Senin, 23 Oktober 2017

Pengamat Tampilan

Mei !
Lima bulan berlalu setelah posting terakhir di blog ini.

Anjas, kemana saja kamu?
Ya, tidak kemana-mana...di sini saja. Setiap hari menghadap layar monitor, menarikan jari di keyboard, tapi tak menyentuh blog pelipur hati ini.
Lebih banyak berkutat di seputaran laporan dan anggaran, aplikasi ini dan aplikasi itu.

Jadi baiklah, rasanya seperti gagu, ingin menulis selancar dulu.  Tapi yang terketik pilihan katanya tarasa kaku dan wagu. hmmmm

********
Ini cerita tentang Akhsan, Raan2 yang beranjak besar. Rupanya pemuda kecil ini tipe pengamat yang  detil. Sejak kecil memang Raan2 detil saat menggambar, detil dalam merapikan dan menata mainan, detil dalam menyimpan barang kesukaan. 

Sampai besar sekarang Raan2 jadi pengamat detil ibunya:
  1. Suka menirukan dengan level kemiripan advance bagaimana tahapan perubahan wajah ibunya kalo pas bahagia - biasa aja - jengkel - marah
  2. Tahu kapan hari-hari ibunya agak angot kalau pas PMS, "Ibu mau mens ya?" itu tanya nya dengan santai kalu ibunya lag bad mood.
Suatu saat kami pernah ngobrol begini:

Raan2: " Ibuk itu kalau jemput aku tapi gak pas sekalian pulang dari kantor tuh bajunya kurang rapi"
Ibu     : "Iya, kah? kayaknya ibuk pake baju biasa aja deh"
Raan2: "Iya, kalo diumpamakan laki-laki itu ibuk suka pake kaos oblong"

Memang sih, aku dasarnya gak suka pake seragam. Tapi enggaklah pake kaos oblong jemput anak-anak ke sekolah.

Ibu     : "Misalnya kapan sih pas ibuk pake baju gak rapi?
Raan2: "Waktu jemput aku pulang kemah itu lho, Buk?"

Aku berusaha mengingat-ingat pake baju apa waktu itu, bawahannya kulot lebar dan atasannya hem lengan panjang yang bahannya adem dan berwarna coklat, dan jilbab kaos lebar hitam polos.  Mungkin warna coklat hem itu udah mulai pudar ya, etapi selain warna coklat itu warna kesukaanku, kain adem yang semakin sering dipakai dan semakin kusem akan semakin adem kan?
Tapi memang kalo aku berada di antara para ibu penjemput yang bergamis warna-warni dengan kerudung, pashmina dan teman-temannya yang trendy pastilah nampak seperti kepompong diantara bunga dan kupu-kupu.

Ibu     : "Ogitu, maaf ya kalau Akhsan malu ibuk pake baju kurang rapi"
Raan2: "Gak papa sih, Buk. Yang penting ibuk nyaman"

Aih, anak ini masih jaga perasaan ibunya juga.  Okelah sayang, Ibuk akan mencoba lebih rapi dan tidak 'se-oblong' sekarang ini



Jumat, 26 Mei 2017

Makan Vs Kerja

Preambule:
Tulisan ini sebelumnya draft tertanggal 10 September 2015, catatan yang setengah jadi kubuat hampir dua tahun yang lalu. Kuteruskan hari ini karena ...pengen aja heu heu
------*****------

Ini cerita soal makan, juga cerita soal kerja, kegigihan dan daya juang
Aih, tampaknya akan jadi bahasan yang berat. Kalau nanti terlalu berat untuk dilanjutkan, bisa jadi akan berakhir di folder draft menyusul tulisan lainnya. Hmmmm.... (dan ini beneran terjadi, ngendon di draft hampir 2 tahun)

Baru lulus kuliah, tempat kerja pertamaku adalah sebuah international NGO. Kurang lebih tiga bulan di Gunung Kidul, lalu ditempatkan di Pacitan.
Singkat kata setelah sekitar semingguan gitu aku di Pacitan, kami satu tim (4 orang) makan bareng di sebuah warung makan.  Aku satu-satunya perempuan, dan salah satu yang makan bersama adalah team leader a.k.a supervisorku.

