Jumat, 19 Oktober 2012

SISA DEMAM EROPA

Ini cerita sudah lama kubuat draft-nya, tapi belum berani ku upload sampai aku yakin pada simpulan alias ending cerita nanti.  Setelah kusimpan tiga bulan, kuputuskan untuk menceritakannya di sini.

Demam piala Eropa sudah reda, digantikan dengan demam piala yang lain.  Piala Eropa tahun ini menorehkan cerita tersendiri bagi keluarga kami.

Ini soal televisi, TV yang sejak aku menikah dengan suami 'sengaja' tidak kami beli....lebih jelas di sini.
Sekarang ceritanya berbeda, di rumah kami ada sebuah LCD monitor yang semula tak difungsikan, saat ini  dilengkapi dengan antena bundar dan perangkatnya yang dikenal dengan istilah TV tuner

Gambar diambil dari sini  dan sini

Ya, di rumah ada TV. Kami akhirnya membeli atas permintaan Akhsan anak keduaku.  Berawal dari saat anak-anak dititipkan ke rumah Budhe di Magelang karena aku dan suami harus pergi ke luar kota pada waktu yang bersamaan, cerita lengkapnya ada di sini.  

Nah, ketika aku mengajak anak-anak pulang ke rumah tidak ada yang keberatan kecuali Akhsan.  Dia tidak mau pulang kalau di rumah tidak ada TV. Hal ini terjadi karena selama di Magelang, Akhsan berpartner dengan Pakdhe-nya nonton Piala Eropa, dan tak mau ketinggalan berita serta melewatkan pertandingan tim favoritnya.

Berunding dengan Bapak dan Kakak Sakha, kami memutuskan untuk membeli TV Tuner dengan beberapa persyaratan :
  1. Digunakan untuk nonton pertandingan sepakbola saja
  2.  Nonton sepakbola malam hari hanya jika pagi harinya adalah hari libur (Sabtu, Ahad atau hari libur lainnya)
  3. Di hari aktif masuk sekolah, jika ada pertandingan sepakbola di malam harinya boleh pagi-pagi cari berita hasil pertandingan di TV yang ada running text-nya
Akhsan menerima syarat itu dan Alhamdulillah sampai saat ini ketiga aturan dituruti anak-anak (khususnya Akhsan) dengan sangat baik.

Sakha justru mewanti-wanti aku dengan kalimat "Ibu, TV tuner ini bukan 'TV' lho Bu... aku pengen tetap pegang rekor di sekolah jadi anak yang tidak punya TV"

Tidak punya TV adalah kebanggan tersendiri untuk Sakha, di sekolah gurunya memberikan pujian untuknya karena tidak punya TV, teman-temannya juga menganggapnya 'hebat' karena bisa hidup tanpa TV.

Jadi teringat potongan lagu yang syairnya di-pleset-kan Sakha

Lagu yang seharusnya berbunyi
Aku punya televisi,  Alhamdulillah
Aku pilih-pilih
Acara yang baik
yang tidak syirik

Diganti menjadi
Aku nggak punya televisi,  Alhamdulillah
Nggak usah pilih-pilih
Acara-acara
Jadi tidak syirik



Senin, 08 Oktober 2012

RUMAH YANG DIKUNJUNGI



'Bunda sudah di bandara, sebentar lagi sampai rumah'

SMS yang dikirim Risma semenit lalu ke ponsel Bima, suaminya.  Segera setelahnya, dering dengan spesial tone terdengar, Bima menelepon Risma.

“Bunda, cepat pulang.....Nana kangen !” 
terdengar suara Natya suara sulungnya begitu Risma mengucap salam.

“Bawa oleh-oleh yang banyak Bun !”
 kali ini terdengar suara Panji, adik Natya
“Iya sayang, ini sudah naik taksi. Tunggu 15 menit ya. Assalamu’alaikum”

Risma memutuskan hubungan, senyumnya mengembang penuh kebahagiaan.

“Puri Asri,Pak “ pintanya pada supir taksi

Lima belas menit kali ini menjadi waktu yang sangat lambat untuknya, kerinduan pada anak-anak setelah berpisah satu minggu dengan sepasang buah hatinya. Rindu mendengar celoteh dan tingkah mereka, rindu bermain bersama, membaca, menggambar, pentak umpet dan makan bersama. Bersliweran di benaknya senyum lebar Natya, wajah sendu Panji dan tentu saja tatapan teduh Bima, suaminya.

