannya dalam kalimat dan situasi tak terduga seringkali membuat para orang tua terkikik geli, terpana dan bahkan terpesona

Hal yang sama aku ingat pernah terjadi juga kepada Akhsan (anak ke-2) saat ia berusia 4-5 tahunan dan sekolah TK A...sama dengan Abbad sekarang. Akhsan sangat suka dengan kata ‘mula-mula’. Kosakata ini dia dapat dari ustadzahnya ketika mengajarkan sebuah proses, aku tidak tahu persis proses pembuatan apa.

Sampai di rumah dia ‘mengajarkan’ kosa kata itu padaku. 
“Ibu, sini aku bisa membuat pesawat dari kertas lipat”, katanya memulai .
“Aku direkam ya” pintanya.
Kuambil kamera digital, dan duduk menggelesot di lantai tepat di depannya untuk memulai proses perekaman.
Sambil melipat-lipat kertasnya Akhsan mengiringi dengan narasi yang menarik.
“Baiklah, kita akan membuat pesawat dari kertas lipat. Mula-mula kita ambil kertas lipat, lalu kita lipat seperti ini. Mula-mula kertasnya dibalik, lalu dibalik lagi mula-mula. Lalu mula-mula dibuat seperti ini dan dilipat ke sini mula-mula...nah jadi deh mula-mula pesawatnya”

Aku berusaha menahan kamera tidak bergoyang karena tubuhku terguncang menahan tawa, Akhsan jatuh cinta pada kata mula-mula. Saat itu aku tak menyalahkan atau membenarkan kata mula-mulanya, kubiarkan saja. Hari-hari berikutnya aku kadang menggunakan kata ‘mula-mula’ itu sesuai kaidah yang sebenarnya.  Lambat laun Akhsan mengerti dan sekarang ini kalau kugoda dengan kata ‘mula-mula’ dia akan tertawa-tawa mengingat masa lalunya. Sayang sekali aku kehilangan file rekaman ‘mula-mula’ itu, jadi tak bisa ditayangkan di sini.

Ketika seorang anak mengenal kosa kata baru yang menurutnya menarik, dia akan mencoba menirunya. Kata baru yang menarik bagi anak bisa  karena diksinya yang berbeda dengan kosakata yang sudah dia kenal sebelumnya, atau menarik karena diucapkan oleh orang yang disukainya atau menarik karena ekspresi orang lain yang mendengar ketika kosakata itu dilontarkan. Seiring bertambahnya umur anak, dia akan semakin banyak mendapatkan kata baru yang tidak semuanya baik. Ketika kata baru yang dikenalnya itu masuk dalam  kategori biasa- biasa saja tidak akan menjadi persoalan buat kita para orang tua. Jika kata itu masuk dalam kategori harus dijelaskan, orang tua harus berusaha menjelaskan sebisa mungkin dengan bahasa anak misalnya yang pernah kualami ketika menjelaskan kata ‘selingkuh’ dan ‘kondom’ kepada Sakha.  Yang harus kita hindari adalah salah memberikan ekspresi yang justru akan mengundang keinginan anak untuk mengulang kata yang ‘tidak baik’ . 

Ketika anak mendapatkan kata yang buruk, orang tua tidak perlu langsung tampang wajah menyeramkan. Meski sulit coba pasang ekspresi datar,belajar pasang ‘poker face’ sambil meneruskan obrolan untuk mencari tahu dari siapa atau dari mana anak mendapatkan kata baru itu. Misalkan anak kita  mendengar kata ‘bajingan’ yang diucapkan dengan nada mengumpat, kemudian dia menirukan atau bahkan mengulang-ulangnya.  Orang tua bisa menjelaskan asal kata bajingan.  Sejarah bajingan ini  kudapat dari cerita suamiku. Awalnya bajingan adalah sebutan untuk supir/orang yang mengendarai pedati (Nah....pembicaraan bisa berkembang dengan browsing gambar pedati bersama anak kalau memang dia tiadak pernah melihat bentuk nyata pedati).  Pedati yang merupakan kendaraan jaman dulu berjalan sangat lambat, ketika orang jengkel karena tak kunjung tiba di tempat tujuan sehingga ada yang mengeluh “Bajingan, suwe banget!” – (Jawa: Supir pedati kok lama sekali ). Dalam perkembangannya kemudian dipotong dengan hanya mengeluh “bajingan” yang pada akhirnya dipakai untuk mengumpat sampai saat ini. Dengan penjelasan seperti itu, anak akan paham dan tahu bagaimana menggunakan kata pada situasi dan intonasi yang tepat. Yakin juga bahwa anak adalah agen penyebar informasi yang hebat, dia akan menyebarkan info sejarah itu dengan sangat cepat kepada teman-temannya.