Kalo soal makan ya, kamusku saat itu cuma mengenal dua rasa yaitu enak dan enak banget. Porsi makanku juga cuma dua pilihan yaitu banyak atau banyak banget (Sekarang belum berubah juga kamusnya).

 Tentu saja kesempatan makan gratis ditraktir kumanfaatkan sebaik mungkin. Pilih menu, pesan, makan dengan tekun lalu ludeees.

Waktu menyelesaikan makanku hampir berbarengan dengan pak team leader. Lalu sambil menunggu yang lain selesai makan, bapak itu ngomong ke aku dengan agak bisik-bisik

"Cepat makannya, Mbak Anjas", katanya sambil melirik piringku yang licin bersih
"Lapar, Pak", jawabku malu

"Saya mengamati, kebiasaan kerja orang itu sama dengan kebiasaan makan nya. Ini pengalaman saya bertahun-tahun dan sudah terbukti" Kata beliau sambil manggut-manggut

Aku hanya diam saja sambil senyum-senyum masih malu.
Pikirku waktu itu beberapa alasan kenapa bapak itu ngomong semacam itu ke aku:

  1. Menghibur aku. Melihat aku makan banyak dan super cepat yang tidak lazim buat perempuan dan ketika beliau basa-basi menegur aku mungkin aku tampak malu sekali sehingga dihibur sedemikian rupa dengan kalimat selanjutnya
  2. Doktrin kerja. Sebagai anak baru, beliau ingin menanamkan bahwa aku diharapkan kerja banyak dan selesai dengan cepat tanpa menyisakan pekerjaan. Licin tandas seperti piringku yang tak ada bersisa satu butir nasi pun
Setelah itu aku mulai mengamati orang-orang yang makan bersamaku.  Mencoba mencocokkan teori pak Team Leader.

Eternyata ya...bapak itu banyak benernya lho. 
Banyak kali model orang makan. Ada model orang yang (bukan karena alasan kesehatan lho ya), suka pilih-pilih menu makanan, menyisakan banyak makanan meski dia ambil sendiri itu makanan, menyisih-nyisihkan bagian dari hidangan ke pinggiran piring, mengunyah-ngunyah dengan segan, makan sambil mengerjakan hal-hal lain yang memperlama proses makannya.

Dan setelah dicocokkan antara kebiasaan makan dan kebiasaan kerjanya kok ya banyak yang cocok..hmmmm.

Oiya, sekarang aku agak berubah juga kebiasaan makannya.  Makan cepat dan tak bersisa masih kulakukan sih...tapi sekarang makan tak bisa sebanyak dulu,  mulai tidak mengambil makanan kalo sekiranya tidak terlalu suka, dan seringkali menunda makan.
Kok ya sepertinya sekarang dengan pekerjaan ya begitu juga...he he he he.

Kepengenan meneruskan tulisan ini karena kemarin ada teman Abbad yang main ke rumah lalu makan bareng anak-anak.

Abbad yang biasa makan cepat, kalah cepat sama temannya itu (Ini teman di sekolah sepak bola yang dijuluki 'kijang' karena kemampuan lari nya yang lincah seperti kijang).

Percaya nggak teori makan vs kerja ini ?....silahkan mengamati sendiri

 

Jumat, 19 Mei 2017

Penakluk ketinggian


Jadi, sejak kecil Raan 1 punya hobby dan ketrampilan memanjat yang menonjol.
Saat  belum bisa jalan, Sakha kecil sangat suka memanjat apa saja benda tinggi yang dilihatnya.  Satu yang melekat dalam ingatan adalah ketika umur 8 bulan Sakha berhasil memanjat  teralis jendela rumah Eyang Uti-nyadi Magelang  sampai ujung atas jendela. Meninggalkan ibuknya di bawah menengadahkan kepala, menjulur-njulurkan tangan berjaga dengan harap-harap cemas.
Perasaan ibuk?
Jangan ditanya, tentu saja deg-deg an.

Kesukaannya memanjat disalurkan di mana saja, daerah jelajahnya semakin meluas seiring bertambahnya umur.   Tantangan memanjat pohon di sekitar rumah,  poho-pohon di  halaman sekolah, pagar dan tembok, genteng, menara penampungan air…hmmmmm

Pernah suatu ketika, Ibuk jemput Raan 1 saat kelas 3 SD.
Biasanya, begitu ibuknya nampak  dia akan langsung memanggil..."Ibuuuk".
 Kali itu berbeda, Ibuk celingukan mencari  di kelas, menyisir halaman, menengok area ayunan dan prosotan.