Begitu taksi berhenti, Natya dan Panji menghambur keluar dari pagar, tak sabar menunggu Risma membayar ongkos taksi. Seperti berlomba mereka menarik perhatian bundanya dengan bercerita bersahutan, menggandeng tangan, menarik baju.
Bima, dengan senyum tenang membantu mengeluarkan tas dan kantong oleh-oleh dari bagasi.

“Apa kabar, Yah” 
Ucap Risma sambil mencium tangan suaminya
“Baik” 
senyum Bima sembari mencium keningnya
Risma memandang suaminya, merasakan ada sesuatu yang berbeda pada senyum suaminya
“Anak-anak baik saja?” 
tanyanya sambil membantu sang suami mengangkat bawaan ke dalam rumah

“Baik, lihatlah mereka” Ucap bima sambil menunjuk dengan dagu pada Natya dan Panji yang sibuk mengeluarkan oleh-oleh dari tas dan kantong bundanya.
“Syukurlah” Kalimat Risma mengambang, dia merasa asing dengan nada suaranya sendiri,
 se-asing perasaannya pada senyum Bima.

***
“Enak, waktu Bunda pergi kita makan di rumah makan terus” 
Celoteh Natya menyebutkan beberapa nama rumah makan yang menyajikan menu sea food dan bakso kesukaannya.

“Masak sih, pulang sekolah ngapain?” 
tanya Risma menggoda Panji yang biasanya langsung mencari Bundanya tiap pulang sekolah.

“Ikut Ayah ke kantor, enak...game-nya macam-macam” 
Jelas Panji yang hobby nge-game.

“Iya, aku disana liat foto-foto hewan peliharaannya Tante Maya, terus diajarin nggambar sama bikin cerita. Tante Maya punya hewan banyak lho Bun, ada kucing, kelinci, burung” Celoteh Natya

“Oh, ya...Asyik sekali” 
Kata Risma sambil mengerling pada Bima yang nampak berusaha berkonsentrasi pada buku yang dibacanya.

“Bunda kangen sama Natya dan Panji, kangen nggak sama Bunda?” 
tanya Risma sambil memegang tangan kedua buah hatinya
“Kangeeen....” keduanya menjawab kompak sambil menghambur memeluk bunda-nya

***
“Siapa dia?” tanya Risma malam harinya setelah menidurkan Natya dan Panji

“Dia siapa?” tanya Bima

“Tante Maya” Ucap Risma menggantung

“Anak baru” Jawab Bima hendak merebahkan badan, menjelaskan pada istrinya yang mengenal hampir seluruh temannya, sama seperti dirinya yang mengenal (minimal dari cerita Risma) tentang orang-orang yang bergaul dengan istrinya.

“Cantik?” tanya Risma lagi

“ Kok nanyanya gitu?” Bima urung merebahkan tubuhnya

“Jawab saja.” Kata Risma tersenyum menggoda

“Lumayan” Jawab Bima pendek

“Cantik bunda atau dia?” kejar Risma


“Bunda, cerita yang lain saja” Bima tak mau berpanjang-panjang membahasnya

“Bunda tidak akan tidur kalau Ayah belum cerita”, kali ini Risma dengan wajah serius. 

Dia sangat mengenal suaminya, perubahan ekspresi, cara menatap dan bertutur Bima sejak kedatangannya tadi membuatnya berkesimpulan “Ada sesuatu yang terjadi”

“Bunda ingin ayah menceritakan apa?” Bima mengalah, karena dia juga sangat mengenal keras hati istrinya.

“Tante Maya” Ucap Risma datar.

Mhm....Bima menarik nafas panjang, kemudian mulai bercerita.

“Dia anak baru di kantor, masuk awal bulan ini, beda divisi. Waktu anak-anak ikut ayah ke kantor, Natya main bareng dia, Ayah tak terlalu memperhatikan apa saja yang dibicarakan. Bunda sudah mendengar ceritanya sendiri tadi, sepertinya dia mengajarkan Natya banyak hal, tapi ya sudah....hanya itu.” Bima nampak lega setelah mengatakan itu.