Jadi, berbahagialah jika mempunyai anak yang punya banyak teman, gemar membaca buku atau banyak melakukan aktivitas yang memungkinkan dia menemukan  kosakata  baru. Sebagai orang tua, kita imbangi dengan selalu berusaha menjadi fasilitator yang baik untuk mereka.

LOMBA MENULIS YANG PERTAMA UNTUK SAKHA



 Sakha (si sulung) mencoba mengirimkan cerita yang dibuatnya ke sebuah lomba. Tidak berhasil menjadi pemenang, tapi Sakha mendapat banyak pelajaran tentang proses penulisan, konsistensi mengikuti aturan dan kesabaran ketika gagal.  Ayo sayang, menulis terus ya...Ibu bangga padamu.

 LIBURAN KE OWABONG
 
Namaku Fathiya, umurku 10 tahun dan sudah kelas empat. Aku mempunyai dua orang adik laki-laki bernama Akhsan dan Abbad. Saat libur akhir semester aku diajak ke Owabong, yaitu sebuah tempat wisata di daerah Purbalingga – Jawa Tengah.  Kurang lebih setahun yang lalu aku sudah pernah pergi ke sana saat acara Family Gathering kantor Ibuku, waktu itu kami tidak menginap tetapi kali ini kami akan menginap di Owabong bersama dengan keluarga besar Ibu.  Jauh-jauh hari sebelum berangkat aku sudah membayangkan betapa asyiknya nanti bermain air bersama saudara-saudara di sana. Rasanya tidak sabar ingin segera berangkat. Setiap hari aku menghitung mundur sampai hari keberangkatan.

Perjalanan dari tempat tinggalku di Jogja sampai Owabong sekitar 5 sampai 6 jam dengan mobil, tapi Bapak berencana mengajak kami mampir dulu ke Banyumas dimana Bapak menghabiskan masa kecilnya.  Kami berangkat pukul 22.00 malam, sepanjang perjalanan aku dan kedua adikku tidur. Tahu-tahu sudah pukul 02.00 pagi dan kami sampai di rumah teman Bapak yang bernama Om Agus di sebuah perumahan di pinggir Kota Banyumas. Sampai di rumah Om Agus aku melanjutkan tidurku sampai subuh. Setelah bangun dan sholat subuh,  aku nonton TV lalu Bapak mengajakku jalan-jalan.  Di ujung perumahan ada sawah yang luas sekali, pagi itu agak berkabut tetapi pemandangannya bagus dan udaranya segar.

 “ Nanti mau nggak ke pendopo tempat bapak tinggal waktu kecil dulu?” tanya Bapak
“Ya”, jawabku

Setelah jalan-jalan, kami kembali ke rumah om Agus lalu makan, mandi dan berpakaian. Kemudian kami pergi ke pendopo Kabupaten Banyumas tempat tinggal Bapak waktu kecil sampai SMA dulu. Pada waktu itu, Mbah Kakung (ayahnya Bapak) bekerja di salah satu Kecamatan di Kabupaten Banyumas sehingga bertempat tinggal di kompleks pendopo Kabupaten Banyumas.  Pendopo dan gedung-gedung di sekitarnya merupakan bangunan tua yang tinggi, kata Bapak bangunan itu sudah ada sejak jaman Belanda. Pohon-pohon di halaman pendopo besar-besar dan tinggi-tinggi. Ada pohon duku, sawo, manggis, jambu, belimbing, mangga dan rambutan. Kata Bapak ketika kecil Bapak dan teman-temannya biasa memanjat dan makan buah di atas pohon.
Di pendopo itu ada sumur dikeramatkan banyak orang, namanya Sumur Mas, sumurnya kecil dan diberi pagar.  Ada bekas pembakaran dupa di dekat Sumur Mas, banyak orang datang yang percaya kalau air sumur itu bertuah, kalau aku sih tidak percaya. 