Setelah cari dan tanya sana-sini, ternyata anaknya sedang bertengger santai di dahan pohon talok  paling tinggi di halaman sekolah.

Waktu itu Ibuk menjaga suara tetap tenang memberi instruksi.

"Yuk, Kak turun. Sudah waktunya pulang"

Setelahnya Ibuk memalingkan muka, gak tega lihat proses turun-nya...cuma bisa 'ndremimil' berdoa.

Pernah gagal memanjat?
Iya, pernah, waktu TK bibirnya sobek berdarah-darah.

Waktu itu naik pohon pake rok yang jumbai-jumbai, saat turun meloncat dari dahan terendah, ujung rok nyangkut di dahan dan Raan 1 kehilangan keseimbangan.

Jera?
Sepertinya tidak...
Panjatan adalah tantangan yang mengasyikkan.
Mengasah keberanian sekaligus kekuatan.

Hobby itu berlanjut sampai menjelang remaja sekarang.

Beberapa waktu yang lalu dapat kiriman foto Raan 1 outbond di pondok nya.
Daaan....ibuk di rumah 'ndremilil' berdoa.

Nduk, semangat ya.
Hadapi tantangan, taklukan persoalan.
Dengan keberanian, dengan keyakinan, dengan kesabaran.

Ibuk dan Bapak akan selalu mendoakan.

Kamis, 27 April 2017

Sabar #Parentingbolaseri2

Sudah tahu kan, kalo Abbad menyusul jejak Akhsan, mas-nya, ikut Sekolah Sepak Bola?
Oh, belum pernah kuceritakan ya.

Baiklah, memang sudah lama banget gak cerita di rumah ini...sudah hampir setahun lo #kemanasajacoba?

Jadi Abbad masuk kelas paling bontot yang isinya anak umur 6-8 tahun waktu itu, sekarang sih sudah pada nambah umur jadi 7-9 tahun. Sekarang posisinya centre back alias bek tengah, posisi ke sekian setelah dicoba di semua posisi (kecuali kiper) dan setelah melihat kelebihan dan kekurangannya. Mungkin karena tendangannya keras menyapu bola sampai ke tengah lapangan dan perawakannya yang mendukung menjadi pertahanan yang rapat.

Kalau menurut wikipedia:

  1. Bek tengah berfungsi menjaga sektor tengah pertahanan (dalam beberapa kasus, seperti counter attack disaat bek sayap terlambat kembali, bek tengah bisa menjaga sektor sayap). 
  2. Mereka hampir setiap waktu berada di bagian belakang permainan bersama dengan penjaga gawang untuk menghindari terjadinya gol. 
  3. Bek tengah yang memiliki sundulan bagus kadang-kadang maju membantu serangan saat terjadi tendangan bebas dan hampir selalu maju tendangan sudut. 
  4. Bek dengan sundulan bagus tidak harus berpostur tinggi, contohnya Carles Puyol(spanyol) yang tingginya tidak sampai 180 cm (tinggi rata rata pemain Eropa).

Nah, poin dua itu kesukaan Abbad. Kalo pas tim nya ketemu lawan yang tak pernah menyerang, Abbad bisa santai-santai sambil ngobrol dengan sesama bek atau dengan kiper...hehe.

Poin tiga itu juga jadi andalan Abbad, kalo pas ada tendangan bebas teman-temannya hampir selalu menyebut "Abbad wae, Abbad wae" (Maksudnya Abbad yang disuruh melakukan tendangan bebas).

Aku tanya kenapa begitu dan Abbad bercerita kalo suatu ketika saat tendangan bebas dari tengah lapangan Abbad melakukan tendangan -asal tanpa rencana- yang melengkung dan membobol gawang lawan. Tendangan melengkung itu memukau teman-teman dan juga Abbad sendiri (namanya juga tidak sengaja). 

Sejak itu Abbad jadi lebih rajin mengasah tendangan lengkungnya... ehm.
Emang, ketidaksengajaan seringkali menjadi pemantik hal yang baik (bagi sebagian orang).