“Ayah tidak cerita kalau ada anak baru“ Risma bertanya pelan
“Bunda sibuk mempersiapkan keberangkatan bunda kemarin, dan itu bukan hal yang penting untuk diceritakan “ Jelas Bima

“Sekarang jadi penting, Ayah suka ya sama dia” Risma tersenyum tipis

“Suka bagaimana? Bunda ada-ada saja !” Bima mulai menaikkan nada bicaranya

“Baiklah, bunda ganti pilihan katanya...bukan suka, tapi bersimpati...waktu Ayah bercerita tadi, ada kerlip di mata Ayah, kerlip yang tak pernah bunda lihat ketika ayah menceritakan tentang teman-teman ayah yang lain” 
Risma berkata panjang dan terus-terang, sesuatu yang selalu mereka berdua lakukan selam menjalin rumah tangga. Berterus terang.

Bima memejamkan matanya sebelum menjawab, sepertinya sedang mempertimbangkan pilihan kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya. Mngkin juga untuk menghindari Risma melihat kerlipan lain di matanya.

“Ayah merindukan bunda, satu pekan waktu yang sangat lama buat Ayah seorang diri menemani anak-anak.  Ayah merasa agak lega ketika ada orang lain yang memperhatikan anak-anak. Kebetulan saja orang itu Maya, anak baru yang belum sempat Ayah ceritakan pada Bunda” 
Bima menjawab sambil merebahkan badannya, mengambil posisi tidur menutup pembicaraan

“Baiklah, selamat tidur sayang” 
Risma mengalah, menghentikan pembicaraan, mengecup pipi suaminya dan tidur dalam pelukan suaminya, meski lama tak bisa juga matanya terpejam...dan dia tahu Bima pun hanya memejamkan mata namun tak kunjung tidur sampai menjelang tengah malam.  Risma semakin khawatir ada sesuatu yang telah terjadi.

***
Beberapa hari setelah kepulangannya, Risma masih belum tenang. Entah kenapa, dia merasa  Bima berlaku tidak biasa padanya. Cara bima menatapnya, berbicara padanya, dan menyentuhnya. Sebenarnya perubahan sikap Bima tidak menjadi lebih buruk, tetapi bahkan menjadi lebih baik.  Bima yang tidak biasa menunjukkan sikap romantis pada Risma di depan umum, akhir-akhir ini suka menggenggam tangan Risma ketika mereka berjalan-jalan dengan anak-anak.  Mengelus lembut kepala istrinya ketika makan bersama di rumah makan, hal-hal kecil yang biasanya hanya dilakukan Bima jika mereka hanya berdua saja. 
Ini tak membuat Risma bahagia, justru membuatnya curiga.  Menurut artikel yang pernah dibacanya, para lelaki akan bersikap lebih mesra kepada istrinya ketika dia berselingkuh, untuk menutupi rasa bersalah yang menderanya dan menghilangkan kecurigaan sang istri.

Risma merasa perlu membicarakan hal ini pada suaminya, ia tak ingin berlama-lama dalam kondisi hati yang penuh curiga, menduga yang tidak-tidak, khawatir berkepanjangan, apalagi dengan aktivitas suaminya yang  lebih dari sepuluh jam di tempat bekerja bertemu dengan sebuah nama yang sangat mengganggunya meskipun ia belum pernah bertemu langsung dengan pemilik nama itu “Tante Maya”.

“Mas, aku ingin bicarakan sesuatu”
 Risma memulai pembicaraan malam itu, ketika Natya dan Panji sudah lelap di kamar mereka masing-masing.  

Panggilan ‘Mas’ dan sebutan “Aku’ sudah cukup memberikan tanda buat Bima bahwa yang akan mereka bicarakan adalah sesuatu yang serius.

“Sikap Mas berubah akhir-akhir ini” 
Risma membuka pembicaraan to the point, sesuatu yang selalu dilakukannya, salah satu yang membuat Bima menyukainya, sikap lugas tanpa tedheng aling-aling.

“Berubah bagaimana?” Bima menggantung kalimatnya

“Mas terlalu romantis”  tukas Risma

“Bukankah kau dulu sering protes karena aku tak pernah mau bergandeng tangan, sekarang malah tak suka kuajak romantis” tanya Bima hati-hati.

“Perubahan ini terlalu mendadak dan kebetulan.” Jawab Risma

“Mendadak bagaimana? Kita sudah 10 tahun menikah, keromantisan-mu menular padaku, dan terlalu kebetulan karena apa?” Bima bertanya membela diri

“Terlalu mendadak setelah Mas mengenal Maya, dan kebetulan aku bisa menebak lebih dulu kalau mas jatuh simpati padanya” Risma tak berani memilih kata jatuh cinta, membayangkan suaminya jatuh cinta pada perempuan lain sudah membuat hatinya perih.