Kami bersilaturahmi dengan bekas tetangga Bapak dan berkunjung ke tiga rumah, di salah satu rumah kami singgah cukup lama dan diberi suguhan yang cukup banyak. Setelah itu kami melanjutkan berkunjung ke rumah ibunya Om Agus. Di sana ada tokonya, Aku dan adik-adikku diberi mainan balon yang bisa dibentuk. Setelah bercerita cukup lama, kami pulang ke rumah  Om Agus. Di sana ternyata semua sudah siap untuk bersama-sama pergi ke Owabong.
Perjalanan dari Banyumas ke Owabong cukup lama, sekitar 40 menit. Kami beberapa kali harus bertanya kepada orang-orang di daerah itu.  Katanya kami disuruh mengikuti jalur angkot. Perjalanan pun berlanjut, tulisan Owabong sudah banyak di kiri jalan.  Sesampainya di Owabong kami langsung menuju Hotel Owabong. Tempat kami dan saudara yang lain akan bertemu.. Saat kami masuk ditanya apakah sudah pesan kamar, dan karena Bapak menjawab sudah, lalu kami diperbolehkan masuk.

Kami mencari di mana kamar kami akan menginap. Karena akhir tahun, kamar dan homestay yang disewakan penuh, sehingga hanya dapat dipesan empat kamar besar yang tiap kamar ditempati dua keluarga.  Ketika keluargaku sampai di kamar yang disewa, dua keluarga Budhe ku dari Semarang dan Pekalongan sudah datang, kami bersalaman dengan pakdhe, budhe dan kakak sepupu. Tanpa membuang waktu kami langsung bersiap berenang, langsung lewat jalan pintas sebagai fasilitas gratis bagi tamu yang menginap di Owabong kecuali kolam air hangat dan terapi ikan.  Aku berenang bersama Pakdhe Taufik dan Mbak Isna, Akhsan dan Abbad pergi dengan Bapak. Mula-mula aku renang di kolam dengan permainan bola besar berisi udara yang di dalamnya dikendarai orang.  Aku renang disana, kadang-kadang lari kalau ada bola besar berisi orang yang mendekat.  Setelah bosan bermain di sana, kami ke kolam permainan. Ada banyak prosotan di sana, aku awalnya takut tapi akhirnya aku meluncur diikuti Akhsan. Ketika aku akan ke kolam lain, ada Mas Ojan sepupuku dari Magelang yang rupanya baru saja tiba dan langsung menyusul ke kolam renang.  Aku memberitahu Akhsan kalau mas Ojan sudah datang. Akhsan senang sekali.  Kami langsung main cukup lama lalu kembali ke penginapan, di sana sudah ada Eyang uti, Eyang kung, Pakdhe, Budhe dan sepupu-sepupu dari Magelang dan Surabaya.  Aku langsung makan karena sangat lapar setelah berenang.  Kami makan bekal yang dibawa Eyang dan Budhe, masakan nya enak sekali.