Ohiya, kok judulnya tulisan ini "Sabar" ya....nggak nyambung amat sama isinya.

Sabar....sabar...sebentar lagi sampai ke tema sesuai judul. 

Jadi, di suatu Jumat sore sepulang kerja aku dan Shafa mampir lapangan. Nengok Abbad yang sedang latihan. Memperhatikan tingkah polah anak yang bermacam-macam, disuruh operan bola malah ngobrol, disuruh antri shooting malah nendang bola temennya.  Mas pelatih sabar sekali menghadapi anak-anak ini. Padahal ada yang usil juga sama pelatihnya (salah satunya Abbad), Lagi duduk bareng untuk pengarahan, malah ada yang mengumpulkan rumput kering lalu 'menyiramkan' ke mas pelatih.

Sabar yo, Mas. Hobby bola-mu mengantarkan pada fase mengasah rasa. Menghadapi anak dengan segala tingkah polahnya.

Insya Allah kesabaran njenengan akan dibalas manis oleh-NYA


 


Rabu, 10 Agustus 2016

Doa Ibu untukmu, Nak (Edited)

Sudah lebih dari dua pekan berlalu sejak kami sekeluarga + Ibuku (Yanguti) mengantarkan Sakha ke sekolah barunya.

Sebenarnya pengen menuliskan tentang Sakha sejak kemarin-kemarin.  Tapiiii, daripada menulis sambil nangis, mewek ato minimal mbrebes mili....jadi kutahan-tahan sampai hari ini.  Setelah bisa mengeja nama Sakha dengan senyum, tanpa air mata.

Saat meninggalkan Sakha di asrama, Alhamdulillah Allah menguatkanku hingga berhasil menahan air mata tidak tumpah keluar, menetes pun tidak. Bermalam-malam menjelang hari mengantar Sakha, air mata itu sudah luruh, mungkin itu salah satu yang membuatku bisa menahan keluarnya air mata, dah hampir kering he he he he.

Aku tidak mau saat perpisahan, Sakha mengingat wajah ibuknya yang mewek-mewek gak karuan.  Aku ingin wajah sumringah dan senyum mengembang ku bisa menjadi bahan bakar pemompa semangat Sakha, yang paling tidak bertahan selama 35 hari sampai jadwal menengok santri baru tanggal 28 Agustus nanti.

Aku  menjaga perasaan Yanguti, kalau aku menangis di hadapan beliau....takutnya beliau akan menangis juga.  Aku harus tampil menjadi ibuk yang kokoh dan kuat, agar Yanguti tidak mengkhawatirkan kesehatan jiwaku karena berpisah sementara dengan anak sulung #halah

Nampaknya Yanguti juga berusaha menahan tangis, menjaga perasaanku.  Kalo seandainya Yanguti menangis, pasti lah aku bakalan kesetrum mewek juga.

Sakha, kulihat berpayah  menahan tumpahan air mata.  Suaranya sedikit bergetar saat menjawab pamitku.  Tapi aku tahu dia berusaha tampil tegar, membuktikan pada ibunya-yang cengeng ini - bahwa "Ini pilihanku, Bu. Akan kutanggung semua konsekuensinya".

Suamiku, aku tahu hatinya berkeping.  Beberapa hari sebelum keberangkatan Sakha, nampak lah kegelisahan seorang Bapak.  Berkali-kali kupergoki matanya berkaca-kaca saat menatap Sakha di rumah. Momen pamit itu, suamiku kerja keras menghalau galau-nya. Ditutupi dengan senyum dan tawa.

Akhsan dan Abbad melambaikan tangan pada kakaknya, sepanjang jalan pulang mereka bertanya..."Ibuk gak papa?" atau "Ibuk nggak nangis kan?", tahu saja mereka kalo Ibuknya jagoan kalo urusan mewek he he he

Hari-hari pertama Sakha di pondok itu rasanya....ya ampyun banget deh.  Meski masih ada tiga adiknya di rumah, rasanya ada yang beda pake banget.  Bukan terasa kurang....cuma tidak lengkap gitu lho. #apa bedanya coba