“Menurut teori yang aku baca, sikap seperti mas itu tanda-tanda dari lelaki yang menyimpan wanita lain” Risma memelankan suaranya “Maaf, kalau kalimatku menyinggung Mas” sambungnya. Tak tertahan air matanya sudah mulai menggantung di pelupuk mata.

“Kamu baca dari mana tuh? Konsultasi psikologi ya?” Canda Bima mencoba mencairkan suasana.

“Aku serius Mas” rajuk Risma

“Apa yang ingin kau dengar dariku? Pengakuan seperti apa?baik, dengar ya pengakuanku !

Ya, aku berusaha menjadi teman  baik untuk Maya sebagai pendatang baru
Ya, dia anak baru yang bertype pekerja keras, membuatku teringat padamu .
Ya, aku sangat kesepian ketika kau pergi meski hanya sepekan.
Ya, aku kewalahan mendampingi anak-anak seorang diri.
Ya, aku sangat senang dan merasa punya teman ketika ada yang memperhatikan anak-anak.
Ya,aku merasa tersanjung karena Maya memperhatikan anak-anak dan aku lebih dari perhatiannya kepada teman yang lain.
 Ya, aku bersimpati padanya.
Ya, aku teringat sikapmu yang lembut pada anak-anak ketika Maya sedang bermain dengan Natya.
Ya, aku sempat membandingkannya denganmu
Ya, aku pernah makan siang bersamanya, tapi tak cuma berdua, ada teman lain yang ikut serta
Ya, aku pernah mengantarkannya pulang sekali, hanya sekali dan aku tak turun dari mobil
Ya, aku merasa sangat bersalah setelahnya
Ya,aku sangat menyesal  “

Panjang Bima mengatakan itu dengan hati-hati, suara bergetar dan mata berkaca memandang lekat Risma.

Risma mendengarnya dengan hati-hati, air matanya luruh setiap akhir kalimat Bima. Hatinya perih, namun juga lega. Lega karena Bima sudah menceritakannya dan ia sanggup mendengarnya.

“Ayah ingin tahu perasaan bunda?” tanyanya berbisik

Bima mengangguk, menyerahkan semua pada Istrinya

“Bunda seperti pemilik rumah yang dikunjungi pencuri di siang hari, tapi pencuri  itu tak mengambil apa-apa, hanya melihat-lihat saja.” Jawabnya khawatir

“Ayah mencintai bunda” Jawab Bima sambil merengkuh Risma

Dalam rengkuh suaminya, Risma membisikkan puisi di teilnga Bisma

Sungguh,
ku mencintaimu
Seandainya bisa
kuingin genggam hatimu
erat, kuat
tapi
hati seperti pasir
jika digenggam terlalu kuat
akan lepas mengalir
dari sela jemari
Sungguh,
aku takut kehilanganmu
seandainya bisa
kan ku simpan rapat cintamu
tapi
cinta seperti air
jika didekap panas
akan menguap
meninggalkan pendekapnya
Sungguh
aku dalam kebimbangan
aku dalam kekhawatiran
aku dalam ketakutan









Jumat, 05 Oktober 2012

Karena Teman Adalah Modal



Pengen punya bisnis tapi gak punya uang?  Gak usah bingung dan tak perlu cemas.
Jika ada seribu jalan menuju Roma, ada seribu satu jalan untuk menjadi pengusaha.
Modal yang paling utama untuk memulai usaha adalah niat yang kuat, Bismillah dengan menyebut nama Allah kita melakukan sesuatu yang baik dan halal.  

Ketika niat sudah terpancang dengan kuat, mulailah membuat daftar teman yang bisa kita jadikan mitra usaha kita.  

Dua kategori penting untuk memetakan teman kita adalah :
Teman- teman yang punya produk
Buat daftar ‘barang dagangan kita’ yang kita dapat dari teman-teman kita sendiri. Misalnya ada yang bisa membuat barang dari hasil merajut, pandai membuat makanan kecil, bisa menjahit atau hal lain.  Kita datangi saja mereka, kita tanyakan spesifikasi barang yang bisa mereka buat, berapa lama waktu pembuatannya dan berapa harganya. Itu kita jadikan modal dagangan kita, syukur-syukur ada contoh barang yang bisa kita pinjam untuk menawarkan dagangan.  Semakin banyak jenis barang dari teman yang berbeda, akan semakin baik.