Setelah makan dan istirahat sebentar, aku mengajak ibu ke kolam air hangat dan terapi ikan. Kami berangkat ke sana ber-6. Ibu, Aku, Akhsan, Abbad, Mbak Isna dan Mas Ojan. Tiket untuk masuk tempat itu Rp 15.000,- per orang. Saat masuk kami langsung menuju kolam terapi ikan. Yang ingin merasakan diterapi ikan duduk berjejer di tepi kolam atau berendam di kolam dan duduk diam menunggu ikan-ikan kecil yang datang untuk menggigiti kulit yang sudah mati sel nya. Awalnya kayak dicubitin, tapi lama-lama enak juga. Di kolam terapi ikan cuma sebentar lalu kami bermain di kolam terapi air hangat. Di kolam itu ada banyak pancuran air untuk terapi dan ada gambar besar di tembok menunjukkan titi-titik tubuh mana yang harus kena air mancur agar khasiat terapinya mujarab. Aku dan saudara-saudaraku tidak terapi air hangat tapi membuat permainan sendiri. Kami petak umpet di dalam kolam, yang jadi tutup mata dan yang lain ngumpet tetap di dalam kolam. Ada yang menyelam, ada yang bersembunyi di belakang badan orang, pokoknya diusahakan jangan sampai terlihat dan tertangkap yang jadi, asyik sekali kami main sampai hampir ashar. Ibu lalu mengajak kami kembali ke penginapan, tapi ketika kami keluar dan melewati kolam permainan, kami bertemu mas Hanif, sepupu lain yang baru datang dari Semarang. Akhirnya hanya Ibu yang kembali ke penginapan sedangkan anak-anak melanjutkan bermain bersama Pakdhe dan Budhe di kolam permainan.

Di kolam permainan, ada sebuah bantal udara raksasa yang mengapung di atas kolam. Mula-mula satu orang melompat ke bantal itu lalu berusaha mencapai ujungnya tanpa jatuh lalu ada orang lain yang meloncat dengan keras ke atas bantal. Yang akan terjadi adalah orang pertama akan terpantul ke udara sebelum kemudian tercebur ke air.  Permainan lebih seru kalau orang pertama itu bertubuh kecil dan orang kedua bertubuh besar, pasti akan memantul dengan sangaaat tinggi. 

Puas bermain kami kembali ke kamar untuk mandi dan makan lagi. Sambil menunggu maghrib kami main telpon-telponan antar kamar, saling mengganggu dan menggoda.  Mula-mula permainannya asyik, tapi lama-kelamaan kami dimarahi Budhe-Budhe karena suara telpon menjadi berisik dan bersahut-sahutan he he he. 

Setelah sholat maghrib dan makan lagi, kami semua berkumpul di halaman penginapan.  Pakdhe Taufik salah satu Pakdhe ku mau mengadakan permainan. Permainan pertama adalah lomba makan kerupuk. Pertama yang lomba adalah antara  cucu laki-laki yang masih kecil, lalu antar cucu perempuan yang masih kecil, lalu antar cucu laki-laki yang sudah besar dan terakhir antar cucu perempuan yang sudah besar-besar. Semua bersemangat lomba, tidak ada hadiahnya sih tapi seru sekali berteriak-teriak memberi semangat untuk saling mengalahkan. 

Permainan kedua kami berdiri melingkar lalu berhitung 1-2-3 berulang-ulang. Yang mendapat nomor satu dan tiga menjadi pohon dan yang mendapat nomor dua menjadi tupai.  Lalu dua pohon saling bergandengan dan yang jadi tupai berjongkok di tengah kedua pohon.  Lucu sekali ketika yang jadi pohon sepupu yang kecil-kecil dan yang jadi tupai Pakdhe Aik yang badannya paling besar di antara semua saudara.  Lalu Pakdhe Taufik berdiri di tengah lingkaran dan bercerita, kalau Pakdhe Taufik berkata “pemburu”, yang jadi tupai harus berpindah mencari pohon yang lain. Kalau Pakdhe Taufik berkata  “penebang”, yang jadi pohon harus berpindah tempat dan berganti pasangan. Kalau Pakdhe Taufik berkata “kebakaran hutan”, maka semua harus lari dan berganti posisi.  Permainan itu sangat seru karena adik-adik kecil kadang masih kebingungan saat ada aba-aba dan berteriak sambil lari terbirit-birit mencari tempat.