Aku jadi teringat kejadian lebih dari dua puluh tahun yang lalu.  Di suatu hari H-1 lebaran, kami sekeluarga sudah berkumpul di rumah.  Mbak-mbak yang bekerja dan kuliah sudah pulang kerumah, sudah ada tujuh anak Ibuk berkumpul.  Masakan lebaran sudah matang, para tetangga sudah dikirim ketupat dan opor ayam.  Kami duduk bercengkrama di ruang tengah.  Tapi Ibu tidak ada....kami cari-cari ternyata ibu duduk di rumah bagian samping.  Bertakbir lirih sambil menangis dengan mata menerawang.  Kami tahu sebabnya, karena Mamas-kakak tertua kami- belum pulang.  Belum jelas pula kabarnya bisa pulang atau tidak dari tempat kerjanya di Jambi saat itu.

Teringat peristiwa itu, terbersit dalam hatiku..."Mungkin seperti ini yang dirasakan Ibu saat itu"


Hari ke-4 dapat kiriman foto Sakha dari Ustadz nya. Rasanya mak nyessss gitu di hati.  Si sulung tampak dewasa dalam balutan jilbab biru di antara teman-temannya.
Itu Sakha yang berdiri di tengah dengan jari saling berkait

Hari-hari berikutnya tidak ada foto Sakha.  Dari banyak foto yang dikirim di grup wali, tak nampak wajah Sakha.  Saat foto kelas nya, tidak terlihat Sakha, tas merah nya pun tak nampak.  Di kelas itu ada beberapa bangku yang terlihat kosong.  Duhai anakku, kemana kamu.  Kok gak nampak di kelas pertama pagi itu.  Apakah kau sakit? terlambat? ada apa, Ndhuk...

Duh, rasanya hati diblender melihat wajah teman-teman sekelas Sakha tapi tak kutemukan senyum anakku di antara mereka.  Kuadukan semuanya pada Allah, kutumpahkan air mata -yang kali ini tak bisa kutahan- kurapalkan doa panjang. "Semoga Sakha baik-baik saja".

Foto Sakha kedua kudapat hari senin ke-3, saat upacara.  Adyuuh....Sakha-ku tampak agak kuyu.
Garis hitam nampak di bawah mata, tanda kalau dia capek dan banyak melek. Meski begitu, tampak senyum dikulum di wajahnya.  Alhamdulillah. anakku baik-baik saja.  Upacara berdiri di barisan paling depan, lelah di wajah mungkin karena masih dalam penyesuaian waktu tidur saja.

Etapi ya, rasanya hati kok masih mencelos saja.  Kusandingkan foto wajah Sakha sebelum berangkat dengan foto terakhir, dan air mataku luruh saat itu juga.

Kuadukan lagi kegalauan hatiku, dalam sujud panjang dhuha.  Air mata tumpah seperti bendungan yang jebol. Kumohon kekuatan hati, kumohon perlindungan Allah SWT.  Dalam doa, kurangkai nama Sakha, Akhsan, Abbad, dan Shafa.  Kumintakan ridha dari-Nya. Khusus untuk Sakha kutambahkan doa spesial, kutitip rindu pada sang Khalik pemilik hati setiap insan.

Hape jadul yang deringnya terdengar sangat merdu hari itu.
Hari berjalan biasa, kulanjutkan tugas pekerjaan.  Menjelang jam 11 siang, hape jadulku bergetar. Ada nomor tak dikenal tampil di layar.
Kuangkat telpon dan kusapa dengan salam, hening sejenak lalu kudengar suara jawaban salam yang sangat kukenal, sangat kurindukan. "Ibuk, ini Kakak" sapanya.

Suara Sakha terdengar bergetar, mungkin menahan tangis rindu juga.  Doa rinduku dijawab Allah dengan rejeki telpon siang itu.
Sakha bercerita bagaimana dia mendapatkan dispensasi untuk telpon ke rumah, Sakha bisa menjawab kuis saat kelas bahasa Inggris.  Alhamdulillah



Sekuat tenaga kuatur suaraku terdengar ceria, aku ingin Sakha mendengar suara Ibuknya tanpa air mata.  Kutanyakan kabarnya, Sakha menanyakan apa yang sedang kukerjakan.  Menitip pesan minta dibawakan dua buku dari rumah saat tanggal menengok nanti.  Buku antologi dari sekolahnya, dan KKPK terbitan Dar Mizan yang memuat cerpen Sakha.