Teman-teman dengan kebutuhan spesifik

Kenali teman yang lain yang akan jadi sasaran pasar kita. Siapa saja teman yang biasa menggelar acara yang butuh camilan sebagai sajiannya,  atau siapa yang membutuhkan asesoris rajutan misal untuk souvenir pernikahan.  Yang pasti cari peluang  memperluas pangsa pasar kita dengan mengenali kebutuhan teman-teman kita sendiri.

Jika produk dan pasar sudah terpetakan, mulailah kita menghubungkan antara konsumen dan produsen.  Manfaatkan segala sarana yang kita punya, bisa direct selling (menawarkan langsung), melalui facebook, BBM atau cara-cara yang lain. Jika ada konsumen yang memesan, mintalah DP sebagai tanda jadi, gunakan DP itu untuk memesan kepada produsen, kita pantau pesanan agar tepat waktu dan tepat kebutuhan.

Satu hal yang penting disini adalah ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan, jangan sampai pelanggan dikecewakan dengan keterlambatan.  Dengan ketepatan waktu, kita akan dipercaya baik oleh teman produsen maupun oleh teman pelanggan. Karena teman adalah modal, percaya deh !

Satu lagi, kalau cara ini berhasil...jangan lupa menuliskan pengalamannya sebagai bahan belajar untuk teman yang lain.

Postingan ini diikutkan GiveAway DUTA BUKU supported By Indscript Creative dan Yes24.com
http://un2triwidana.blogspot.com/2012/10/giveaway-duta-buku-kamis-minggu-i.html

 

Jumat, 28 September 2012

ALIS



Lagi pengen cerita soal alis niiih.... 

Dari link ini dijelaskan bahwa alis mata pada sebagian besar mamalia berupa bagian yang sedikit menonjol sedikit di atas kedua belah kelopak mata dan mempunyai sedikit rambut halus. 

Bentuk alis mata pada manusia biasanya bagaikan bulan sabit dengan lengkungan agak tajam di bagian pelipis. Tidak jarang juga dijumpai orang dengan alis mata bagian kiri dan bagian kanan yang bersambung menjadi satu.

Bentuk alis mata dan arah tumbuh rambut pada alis dimaksudkan agar keringat atau air bisa mengalir ke kening dan jatuh ke pipi, atau ke arah pipi melewati puncak hidung. Bentuk tulang dahi pada bagian alis mata juga ikut melindungi mata dari tetesan keringat dan air.

Alis mata juga berfungsi sebagai penahan berbagai macam kotoran yang bisa memasuki mata, seperti pasir, debu, dan ketombe. Selain itu rambut pada alis mata juga menambah kepekaan pada kulit untuk merasakan objek asing yang berada di dekat mata, misalnya serangga yang hendak masuk ke mata.

Dalam komunikasi antarmanusia, alis mata merupakan salah satu alat untuk mengungkapkan berbagai ekspresi, seperti takjub, marah, bingung, atau tidak paham.

Ehm....

Ada yang mengatakan bahwa kepribadian orang dapat dilihat dari alis matanya.  

Orang dengan alis tebal dan besar biasanya bersemangat kuat, aktif, agresif dan secara assertive mendapatkan apa yang diinginkannya.

Orang dengan alis halus dan tipis biasanya sensitif dan introspektif

Orang dengan alis memuncak di tengah biasanya inovatif, independen dan ingin selalu menjadi yang pertama dalam segala sesuatu yang dilakukan

Orang dengan alis mata seperti bulan sabit biasanya membuat keputusan secara intuitif dan senang bekerja dengan orang lain.

Sumber di sini

Apa iya siiih?
Lha sekarang kan udah ada pensil alis, tato alis, salon alis.  Ada berbagai cara untuk membentuk alis, dari pinsil sampe tanam alis.  Apakah dengan membentuk alis memuncak di tengah otomatis orang jadi independen dan nomor satu

Cari-cari tahu yuk hukumnya 'memanipulasi' alis..di sini

Jadi, yaaah...baiklah alisku akan kubiarkan seperti ini saja, asli anugerah Illahi
Penanda asli anak ibuku (secara alisku mirip sangat dengan alis ibu)

Pssst, pengen tahu kenapa tiba-tiba aku  nulis soal alis.