Permainan ketiga adalah lomba yel-yel. Sebelumnya kami diacak menjadi kelompok dengan anggota lima orang lalu disuruh berembug satu menit membuat yel-yel.  Ada kelompok yang yel-yel nya cuma bilang “Aaaaaaaa.....” sambil mengepalkan tinju. Kelompok Akhsan yel-yelnya meletakkan jari di dahi lalu geleng-geleng kepala sambil bilang “Oye-oye-oye-oye-oye”. Kelompokku pura-pura jadi cheerleader, anggota kelompokku aku, Mbak Isna, Budhe Raras, Budhe Ilak dan Budhe Rum. Kami bergantian maju satu-satu sambil bergaya dan berkata “Give me R”, “Give me A” , “Give me K”, Give me I”, Give me M”   lalu kami berteriak bersama dengan kompak “RAAAAAKIIIIIM” semua tertawa karena Rakim adalah nama Eyang Kakungku.    Setelah semua menampilkan yel-yelnya lalu kami main suit kelompok seperti batu gunting kertas tapi memakai gaya yang berbeda. Gaya Samson, Delilah dan Harimau. Samson menang lawan Harimau tapi kalah lawan Delilah. Harimau menang lawan Delilah tapi kalah lawan Samson dan Delialah menang lawan Samson tapi kalah lawan Harimau.  Seru sekali permainannya karena ada kelompok yang tidak kompak dan lucu sekali gaya Pakdhe dan Mas-Mas ketika bergaya perempuan ketika suit menjadi Delilah. Permainan berakhir ketika akhirnya kelompok Abbad berhasil mengalahkan seluruh kelompok.

Permainan terakhir adalah menyusun puzzle, kelompok diacak lagi menjadi kelompok laki-laki dan perempuan. Yang menang adalah kelompok laki-laki karena tidak mau berbagi puzzle jadi bisa menyelesaikan menyusun terlebih dahulu. Malam itu seru sekali, lalu kami semua tidur agar esok bisa bangun pagi untuk main lagi.

Pagi harinya setelah sholat subuh kami jalan-jalan di Owabong. Kolam-kolam sedang dibersihkan, jadi kami melihat-lihat saja mainan yang ada disitu yang semuanya belum buka karena masih pagi. Ada Misteri Tam Tua atau Rumah Hantu, ada kolam Arapaima Gigas yang ikannya besar-besar dan pesawat terbang betulan tapi tak bisa terbang. Puas jalan-jalan kami kembali ke penginapan untuk sarapan.  Setelah sarapan semua berganti baju renang dan siap untuk bermain air lagi. 

Pagi sampai siang aku dan saudara-saudara berganti-ganti permainan. Mula-mula main di kolam air dera, lalu main bola raksasa yang kita masuk ke dalamnya lalu bola digelindingkan di atas kolam. Permainan bola itu seru sekali, tapi lama-kelamaan rasanya sesak nafas dan kehabisan udara, ketika aku melambaikan tangan petugas jaga wahana bola raksasa itu langsung menarik bola dan mengeluarkan kami dari sana. Setelah itu aku main prosotan yang tinggiiiii sekali. Bosan bermain di kolam permainan aku dan saudara yang lain pergi lagi ke kolam terapi ikan dan air hangat, menjelang siang kami diajak kembali ke penginapan karena itu hari Jumat jadi yang laki-laki akan sholat Jumat.  Sambil menunggu yang sholat jumat, kami di kamar beres-beres barang karena sudah akan meninggalkan penginapan.  Karena capek aku tertidur sampai Ibu membangunanku untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Eyang di Magelang.  Liburan di Owabong sungguh mengesankan.

 
Biodata Penulis
Namaku Fathiya Raan Sakha, biasa dipanggil Sakha, umurku 10 tahun. Aku bersekolah di kelas 4 SD SIBI BIAS Giwangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku punya dua orang adik laki-laki dan sebentar lagi akan punya adik baru karena ibuku sedang hamil 2 bulan, pengennya adikku nanti perempuan.  Hobbyku membaca dan menggambar, aku juga suka menulis puisi dan cerita serta membuat komik.  Selain itu aku juga suka memanjat pohon, kalau memanjat pohon tingiiiii sampai ibuku ngeri melihatnya.
Aku belum punya FB karena kata ibu umurku belum cukup untuk memiliki FB, dulu ibuku pernah bikin FB untukku sih, tapi tak pernah dibuka. Ingin berkenalan lebih lanjut, silahkan email aku di raan.sakha@gmail.com


Jangan Asem