Sakha juga menanyakan kabar Shafa, adik kecilnya.  "Shafa ingat Kakak, nggak?" tanyanya
"Ingatlah, setiap hari minta lihat foto dan rekaman video Kakak" jawabku.

"Besok bawa Shafa nengok Kakak ya, Buk" pintanya.
"Iya, sekeluarga besok nengoknya" jawabku mulai mengharu.

Hening sesaat lalu Sakha berpamitan di telpon dan kutunggu sampai nada tut....tut...terdengar dari hape jadulku. Kupandang hape jadulku yang sejenak kemudian tampak kabur tertutup air mata yang merebak tanpa permisi.  #Aih, terharu.

Aku bahagia, mensyukuri rejeki dapat mendengar suara  Sakha.  Kutelpon nomor suami dan berkabar padanya.  Hening di seberang telpon, aku tahu suamiku pasti sedang 'mewek' di sana. Heu...heu...

Menghitung hari sebelum bertemu anakku lagi, tak seberat hari-hari yang telah lalu.  Aku yakin Allah menjaganya, aku yakin Allah menguatkannya, aku yakin Allah menyayanginya.

Anakku
Ibu bangga padamu...
Pada pilihanmu
Pada keteguhan hatimu
Doa Ibu selalu panjatkan untukmu



Tambahan:
Karena respon dan komen, banyak yang ikut mewek (utamanya ibu-ibu), aku tambahkan penutup yang semoga bisa menjadi pelipur lara kita semua #halah

Hari Kamis setelah Senin dapat telpon, dapat kiriman japri dari Ustadnya Sakha
Kak Sakha lagi setoran nadhom shorof ke Ustad Arif Agung, semangat ya Ndhuk!


Alhamdulillah, tampak sehat ceria, kantung mata dan garis hitam di bawah mata tak nampak lagi. Semoga ridha Allah terlimpahkan padamu, Ndhuk.  Aamiin












Rabu, 27 Juli 2016

"Apa ico...Apa ico"

Kalo dulu Akhsan beken dengan Yayan mau yiyi, yang ada ceritanya di sini.
Sekarang ganti Shafa si bungsu yang lagi suka banget bilang "Apa ico...Apa ico" (baca: Shafa bisa).

Semua-mua mau dilakukan sendiri, semua-mua yang dilakukan bapak, ibuk, kakak dan mas-mas nya mau dicontohnya.
 
Kakak dan mas-mas nya sedang bertugas merapikan koin yang berantakan. Mustinya sih dimasukkan ke dalam toples yang berbeda. Toples seribuan, toples limaratusan, toples duaratusan dan toples seratusan.
Tapi Apaico...Apaico ini kalau sudah mulai beraksi ya bikin misi gagal. Tapi alhamdulillah yang gedhe-gedhe pengertian liat niat baik adik kecilnya yang mau membantu. ...Apaico...Apaico.



Kali lain Mas Abbad sedang asyik membaca di salah satu sudut baca favoritnya. Kursi kayu di depan. Etapi datanglah Apaico...Apaico.  Mengakuisisi tempat Mas Abbad, bergaya membaca komik lalu action ketawa-ketawa sendiri seolah ngerti apa yang dibacanya.
Yasudahlah gakpapa, selamat datang kutu buku baru.
Shafa ini, kalo pas pergi ke toko buku, sudah ikut-ikutan PD kayak sodara yang lain, berkeliling rak, mencari buku yang akan dibeli.  Kalo sudah dapat, langsung deh mengacungkan buku mengajak ke kasir. "Niiih, butu Apa" (baca: ini buku Shafa).



Kalo yang ini sebenarnya menyalurkan hobby maen air, trus sekalian aja sama ibuk diminta ngguyur motor ibuk.  Bukan memperkerjakan anak di bawah umur lho ya, tapi daripada airnya mubazir terbuang percuma.  Lagian kalo Ibuk yang pegang selang, lalu si bungsu lihat. Pasti lah keluar jurus Apaico...Apaico.
"Yasudahlah, ini dicuci sekalian motornya. Setelah itu mandi ya, trus maem, lahap yang makan setelah capek maen air".