Semalam, menjelang tidur, Abbad si bontot memeluk dan mencium dahiku ...lalu menarik sedikit kepalanya ke belakang sambil tetap memegang kedua pipiku dan bertanya dengan ekspresi sangaaat heran

"Ibu belum punya alis?"

#Baladawanitaberalistipis#

Gambar dari sini 

 

Senin, 17 September 2012

KANGEN YANG ANEH

Ditinggal pergi kerja Bapaknya sebenarnya hal yang biasa buat anak-anak.
Setiap akan berangkat kerja, suamiku akan berpamitan kepada anak-anak.  "Bapak kerja ke.....(dia sebutkan tempat kerjanya), selama ......(dia sebutkan kapan dia berangkat dan kapan akan pulang). 

Pesan suamiku untuk anak-anak adalah "Jaga Ibu ya...."
Kalimat yang sangat bersayap untuk anak-anak ya....multitafsir. 
Tapi selama dan sejauh ini anak-anak menerjemahkan kalimat dengan 'menjaga ibu' dengan baik- menurutku.

Mereka paham ibunya single fighter sementara Bapak pergi.  Mereka membantu ibunya dengan versi masing-masing.  Persiapan sekolah Sakha dan Akhsan seperti menyiapkan buku, baju ganti (yang memang sehari-hari sudah mereka siapkan sendiri) dilakukan lebih bersegera.

Akhsan menambah bantuan dengan menyiapkan bekal minum sendiri, Sakha membantu mengangkat jemuran.  Habis maghrib Sakha dan Akhsan tertib bergantian mengajak Abbad bermain.

Ketika aku mendampingi Sakha mengaji dan belajar, Akhsan mengajak Abbad main lompat guling di kamar.  Sebaliknya ketika giliran Akhsan mengaji dan belajar, Sakha mengajak Abbad menggambar dan mewarnai. 

Berantem sih tetap terjadi, tetapi ketika aku terdiam di tengah mereka...Sakha dan Akhsan cepat-cepat rujuk menyelesaikan perkelahian.

 Pernah suatu ketika, mereka bertiga sudah mandi rapi wangi, sedang makan saat kutinggal mandi.  Keluar dari kamar mandi, Sakha dan Akhsan berurai air mata. Rupanya selama aku mandi, padahal mandiku tak lama...paling cepat dibandingkan seluruh anggota keluarga, Sakha dan Akhsan berantem hebat.  Begitu aku keluar dari kamar mandi mereka menyusut air mata dan memelukku, menghentikan perkelahian.

Beberapa malam yang lalu, di malam ke-5 si Bapak pergi kerja, aku duduk di kamar sambil merajut assesoris pesanan teman Sakha.  Tiga kesayanganku di ruang tengah, Sakha dan Akhsan main catur, Abbad mewarnai...kucuri dengar perbincangan mereka.

Sakha: " San, Akhsan kangen gak sama Bapak ?"
Akhsan : "Enggak....Kakak kangen?"
Sakha : "Enggak....cuma pengen lihat wajahnya"

Akhsan : " Aku juga iya, kalo pas Bapak pergi aku pengen lihat wajahnya...kalo Bapak di rumah aku nggak pengen lihat wajahnya."
Sakha : "Aku juga gitu"

Akhsan : "Kita ini aneh ya Kak...."

Di kamar aku tersenyum, dan berasa kangen juga sama Bapak, yang selalu membuat kami mengalami kangen yang aneh...hehehe...



Kamis, 13 September 2012

KUDA !!!!!

Suatu sore, pulang sekolah, berhenti di lampu merah Jogoragan-arah Kotagede. Ibu dan Abbad berhenti di sebelah dokar (kereta kuda)

Abbad : " Ibu, itu kudanya perempuan" katanya bersemangat

Ibu melirik ke celah kaki belakang kuda
Ibu   : "Iya betul....Abbad tahu ya !" sambil berpikir, 'hebat sekali suamiku sudah bisa mengajarkan kepada Abbad cara membedakan kuda laki-laki dan perempuan' - karena aku belum pernah memberitahu Abbad


Sore yang lain, sepulang sekolah, Ibu dan Abbad menyusuri jalanan Kotagede, menyalip kereta kuda

Abbad : "Ibu, kuda yang coklat itu perempuan" tetap dengan semangat

Ibu tidak punya kesempatan melirik si kuda
Ibu        : " Kok Abbad tahu kalo kudanya perempuan..? " Ibu penasaran
Abbad  :  " Lha itu rambutnya panjang !"


Jangan Asem