Selain air, hal yang menariiik banget buat Shafa itu adalah setrika.  Kayaknya jadi barang ajaib yang disuka Shafa. Meski di rumah dia hampir gak pernah liat ibuknya nyetrika (yang cuma dilakukan kalo dia lagi bobok).  Tapi di tempat budhe nya, Shafa pernah liat keajaiban setrika.  Jadi di rumah dia mulailah menggelar alas, menyiapkan semprotan pelicin, mengambil baju-bajunya dan mulai menyetrika.  Apaico....Apaico....





 Nah, kalo soal sholat ini ya...begitu dengar adzan si Apaico ini jadi tukang opyak-opyak.  Shafa akan mengajak Kakak dan mas-masnya untuk segera beranjak dari apapun yang sedang mereka kerjakan saat adzan berkumandang.  Jika bapaknya di rumah diajak ke masjd.  Gak lupa wudhu, membawa mukenah dan menyiapkan uang infak dan setengah berlari mengambil sandal sambil ber-Apaico.








Gak ketinggalan juga soal kegiatan ekstra.  Latihan sepakbola, shafa rajin nonton dan ngriwehi baik di lapangan ato di rumah.  Latihan karate juga dia sukai...sibuk banget pake baju karate kakaknya lengkap dengan sabuk sambil pake sarung tangan kiper.

Jelas saja dengan backsound Apaico...Apaico....saat memakai mengenakan sabuk dan memakai sarung tangan.







Soal keberaniannya naik ayunan, boleh diadu lah dengan mas-mas nya dulu.  Gak takut tuh saat di ayun lumayan kenceng sama bapaknya.  Malah ketawa-ketawa dan pose miring-miring.

Malah jadi Ibuknya yang khawatir sendiri. Pas naik ayunan juga maunya gak dibantuin, segala sendiri.  Apaico lah pokoke,





Satu lagi, si Ibuk kan lagi belajar dikiiit untuk beryoga.Barang 15 menit lah disempatkan beryoga, lah sekarang baru menggelar matras sudah langsung dibajak itu matras sama master yoga Apaico...Apaico....

Baiklah Ndhuk, yang penting kamu sehat.











Catatan tambahan:
Ada teman yang kasih masukan, "Mbok dikasih simpulan, saran, tips ato apa di akhir tulisan gitu"
Hadyuh, begemana ya...berasa bikin laporan atau tesis gitu kalo musti kasih simpulan saran dan masukan/rekomendasi.

Bacaan ini kan bacaan ringan ya, sekedar cerita saja. Untuk catatan perjalanan anak-anak.  Kalo dibaca menghibur ya syukur, ada teman yang merasa menghadapi hal yang sama oke...kesimpulannya ya kembali ke masing-masing pembaca.

Untuk tips menghadapi anak yang ingin melakukan semua sendiri, bolehlah kubagi.  Ini adalah tips ala-ala aku sendiri...gak pake referensi ahli parenting siapa dimana.

  1. Biarkan anak melakukan sendiri apa yang mereka ingin lakukan, kepercayaan yang kita berikan akan memupuk rasa percaya diri anak;
  2. Tetap awasi dan dampingi yang dilakukan anak, terutama hal-hal yang mungkin menyerempet bahaya.  Misal naik tangga, menuang air panas.  Sigap tapi tidak panik diperlukan di saat-saat tertentu;
  3. Sambil melakukan sesuatu jelaskan konsekuensi pada anak, tanpa menakut-nakuti.  Misal " Nuang airnya pelan-pelan ya....kalau tumpah nanti tolong sekalian di pel"  hindari kata "Awas lho tumpah airnya, ntar kepleset kejedot kepalanya benjol";
  4. Tidak usah terburu-buru menolong saat anak 'terlihat' kessulitan, biarkan dia menemukan sendiri jalan keluarnya. Tapi ya jangan kebangetan ya....sampe anak nangis jejeritan baru ditolongin ...eh
  5. Berikan pujian tulus ketika anak berhasil menyelesaikan sesuatu, meski itu mungkin hal yang sangat sederhana buat kita/ Seperti "Wah, pinter...pake sandal sendiri gak kebalik" atau "Siiiip, keren, anak ibu sudah bisa sisiran sendiri"
  6. ...Isi sendiri yah







Selasa, 26 Juli 2016

Bully, Jaman Dahulu Kala



Ini masih ada gandeng renteng dengan cerita usai reuni kemarin. 

Beberapa teman tak bisa hadir saat reuni,  sebagian karena jadwal mudik yang tidak pas karena memang kalo lebaran pasti agenda berkunjung ke rumah saudara itu full banget kan ya.

Etapi dari kabar bisik-bisik, ada yang tak hadir karena ‘tak terjangkau’.  Tak terjangkau ini bukan karena dia tidak bisa dihubungi loya.  Orangnya ada, tapi tak terjangkau karena tak bisa diajak komunikasi.  

Teman yang sempat bertemu dan menyapa, diabaikan dantidak ditanggapi  Kabar bisik-bisik lagi katanya dia menderita ‘mentally ill’ .

Emmm, aku belum pernah sekelas sih sama dia, baik SMP maupun SMA.  Tapi memang pas SMA itu, anaknya tertutup, pendiam, dan sering jadi bahan guyonan teman-temannya.

Coba mengingat jaman remaja dulu, utamanya SMA ya, saling ejek, guyon, garap-garapan, ganggu, ledek, itu makanan sehari-hari.  Dan Kayaknya semua menjadi korban dan sekaligus pelaku.  Jadi ‘saling’ membully gitu.

Kalo pas kelas olahraga, ada lho anak laki yang dikeroyok teman-temannya, dilepas bajunya (tinggal celana pendek) lalu digotong rame-rame, dimasukkan ruang ganti perempuan lalu ditahan pintunya dari luar. (Halaaah....kelakuan macam apa ini ya)

 Ada yang namanya selalu disebut, disodor-sodorkan ke guru tiap kali ditanya siapa.  Misal....siapa yang berminat ikut lomba? Serempak dijawab "Anuuuuu" (sebut satu nama).  Siapa yang buang sampah sembarangan nih di kelas? Serempak lagi dijawab "Anuuuuu" (Eh dia lagi disebut). Dan masih banyak banget jenis dan cara untuk ngerjain orang saat era saling membully itu berlangsung.

Korban dan pelakunya bergant-ganti, yaitu tadi 'saling membully"
Memang sih, ada juga target korban yang jadi favorit untuk dijadikan bahan ledekan, yang bisa jadi memenuhi kriteria berikut:
1. Pasrah, tidak melawan, tidak marah, biasanya kemudian berusaha menghindari kerumunan anak-anak sadis
2. Cuek, mo diapa-apain juga biar aja. Tetep ketawa-ketawa dan tidak marah juga
3. Bahagia, diledek atau dikerjain kayak apa dia seneng-seneng aja karena kemudian punya alasan untuk melakukan pembalasan yang lebih ajib.
4. Tipe lain yang pada intinya bisa untuk bahan guyonan dan becandaan


Kemarin sempat diskusi juga sama teman via WA soal bully membully jaman sekolah dulu.  Kalo di ingat-ingat apa yang dilakukan saat itu tuh sadis bin jahat.  
Tidak ada alasan yang masuk akal bagi siapapun untuk meledek, menghina, mengerjain orang lain sampai segitunya entah itu dalam koridor bercanda atau series....itu sadiiis.

Etapi para korban itu juga reaksinya bermacam-macam tuuuh (mungkin tergantung empat tipe di atas atau tipe-tipe yang lain).  Ada anak yang mengalami hal yang sama tapi tetap aja berkibar bahagia (nampaknya) sampai saat ini. Mungkin dia memang anak yang kuat dan dibekali senjata pamungkas rahasia oleh orang tuanya.

Jadi kesimpulan sementaraku mengatakan:
1. Bully saat usia anak/remaja bisa 'mematikan' karakter di kemudian hari
2. Anak dengan konsep diri positif yang kuat akan menjaga dia dari 'kerusakan' akibat bully dari lingkungan

Jadi PR ku sebagai orangtua itu:
1. Membangun konsep diri positif dan kuat untuk anak
2. Ajarkan anak untuk tidak menjadi pelaku 'bullying' dan berani membela teman yang jadi objek 'bully'

Dengan doa khusyuk #Semoga dimampukan


Jangan Asem